
Tawa Al pecah dan tak berhenti lagi. Seketika suasana rumah menjadi heboh dan ramai. Karena bagaimana tidak, ketika ia pulang hanya untuk makan siang di rumah bersama keluarga nya. Tiba tiba saat Al masuk kedalam rumahnya. Ia malah melihat Calista baru menuruni anak tangga bersama istrinya.
Tapi, bukan karena melihat sepupunya itu ia tertawa. Namun, melihat Calista yang biasa memakai pakaian serba cenderung minim dan modis. Saat ini ia malah melihat Calista memakai gamis yang longgar. Dan itu tentunya milik Sherly karena badan Sherly tak jauh beda dengan Calista. Jadi, ukuran pakaian nya jelas satu ukuran.
" Mau kemana loe??. Lebaran masih lama, udah pake gamis aja". Ledek Al sambil tertawa terbahak-bahak. Membuat Calista langsung melemparkan sandalnya tepat kearah Al.
Tapi, lagi lagi Al malah langsung makin tertawa. Lantaran Sandal Calista malah mengenai bahu Barra. Yang baru saja masuk kedalam rumah itu.
" Uppsss... ".Calista melotot dibuat nya. Ia benar benar tidak tahu jika suaminya akan masuk.
" Hahaha... Malah balik ke laki nya". Cibir Al lagi sembari mulai lari dari hadapan kedua suami istri itu. Sedangkan Sherly hanya bisa menggeleng kan kepalanya saja. Apalagi saat melihat suaminya melangkah dengan santainya dan masuk ke arah ruang makan.
__ADS_1
" Hehehe... " Calista hanya nyengir kuda karena tatapan suaminya sangat menakutkan saat ini. Dengan langkah sedikit ragu.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Suasana ruang makan tampak sedikit ramai siang ini. Karena disana ada Mami Lea, Papa Rayen , Dan juga sepasang suami istri yang tampak aneh menurut Al. Bagaimana tidak aneh istrinya yang bar bar nya tidak ketulungan. Sedangkan suaminya sangat dingin dan datar dan nyaris tak tersentuh.
Namun, disisi lain Al bisa melihat jika Barra sangat sayang pada anak anak terutama pada Celine. Banyak rahasia dalam kehidupan Barra yang memang tidak banyak keluarga Bagaskara ketahui. Tapi, semua itu tak membuat keluarga besarnya mau ikut campur dan terlalu kepo tentang privasi Barra.
Meskipun pada kenyataannya setiap wanita juga membutuhkan bualan dan ucapan. Agar mereka yakin jika pria itu benar benar mencintai nya.
" Calista sudah berapa bulan usia kandungan kamu??? ". Lea mulai bertanya ketika mereka baru saja selesai makan siang bersama. Dan kini sedang menyantap puding mangga. Semua orang juga belum beranjak dari tempat duduknya masing masing. Termasuk Celine dan juga Mayra.
__ADS_1
" Lima minggu Mi. Masih sangat kecil. Bahkan belum ada segini". Jawab Calista sembari menunjukkan ujung kukunya. Sangat membual memang tapi itulah Calista. Ia tidak punya malu sama sekali meskipun itu hal yang fulgar sekalipun.
Rayen dan Al hanya menggeleng kan kepalanya saja. Akan sikap Calista saat ini. Sedangkan Barra hanya diam belum mau ikut bicara.
" Tapi, Calista baik baik saja ya Mi. Tidak seperti bumi pada umumnya, Yang kadang malah bikin repot orang banyak". Sherly ikut menimpali. Karena dia juga awalnya seperti itu. Bahkan ia malah menginginkan apapun yang awalnya tidak ia sukai.
" Baby memang tidak membuatku mabuk. Tapi, Papinya yang dibuat repot". Jawab Calista dengan tawa renyahnya.
" Halah, itu paling akal akalan kamu aja. Siapa tahu kamu yang memang sengaja minta aneh aneh. Karena ingin mengerjai Bang Barra kan? ".Al mulai jadi kompor untuk pasangan itu.
" Hei, enak saja kau bilang begitu. Mana ada?. Aku tidak pernah meminta apapun pada suamiku selain di tungg...
__ADS_1
Barra langsung menutup mulut istrinya dengan tepak tangannya yang besar itu. Karena kalau tidak Calista pasti sudah keceplosan akan ulahnya setiap malam nya. Padahal saat hamil trimester awal tidak boleh terlalu sering bermain. Karena usia janin masih sangat rentan. Meskipun Barra masih bisa memelankan temponya. Tapi, Barra tidak mau di cap suami maniak oleh keluarga besar istrinya itu.