
Jam sudah menunjukkan pukul Lima sore. Tapi Sherly belum juga mendapatkan kabar apapun dari suaminya. Seharusnya Al sudah sampai di Airports Doha sejak delapan jam yang lalu. Namun, sampai sekarang ponsel Al masih tetap tidak bisa dihubungi sama sekali.
Beruntung hari ini Sherly memang tidak ada jadwal dinas. Ia hanya menghabiskan waktunya seharian di dalam asrama. "Baru di tinggal beberapa jam saja, rasanya sudah hampa begini".Guman Sherly sembari mendaratkan bokongnya di sofa empuk yang ada di ruang tamu.
Sesekali wanita cantik itu mengusap perutnya yang masih datar. Ia juga belum memeriksakan kandungannya. Karena hari ini ia sangat malas untuk beraktivitas.
Mungkin karena faktor kehamilan nya dan juga tidak ada suaminya di rumah. Membuat Sherly enggan untuk keluar rumah.
"Sayang, kamu lapar ya?. Maafkan Mommy ya. Mommy hampir saja lupa jika sekarang ada kamu di rahim Mommy. Mommy bahkan belum masak untuk makan kita".
Sherly memang sejak tadi siang sama sekali tidak selera untuk makan. Hanya sarapan bersama kedua mertuanya saat akan pergi ke Bandara dan itupun masih ada suaminya.
Ketika Sherly ingin beranjak kembali meninggal kan ruang tamu. Tiba tiba pintu rumahnya di ketuk dari luar.
Tok...
Tok...
__ADS_1
Tok...
Sherly pun mengerutkan keningnya. Karena ia juga tidak sedang menunggu seseorang. Apalagi menerima tamu di waktu suaminya tidak ada dirumah.
"Nona Sherly, ini mang ujang Nona".Teriak seorang laki laki dari arah luar.
Sherly pun langsung menuju arah pintu. Karena ia tahu siapa sosok pria yang ada di luar sana. Dia adalah mang ujang, sopir pribadi keluarga mertuanya. Untung saja ia masih memakai hijabnya.Dan tinggal mencari cadar untuk menutup setengah wajahnya. Karena Sherly ingin memperlihatkan kecantikan nya yang nyaris sempurna itu. Hanya pada suaminya saja yang memang memiliki hak sepenuhnya atas dirinya.
"Mang ujang, ada apa sore sore kesini??? ".Tanya Sherly ketika melihat mang ujang yang sudah berdiri tepat di depan pintu asramanya.
" Maaf Nona muda. Mamang hanya ingin nganterin ini".Mang ujang pun menyodorkan paperbag yang berisi banyak box makanan.
" Yaa Ampun jadi ngerepotin mang ujang juga nih. Harus jauh jauh kesini hanya untuk nganterin makanan buat saya aja. Terimakasih ya mang!!!. Bilang sama mami Sherly pasti makan kok. Soalnya masakan mami kan sudah pasti enak".
Sherly benar benar sangat berterima kasih Karena Mami mertuanya itu. Selalu saja perhatian meskipun mereka jauh.
Setelah mengantar makanan untuk Sherly, Mang ujang langsung pamit pulang. Sedangkan Sherly pun langsung masuk kembali kedalam rumah.
__ADS_1
Ia juga tadi berniat untuk masak. Karena perutnya sudah sangat lapar. Beruntung ia memiliki mami mertua yang sangat perhatian padanya. Dan selalu menyayangi anak anak mantunya. Seperti menyayangi anak nya sendiri.
"Hem... Harum banget. Mami memang patut di acungi jempol kalau urusan masak memasak".Guman Sherly memuji makanan yang dibuat oleh mami mertuanya itu.
Sebelum makan Sherly pun sempat menghubungi Mami mertuanya. Untuk mengucap terimakasih karena sudah di repot repot di anterin makanan.
Sherly pun malahab semur daging dan juga capcay buatan Lea tanpa tersisa sedikitpun. Tapi Sherly menyingkirkan seafood yang biasanya sangat ia sukai selama ini.
Sepertinya ia tidak tertarik untuk memakan seafood hari ini. Padahal tiap keluar dari rumah, Sherly selalu mengajak Al untuk makan di restoran seafood. Meskipun makan seafood tiap hari itu tidak baik untuk kesehatan.
"Alhamdulillah sayang. Kita udah kenyang kan? ".Sherly mengusap perutnya kembali sambil tersenyum.
Ia begitu sangat bersyukur bisa makan makanan. Yang sejak tadi sebenarnya ia ingin sekali membelinya. Karena ia tidak bisa masak makanan itu sama sekali.
Selesai makan siang yang sudah makan sore. Sherly pun mencuci piring bekas ia makan tadi. Tapi ponselnya berdering. Membuat Sherly langsung bergegas untuk mengambil ponselnya. Yang ia letakkan dimeja makan.
Senyum Sherly pun langsung merekah sempurna. Saat ia melihat nama suaminya memenuhi layar ponselnya.
__ADS_1
"Halo Assalamu'alaikum sayang".Sapa Sherly cepat dengan senyum yang masih terbit dibibirnya.