Bloody Marriage Contract

Bloody Marriage Contract
Eps. 36 Menahan Haus


__ADS_3

Judith memegang tangan ibunya yang sedingin es. Ia memeluk tubuh ibunya yang sudah kaku.


“Ibu... kenapa kau begitu cepat pergi dariku ?” Judith mulai menitikkan air mata kesedihan. Ia merasakan duka yang mendalam, betapa tidak. Dia bahkan tidak sempat bicara dengan ibunya di ujung usianya. “Padahal dokter bilang tadi Ibu masih bernafas tapi kenapa saat aku ke sini hanya bisa melihat tubuh ibu yang sudah dingin.” tangisnya semakin menjadi.


“Ibu... ibu... buka mata mu. Ini tidak benar kan ibu ?” Judith masih berharap ibunya membuka matanya kembali. Ia menyentuh lembut pipi ibunya dan menciumnya untuk terakhir kalinya.


“Nona tolong minggir sebentar.” ucap petugas jenazah yang masuk ke ruangan untuk mengambil jenazah dan membawanya ke ruang jenazah.


“Jangan bawa ibuku pergi.” Judith memegang ibunya tak rela jenazahnya di bawa pergi. Namun petugas jenazah tetap membawanya keluar dari ruangan.


“Ibu...” berlari mengikuti ke mana ibunya di bawa pergi.


Vaska yang sedari tadi berada di belakang Judith dan hanya melihat saja ikut merasakan apa yang dirasakan gadis kecilnya saat ini.

__ADS_1


“Judith... !” Vaska menarik tangan Judith, menahan gadis itu agar tidak keluar dari ruangan. “Tuan tolong lepaskan aku.” ucapnya keras kepala masih ingin mengejar ibunya. “Judith tenanglah.” Vaska meraih gadis itu dalam pelukannya agar tak bisa bergerak lagi.


Judith menumpahkan semua kesedihannya di sana. Ia pun memeluk erat Vaska karena hanya dia yang saat ini bersama dirinya.


“Lepaskan semua kesedihan mu. menangislah sampai kau merasa tenang.” Vaska mengusap rambut yang Judith. Ada perasaan sedih yang menelisik ke hatinya mendengar tangisan Judith yang menyayat hati. Ia pun mengajak Judith berjalan menuju ke mobil.


“Ini pakai lah untuk menghapus air matamu.” Vaska mengeluarkan sapu tangan putih dari salah satu saku bajunya saat sudah berada di mobil.


“Terimakasih tuan.” Judith mengambilnya dan memakainya untuk menghapus air matanya.


“Kau sedang kesusahan tak apa jika kau pulang lebih awal.” menoleh ke samping kanan menatap Judith yang matanya bengkak. “Selama tiga hari ke depan tak apa jika kau istirahat di rumah.” Vaska menambahkan.


“Terimakasih tuan Vaska.” tersenyum kecil di tengah rasa sedihnya. Ia pun terpikirkan bagaimana dengan nanti malam, apakah ia perlu ke rumah Vaska ?

__ADS_1


“Tuan bagaimana dengan mu ?Maksud ku nanti malam saat kau haus ?”


“Kau tak perlu datang menemui kamu malam ini dan tiga hari kedepan.”


“Lalu bagaimana, apa tuan bisa menahannya ?” tanya Judith terlihat mengkhawatirkan kondisi Vaska meski ia sendiri sedang dalam kesusahan.


“Masalah itu kau tenang saja. Aku akan mencoba menahannya dan jika tidak bisa, aku akan datang pada mu.” jawab Vaska meyakinkan di depan Judith meski ia sendiri tidak mengetahuinya bisa menahannya atau tidak. Karena selama ini dia tak pernah berpuasa darah dalam waktu yang cukup lama.


Mobil berhenti di depan rumah Judith.


“Terimakasih tuan Vaska sudah menemani dan mengantarku sampai ke rumah.” ucapnya setelah turun dari mobil.


Vaska berlalu dan kembali ke kantor.

__ADS_1


Malam harinya, Judith masih terlihat sedih setelah sore tadi pergi ke makam tempat ibunya dikebumikan. Hingga malam hari gadis itu masih terjaga di kamarnya dan teringat pada semua kenangan bersama ibunya.


Di lain tempat di rumah Vaska terlihat pria itu duduk dengan tersiksa.


__ADS_2