
Sherly tersenyum manis menyambut kedatangan suaminya. Meskipun senyumnya itu tidak terlihat oleh sang suami. Lantaran kain halus yang selalu menutupi wajah cantik dan juga bibir seksinya tersebut.
" Kamu sudah datang bang??. Masih ada waktu 15 menit lagi dari jam makan siang". Sambung Sherly dengan nada santainya sembari melirik jam di pergelangan tangannya.
" Hari ini pekerjaan ku tidak banyak sayang. Lagian ini juga rumah sakit milik kita bukan?. Jadi, aku pikir tidak ada masalah aku mau mengajak istriku pulang jam berapa pun juga". Jawab Al dengan sombongnya.
" Abang memang selalu begitu. Dan itu namanya memberikan contoh yang tidak baik pada karyawan nya sendiri. Tidak disiplin waktu". Tutur Sherly sembari mengulum senyumnya.
Al langsung menghampiri istrinya. Menarik kursi kerjanya dan menyibak cadar Sang istri. Lalu tanpa permisi lagi langsung ******* benda kenyal nan merah muda itu dengan ******* menuntut nya.
Sherly mendorong pelan dada bidang suaminya. Lalu menatap manik mata indah Al dengan semburat senyum tipis dibibir tipisnya.
" Dirumah saja jika ingin lebih!. Nanti ada orang yang lihat kalau disini". Ucap Sherly yang paham akan tatapan suaminya saat ini.
__ADS_1
Al pun terpaksa menganggukkan kepalanya tanpa rela sebenarnya. Karena ia sebetulnya mana bisa tahan sampai mereka tiba dirumah. Namun, mau bagaimana lagi ruangan kerja istrinya ini tidak nyaman untuk di jadikan tempat bermain.
Al mengedarkan pandangannya. Lalu menatap kembali wajah istrinya. Saat ia merasa ada yang kurang di dalam ruangan kerja istrinya ini.
" Yang, asisten mu mana???. Sejak pertama kali aku masuk kenapa tidak melihatnya sama sekali? ". Al melirik kearah meja kerja di pojokan dan benar saja meja nya juga sudah tampak rapi tidak seperti biasanya. Suster yang sering bersama dengan istrinya itu selalu duduk disana setiap kali ia datang.
" Sudah mati".
" Mati kenapa yang?. Mati keenakan atau mati...
"Bunuh diri bang".Sahut Sherly asal jawab saja. " Udah ayo kita pulang!!. Aku sedang tidak bersemangat untuk kerja hari ini". Sambung Sherly yang langsung menarik tangan suaminya pergi meninggalkan ruangan kerjanya.
"Serius dong yang!!. Kapan dia bunuh dirinya?. Tidak dirumah sakit ini kan?? ".Sampai di luar pun Al masih tetap bertanya pada istrinya.
__ADS_1
" Aku hanya bercanda sayang. Dia tidak bunuh diri. Tapi mengundurkan diri". Bohong Sherly tidak mau membuat suaminya malah semakin banyak pertanyaan lagi.
"Ayo bang buruan aku sudah lapar ". Rengek Sherly agar suaminya berheti membahas hal tidak penting baginya. Karena wanita itu pasti saat ini sedang menerima hukuman atas perbuatan nya sendiri.
Al dan Sherly melangkah kan kakinya menuju arah mobil mewah yang Al parkiran tepat di depan rumah sakit. Al bahkan jarang sekali masuk ruangan kerjanya yang ada di gedung rumah sakit tersebut. Padahal hampir tiap hari ia datang. Namun, kedatangan Al hanya untuk mengantar jemput istrinya saja.
Al sekarang juga sedang fokus pada bisnis barunya. Ia terjun ke bisnis property dan juga sesekali ikut membantu mengurus perusahaan keluarga nya bersama Sang kakak. Hal itu malah membuat Sherly menjadi tenang.
Karena selain bisa pulang kerumah. Di lain sisi orang orangnya juga bisa mengawasi suaminya juga. Meskipun Sherly yakin jika Al suaminya itu mampu menjaga dirinya sendiri.
"Jika tebakan ku benar, maka aku sendiri yang akan menghabisi kau". Batin Sherly saat ia sudah ada di dalam mobil suaminya.
TBC
__ADS_1