
Keesokan harinya Judith dan Vaska sudah sehat seperti biasanya dan mereka kembali membuka tempat praktek.
Ada seorang pasien yang datang dengan muka yang sedih.
“Aku mau periksa.” seorang pasien menuju ke loket pendaftaran dan bertemu Judith. “Ini tuan kartu periksa dan nomor antrian anda.” Judith menyerahkan dua kartu pada pasien. “Ku harap dokter Vaska bisa mengobati aku, nona. Ada pasien dengan penyakit yang sama sepertiku sudah meninggal.” pasien dengan tubuh kurus itu bercerita.
“Ya tuan, dokter Vaska akan membantu anda.” jawab Judith singkat dan miris mendengar apa yang diceritakan oleh pasien tadi.
Tak lama kemudian Vaska memanggil pasien tersebut.
“Silahkan masuk tuan.” Vaska mempersilahkan pasien untuk masuk dan berbaring di tempat tidur. “Baik, dokter Vaska.” pasien segera naik ke tempat tidur dan berbaring di sana.
“Astaga kondisi pasien ini parah sekali. Dia harus mendapatkan perawatan intens sebelum terlambat.” Vaska melihat tubuh pasien yang kurus dengan tulang di beberapa bagian tubuh yang terlihat menonjol.
__ADS_1
“Tuan anda harus ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan segera karena kondisi anda sudah pada tahap ini.” Vaska menjelaskan kondisi pasien yang parah.
“Dokter aku tidak mau pergi ke rumah sakit. Jika boleh aku dirawat di sini saja.” pasien menolak dan malah melakukan negosiasi dengan Vaska.
“Maaf tuan, karena keterbatasan tempat dan tenaga medis aku tak bisa merawat anda di sini.” Vaska menolak dengan tegas karena tak ada ruang inap pasien di tempatnya.
“Bagaimana jika dokter merawat ku di rumah saja ? Jika di rumah sakit aksesnya susah dan jauh juga tak ada keluarga yang menunggu di sana.” pasien bersikeras tak mau pergi ke rumah sakit dan melakukan negosiasi ulang.
“Aku bisa merawat anda di rumah, tapi untuk penggantian infus dan lain-lainnya aku akan menyerahkan kepada keluarga anda. Dan sehari sekali aku akan memeriksa kondisi anda dengan waktu yang tak bisa ku tentukan karena di sini juga banyak pasien.” Vaska menjelaskan kondisinya di praktek pengobatannya yang tak bisa ia tinggal lama-lama.
Karena hasil itu memang membutuhkan penanganan cepat maka dia pun segera pergi ke pasien itu sendiri.
“Paul... Jeremy dan Bean meninggal barusan.” ucap istri pasien menghampiri suaminya saat mereka sampai di rumah. “Apa ?” ucap Paul dan Vaska bersamaan karena terkejut dengan bertambahnya jumlah pasien yang meninggal.
__ADS_1
Melihat pasien yang terlihat down mendengar tetangganya meninggal dunia, Vaska segera bertindak sebelum itu mempengaruhi emosi pasien.
“Tuan sebaiknya anda segera di rawat sekarang. Jangan khawatir anda tak akan bernasib sama dengan tetangga.” Vaska mendesak pasien agar segera menunjukkan tempat di mana ia harus merawatnya.
“Baik dokter, sebelah sini.” Paul masuk kamarnya dan Vaska segera mengikutinya masuk.
Pria itu mengeluarkan semua perlengkapan dan peralatan yang dia bawa dan juga memasang infus serta menyuntikkan vitamin dosis tinggi.
“Nyonya berikan obat ini pada pasien setiap lima jam sekali dan jangan sampai terlambat.” Vaska memberikan pil pada istri pasien. “Ganti infusnya segera jika habis.” menyerahkan beberapa cairan infus.
“Terima kasih dokter.” ucap sepasang suami istri itu bersamaan saat Vaska berpamitan pada mereka.
Vaska kembali ke tempat praktek pengobatannya. Ia pun memanggil kembali pasiennya sudah menunggu dirinya karena layanan home service.
__ADS_1
“Silahkan masuk, tuan.” Vaska mempersilahkan masuk kembali pasien berikutnya. “Baik, dokter.” seorang pasien masuk dan segera berpaling di tempat tidur.
Vaska kembali terkejut melihat pasien yang datang kondisinya sama dengan pasien yang minta dirawat inap di rumah tadi.