
Al dan Sherly nampak bergandengan tangan setelah mereka turun dari mobilnya. Langkah keduanya nampak membuat semua orang iri melihatnya. Bagaimana tidak iri, jika sepasang suami istri itu selalu saja terlihat mesra.
Jika dulu setahu penghuni asrama Al adalah pria yang dingin, dan tidak pernah dekat gadis manapun juga. Bahkan ia adalah pria single yang selalu cuek dan seperti tidak menginginkan gadis di sampingnya.
Padahal yang sebenarnya adalah jika Al itu mungkin sudah bosan bergonta ganti teman kencan. Karena sejak sekolah SMA ia adalah idola. Dan sampai ia kuliah pun di LA. Al seorang playboy akut.
Apalagi saat ia berniat ingin serius pada satu gadis. Tapi si gadis itu tidak pernah mengindahkan nasehat dan juga peringatan nya. Dan akhirnya keduanya memutuskan hubungan begitu saja. Karena mungkin tidak ada kecocokan. Sampai sekarang pun Al tidak pernah mau tahu lagi tentang sang mantannya itu. Gadis yang pernah masuk kedalam hidupnya. Jauh sebelum ia melihat sang istri saat ini.
Dalam artian Al hanya jatuh cinta dua kali pada wanita. Selebihnya itu adalah rasa penasaran dan membual saja. Untuk mengisi kekosongan waktunya. Dan juga teman kencan satu hari. Yang banyak menorehkan luka pada gadis yang menganggap nya serius menjalin hubungan.
Sherly meletakkan kantong belanjaannya di meja samping lemari pendingin. Karena tadi mereka berdua sempat mampir ke supermarket terlebih dahulu. Untuk membeli bahan bahan makanan dan juga kebutuhan rumah tangganya selama satu bulan kedepan. Hingga saat ini isi dapur sudah penuh dengan beberapa kantong kresek besar.
"Sayang, aku mau coba masak saja ya , untuk makan malam kita nanti".Seru Sherly yang begitu bersemangat untuk belajar memasak dan ini adalah yang pertama kalinya untuk dirinya.
" Baby, tidak usah terlalu repot!. Apa kau tidak capek setelah seharian kerja??? ".Al pun langsung menghampiri istrinya, membantu nya menata bahan bahan makanan masuk kedalam lemari es.
Sherly pun tersenyum seraya menggeleng kan kepalanya. Membuat Al kini ikut mengulum senyumnya.
__ADS_1
" Yakin mau masak sekarang??? ".Tanya Al lagi kembali meyakinkan
" Iya sayang, karena aku harus bisa masak seperti Mami ".Sahut Sherly yang kadang merasa malu pada keluarga suaminya.
Karena mereka begitu sangat handal dalam urusan dapur. Cuma dia lah yang tidak mengerti apapun, padahal seorang perempuan itu tugasnya adalah menyiapkan makanan untuk suami dan anaknya kelak. Agar kebutuhan nutrisi dan juga kebutuhan gizi mereka tercukupi dengan baik.
"Emm.... Baiklah jika itu yang kau mau. Tapi sebelumnya buatkan saja dulu suamimu ini teh hangat!!! ".Pinta Al dengan tersenyum.
" Siap suamiku".Jawab Sherly yang nampak tersenyum juga. "Sebentar ya, aku mau ganti baju dulu".Sherly pun langsung beranjak pergi masuk kedalam kamar.
Padahal Sherly hanya memakai daster selutut tanpa lengan. Yang membalut kulit putih mulusnya itu. Jika sudah begini maka, Sangat susah bagi Al untuk fokus bekerja. Matanya terus menatap keindahan tubuh istrinya. Yang membuatnya tak berkedip.
Berkali kali Al meneguk salivanya hingga jakun nya turun naik. Sherly memang tak menyadari itu karena ia langsung fokus pada gelas dan juga sendok yang ia gunakan untuk mengaduk teh hangat suaminya.
"Sayang, ini teh nya !!! ".Sherly berucap sembari meletakkan sendok di wastafel. Lalu menoleh pada suaminya.
Al pun langsung berdiri dan tersadar dari lamunan mesumnya. Tapi ia nampak menyeringai licik. Tatapan mata Al begitu memburu, dan semakin jelas jika ia sedang menginginkan sesuatu.
__ADS_1
" Sepertinya aku sudah tidak butuh teh hangat lagi baby".Ucap Al sambil tersenyum mesum.
Sherly pun mengerutkan keningnya bingung. "Tapi tadi abang bilang mau teh hangat. Apa mau aku buatkan minuman yang lain??? ".Sherly bertanya dengan polosnya.
" Ya, aku membutuhkan yang lain. Tapi kau tidak perlu membuatnya!!! ".
Kata kata suaminya semakin membuat Sherly bingung. Otak Sherly yang selama ini polos tidak akan paham dengan cepat arti kode yang di lontarkan oleh suaminya itu.
" Aku akan mengambilnya sendiri baby. Boleh??? ".Sambung Al sambil bertanya.
Tanpa ragu Sherly pun langsung mengangguk kan kepalanya. Membuat Al semakin mengembangkan senyumnya.
" Aw... sayang, kenapa malah... ".
Sherly tak bisa melanjutkan kata katanya lagi karena bibirnya sudah dibungkam oleh ciuman panas suaminya. Bahkan kini salah satu tangan Al sudah menjalar pada bukit sintal padat dan bulat miliknya.
" Karena aku ingin minum susu langsung dari sumbernya baby".Lirih Al pelan dengan suara yang sudah terdengar serak.
__ADS_1