Bloody Marriage Contract

Bloody Marriage Contract
Eps. 147 Kondisi Memburuk


__ADS_3

Dua hari berlalu, dua pasien pertama Vaska yang datang ke tempat prakteknya mengaku cocok berobat di sana dan Mereka pun kembali menceritakan pengalamannya berubah ke sana pada yang lainnya.


Dalam waktu dua hari saja tempat praktek pengobatan Vaska terlihat ramai. Dalam sehari ada sekitar kurang lebih 20 pasien yang datang berobat ke sana.


“Silahkan di tunggu sebentar.” Judith memberikan kartu periksa pada pasien yang barusan daftar lalu memintanya untuk menunggu di ruang tunggu sesuai dengan nomor antrian.


Di dalam ruang praktik terlihat Vaska yang sedang memeriksa seorang pasien wanita. Pasien itu mengeluhkan jika dirinya mengalami keputihan hebat yang blender hingga berwarna hijau dan gatal sekali.


“Ini nyonya obat untuk keputihan anda. Pil ini di masukkan ke organ intim pada malam hari sebelum tidur.” Vaska memberikan obat pembasmi jamur. “Dan ini vitamin juga antibiotiknya di minum sehari tiga kali.” memberikan obat juga suplemen untuk mengatasi masalah keputihan pasien yang mengganggu.


“Terima kasih dokter.” pasien tadi menerima obatnya kemudian segera keluar dari sana.

__ADS_1


“Judith kemari sebentar.” Vaska memanggil gadisnya setelah kasihan wanita tadi keluar dari ruangannya. “Ya sayang, apa kau perlu sesuatu atau yang lainnya ?” Judith masuk dan menghampiri Vaska.


“Tidak, bukan itu. Di luar masih


ada berapa pasien ?” Vaska melepas maskernya sebentar agar bisa bernafas dengan leluasa. “Masih ada tiga orang pasien yang menunggu.” Judith mengingat jumlah pasien yang masih mengantri di luar dan memberitahukannya.


“Kau tutup sekarang agar tak ada pasien lagi yang datang. Kita akan beristirahat setelah memeriksa tiga pasien berikutnya. Lalu akan buka kembali dalam satu jam ke depan. “Ya, sayang.” Judith kembali ke luar.


“Terimakasih dokter Vaska.” ucap pasien terakhir setelah pria itu selesai memeriksanya. “Semoga lekas sembuh tuan.” Vaska ikut berjalan keluar dari praktek pengobatannya kemudian menghampiri Judith yang sedang beberes.


“Sebaiknya kita istirahat dulu dan tinggalkan pekerjaan ini sebentar.” Vaska melepas masker dan sarung tangannya. “Ya, tentu.” Judith berdiri dan mengikuti pria itu berjalan keluar dari tempat praktek lalu masuk ke rumah untuk makan siang.

__ADS_1


Sementara itu di rumah Kevin.


Anak lelaki itu masih belum masuk sekolah selama tiga hari. Kondisinya semakin memburuk. Kini bintik merah yang ada di seluruh tubuhnya terlihat berisi air.


Selain itu ia juga merasakan gerah setiap harinya hingga pakaian yang di pakainya basah oleh keringatnya dan dalam sehari bisa ganti 5 sampai 6 kali baju.


“Ibu sudah memberimu obat pereda panas juga obat alergi. Tapi kenapa sakit mu bukannya sembuh tapi terlihat makin parah ?” sang ibu masuk ke kamar Kevin untuk melihat kondisinya. “Sekarang aku juga merasa sedikit lemas ibu.” Kevin menyampaikan keluhan lainnya yang ia rasakan pada ibunya.


“Coba saja bawa Kevin ke dokter baru yang ada di tempat ini, Grace.” tiba-tiba seorang wanita yang juga merupakan seorang ibu-ibu dan tetangga sebelahnya masuk ke kamar Kevin.


Ia menjenguk anak lelaki itu setelah mendapatkan gambar dari putrinya yang mengatakan jika Kevin saat ini sakit dan sudah tiga hari ini tidak masuk sekolah.

__ADS_1


“Ya nanti siang aku akan mencoba membawanya ke sana.” timpal Grace, ibunya Kevin yang sebelumnya juga mendapatkan saran yang sama dari beberapa tetangganya yang sudah pergi ke dokter itu dan sakit mereka sembuh.


__ADS_2