Bloody Marriage Contract

Bloody Marriage Contract
Eps. 148 Gigitan Vampir


__ADS_3

Siang harinya setelah jam makan siang, terlihat ibunya Kevin sedang bersiap. Ia berganti baju dan juga mengganti baju Kevin.


“Ibu... aku tak ingin pergi ke dokter. Bagaimana jika aku di rumah saja ?” Kevin merasa enggan beranjak dari tempat tidurnya. Bukannya ia tidak mau pergi ke rumah dokter untuk periksa, namun karena ia merasa lemas saja dan bawaannya membuatnya ingin tidur seharian.


“Kau harus ke dokter, nak. Biar dokter memeriksa mu apa penyakitmu ini dan bisa memberimu obat yang tepat.” sang ibu bersih keras dan menolak permintaan Kevin. “Sekarang ayo kita berangkat.” tambah wanita itu menghampiri Kevin kemudian membantunya berdiri dan turun dari tempat tidur.


Dengan terpaksa, Kevin pun mengikuti Ibunya dan berjalan dengan pelan.


“Kevin kau sakit ?” ucap tetangga lainnya saat tak sengaja berjalan melewati rumah Kevin dan melihat anak itu pucat dengan wajah yang merah dan berbintik-bintik. “Ya, nyonya.” jawabnya singkat.


Tetangga tadi tidak segera berjalan dan berhenti sedikit agak lama menatap Kevin.


“Kevin... aku perhatikan sakit. mu mirip dengan sakit yang diderita oleh Albert beberapa waktu yang lalu. Dia juga mengalami gejala yang sama sepertimu namun saat ini bintik merah di tubuhnya sudah mengering meskipun tubuhnya masih panas hingga sekarang.” jelas wanita itu menceritakan anak tetangga rumahnya yang juga mengalami sakit yang mirip dengan Kevin.

__ADS_1


“Ya, Carol aku permisi dulu untuk memeriksakan Kevin ke dokter.” ucap Grace meminta izin karena tak ingin putranya bertambah parah Sakitnya terkena udara di luar rumah.


“Jadi Albert juga sakit seperti ku ? Pantas saja dia tak terlihat selama satu minggu ini.” Kevin baru mengetahui jika temannya yang satu sekolahan dan beda kelas dengan dirinya itu sakit lebih dulu.


Kevin dan ibunya melanjutkan perjalanan mereka menuju ke tempat praktek Vaska berada.


“Sepertinya benar di sini tempatnya.” Grace berhenti di depan sebuah rumah besar di mana di depannya ada plang bertuliskan nama seorang dokter, juga terlihat dari luar beberapa orang yang sedang mengantri di ruang tunggu.


Grace memberitahukan gejala juga keluhan yang diderita oleh Kevin pada Judith. Dan gadis itu mencatatnya di catatan pasien.


“Silahkan di tunggu dulu, nyonya.” Judith menyerahkan data pasien itu pada Grace dan memintanya untuk duduk menunggu bersama pasien lain di ruang tunggu.


Ada sekitar 10 orang yang sedang duduk di ruang tunggu menanti panggilan antrian. Satu per satu pasien itu masuk ke dalam setelah Judith memanggilnya.

__ADS_1


30 menit kemudian tiba giliran Kevin dipanggil.


“Nomor antrian 23, silahkan masuk ke dalam.” Judith memanggil nomor antrian setelah seorang pasien keluar dari ruangan. “Ayo, Kevin.” Grace berdiri dan berjalan bersama Kevin masuk ke ruang periksa.


“Silahkan berbaring.” Vaska meminta Kevin untuk segera berbaring setelah ia membaca keluhan pasien yang di tulis oleh Judith. “Bagaimana rasanya sekarang ?” Vaska menanyakan keluhan lain pada pasien.


“Rasanya suhu tubuhku tetap panas meskipun aku sudah meminum obat pereda panas dokter. Selain itu aku merasakan pusing dan lemas selain rasa gatal di sekujur tubuh.” Kevin Jelaskan apa yang dirasakannya saat ini.


“Baik aku akan memeriksanya.” Vaska melakukan pemeriksaan menyeluruh. Dia pun terkejut saat melihat ujung jari Kevin. “Luka ini seperti gigitan yang hampir mirip dengan gigitan vampir.” Vaska menaruh kembali tangan Kevin.


“Luka apa di jari tangan ini ?” Vaska menunjuk luka di jari tangan Kevin. “Sebenarnya itu bukan luka dokter. Aku bermain burung saat itu dan tiba-tiba saja burung itu mematuk jari tanganku hingga berdarah.” jelasnya.


“Burung ?” Vaska sangat terkejut mendengar penjelasan dari pasiennya.

__ADS_1


__ADS_2