Di Balik Cadar Persitku

Di Balik Cadar Persitku
Akhirnya


__ADS_3

Hampir satu jam berlalu sejak Al ikut dibawa masuk kedalam ruangan UGD. Membuat Sherly sedikit pun tidak tenang. Pikiran pikiran negatif nya selalu menghantuinya. Sungguh saat ini Sherly sangat takut. Takut jika suaminya kembali koma.


Sedangkan Lea juga tak bisa berkata kata lagi. Ia hanya menangis dalam diam. Bingung harus bersikap bagaimana sekarang ini. Sejak tadi ia juga bolak balik melihat anak serta mertuanya. Yang sama sama sedang di tangani oleh dokter di dalam ruangan tersebut.


Rayen pun sama halnya dengan Lea. Mereka berdua seperti orang yang yang diombang ambingkan oleh keadaan. Kedua orang yang saat ini berada di ruangan UGD adalah orang orang yang sangat penting dan sangat berarti dalam hidupnya.


Rayen pun sampai menyalahkan dirinya sendiri juga. Karena tak cepat tanggap, dan malah terlihat bodoh akan kondisi putranya.


Andai saja ia cepat datang dan mengambil alih Mamanya dari gendongan Al. Mungkin putranya tidak akan kembali masuk ruangan UGD itu. Rayen terus merutuki kebodohan dirinya. Yang sebagai orang tua malah seperti tak paham keadaan.


Sebenarnya bukan masalah tak paham dan tak memahami. Tapi, ini semua terjadi juga di luar kendali dirinya. Perasaan panik saat melihat sang Oma tak sadarkan diri. Membuat Al langsung cepat membopongnya.


Ia bahkan tak memikirkan kembali kondisi dirinya yang memang belum bisa melakukan aktifitas berat. Namun, rasa khawatir terhadap sang Oma. Tak membuat Al berpikir panjang. Yang ada dalam benaknya hanyalah Oma nya.


Begitu pun dengan Rayen. Yang ikut panik saat melihat Mamanya tak sadarkan diri dalam gendongan putranya. Rayen juga tak sempat berpikir untuk mengambil alih tubuh Mamanya yang lemah itu dari gendongan Al. Karena ia pun ikut melangkah keluar saja . Ketika Al dengan buru buru memboyong tubuh Oma nya.


Ceklek...

__ADS_1


Pintu ruangan UGD tempat Al di tangani kini terbuka. Terlihat seorang dokter laki laki paruh baya baru saja keluar dengan masih memakai seragam kebanggaan nya.


"Bagaimana keadaan suami saya dokter??? ".Tanya Sherly cepat. Karena ia sungguh nampak tidak tenang sama sekali.


Dokter itu menatap dengan tatapan bingungnya. Karena ia adalah termasuk dokter baru di rumah sakit ini. Karena selama ini ia ditugaskan di pelosok daerah. Dan baru kembali beberapa minggu yang lalu. Dan langsung pindah kerumah sakit besar keluarga Bagaskara.


Ia bingung karena setahu dia Sherly adalah dokter juga di rumah sakit ini. Tapi yang lebih membuat ia bingung lagi. Tadi Sherly malah menanyakan keadaan pasien nya yang baru ia ketahui juga jika pasien nya barusan adalah Pemimpin di rumah sakit tempatnya bekerja.


"Dokter.... Bagaimana keadaan suami saya??? ".Ulang Sherly tak sabaran.


"Iya dokter Gunawan. Pasien yang ada di ruang UGD yang anda tangani tadi adalah pemilik rumah sakit ini. Dan sekaligus suami saya".Sahut Sherly sedikit kesal.


" Maaf Dok eh Nyonya Sherly saya belum tahu jika...


Sherly yang tak sabaran langsung meninggalkan dokter Gunawan begitu saja. Ia menerobos masuk sebelum Dokter Gunawan sempat menjelaskan keadaan Al.


Sampai di dalam Tiga orang perawat nampak ikut terkejut melihat Sherly masuk begitu saja. Sedangkan mereka baru saja akan membawa brankar Al keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


"Dokter Sherly tuan Al akan segera di pindahan ke ruang rawat. Maaf dok anda bisa menunggu di luar sebentar!! ".Ucap Seorang Perawat memberitahu.


" Bagaimana keadaan nya suster??? ".Tanya Sherly tegas.


" Alhamdulillah tuan Al baik baik saja. Tadi hanya perlu transfusi darah satu kantong. Dan lukanya juga sudah di jahit kembali karena jahitannya sedikit robek".


Sherly nampak menghela nafasnya lega. Setidaknya Al sudah melalui masa kritisnya. "Aku tahu kau sangat kuat bang".Batin Sherly sedikit menarik sudut bibirnya lega.


Sherly pun menurut saat suster menyuruh menunggu di luar. Agar mereka bisa bekerja dengan tenang. Dan mulai memindahkan brankar Al keruangan perawatan.


Lea dan Rayen yang melihat Al sudah di pindahkan keruangan rawat pun ikut lega. Setidaknya putranya baik baik saja . "Al sudah melewati masa kritisnya Sayang".Lirih Lea tersenyum sambil menitik kan air matanya.


" Iya sayang, Alhamdulillah. Sekarang tinggal Mama. Semoga Mama juga baik baik saja!!! ".Sahut Rayen yang juga ikut lega dan senang akan keadaan putranya saat ini.


Rayen dan Lea memutuskan untuk kembali menemani Papa Bagas. Karena Al sudah keluar dari UGD. Mereka pikir bisa menemui Al nanti saja. Sekarang mereka berdua ingin menguatkan Papa Bagas dulu. Karena Papa Bagas juga nampak begitu panik.


Hanya saja pria lanjut usia itu bisa menyembunyikan kesedihan serta kekhawatiran nya terhadap kondisi istrinya.

__ADS_1


__ADS_2