
Mark semakin mengeratkan pelukan nya pada tubuh istrinya. Sembari terus mengecupi pucuk kepala Naura. Ia lega karena istrinya baik baik saja. Meskipun Naura sempat harus di operasi pengangkatan rahimnya. Karena rahimnya robek dan bisa saja membahayakan keselamatan nyawanya serta bayinya.
Padahal awalnya team dokter bilang jika hanya satu yang bisa di selamat kan. Karena tak mungkin harus mempertahankan keduanya dalam kondisi separah itu. Namun, pada kenyataannya, Allah Maha baik.
Dia memberikan kesempatan untuk Naura merawat dan mengurus baby nya. Meskipun saat ini sang baby masih berada di tabung inkubator. Karena masih kurang bulan untuk lahir.
"" Dimana Baby kita??? ".Tanya Mark yang sejak tadi belum melihat putrinya.
" Ada di ruang inkubator vian. Jangan khawatir dia dijaga sama Kak Al dan kakak ipar disana! ".Jawab Naura sambil mendongakkan kepalanya. Memberanikan diri untuk menatap wajah suaminya kembali. Setelah tadi melihat wajah seram dan dingin suaminya.
" Aku belum sempat memberikannya nama. Karena Daddy nya sudah menyiapkan nama untuknya bukan??? ".Sambung Naura sambil terus menatap wajah tampan suaminya. Yang saat ini jauh lebih tenang dan tak memiliki aura membunuh kembali.
" Aku akan melihatnya terlebih dahulu. Sebelum aku menghabisi mereka semua yang sudah berani mencelakai mu di mension kita".Seru Mark dengan seringai licik diwajahnya.
"Vian... Bolehkah sekali saja kau tidak membunuh orang??? ".Tanya Naura pelan dan hati hati agar suaminya itu tidak tersinggung.
__ADS_1
" Kau bisa menyerahkan pada pihak berwajib saja vian!!!. Karena sekarang kita sudah memiliki seorang putri. Aku tidak mau jika sampai ia dewasa nanti melihat pekerjaan Daddy nya seperti ini".
Naura benar benar sudah memikirkan penuh bagaimana kehidupan mereka setelah anak anak nya dewasa nantinya. Naura ingin kehidupan mereka jauh lebih baik dan tenang. Tak ada musuh lagi dan tak ada lagi pertempuran. Hanya untuk sebuah kekuasaan.
Bagi Naura saat ini ialah berkumpul dengan suami serta anak anaknya dengan damai. Tidak perlu hidup terlalu mewah . Yang penting damai dan tenang pikiran. Tidak selalu was was disetiap waktu.
Bukan karena ia mulai tidak menerima pekerjaan suaminya selama ini. Tapi, Naura juga mulai memikirkan keselamatan anak anaknya. Yang mungkin juga akan ikut terancam nantinya.
"Akan aku pikirkan nanti sayang".Jawab Mark datar. " Tapi, untuk yang satu ini, aku tidak akan menggunakan hukum negara. Karena aku akan menggunakan caraku sendiri untuk membuat mereka semua sadar diri. Dengan apa yang telah mereka lakukan padamu,yang hampir ikut mencelakakan baby".
Sangat menyita waktu dan pikirannya juga. Belum lagi para musuhnya yang setiap. waktu selalu saja mencari cara. Agar ia mau menyerah dan melepaskan semua yang ia miliki dari hasil bisnis nya itu.
Mark juga memikirkan bagaimana jadinya. Jika ia sampai keluar dan meninggal kan dunia itu. Yang ada hanyalah bahaya yang selalu mengintai keluarga besarnya.
Di lain sisi pun Mark memikirkan konsekuensinya sendiri. Sebagai seorang king Mafia kelas atas dan banyak di segani Oleh banyak orang. Mark justru lebih tahu bagaimana seseorang yang tulus dari pandangan matanya dan bahasa tubuh seseorang.
__ADS_1
Terutama pada strategi para musuhnya yang menginginkan jabatan nya saat ini. Yang menguasai setiap wilayah Negara hanya dengan sebuah perintah dari sambungan earphone saja.
Tak mau berdebat dengan suaminya. Naura hanya bisa mengehela nafasnya saja berat. "Yasudah, sekarang aku mau tanya nama baby kita saja".Tutur Naura mengalah.
" SUCI DAVIAN MANRA".Jawab Mark sambil tersenyum.
"Dan aku akan memanggilnya dengan panggilan cici".Sahut Naura terkekeh. Bahkan yang tadi menangis tersedu sedu kini malah tampak bersemangat.
" Seperti burung saja".Cibir Mark mengulum senyumnya.
"Daripada seperti iblis kayak Daddy nya".Sahut Naura keceplosan dan ia pun langsung menutup mulutnya rapat.
" Aku bercanda sayang".Seru Naura saat melihat tatapan suaminya kembali.
TBC
__ADS_1