Di Balik Cadar Persitku

Di Balik Cadar Persitku
Sulit Menilai Karakter


__ADS_3

Satu Minggu telah berlalu sejak Al dan Sherly memutuskan untuk pindah ke Asrama. Kini keduanya juga sudah kembali melakukan aktivasinya . Al disibukkan dengan latihan latihan untuk persiapan keberangkatan nya bertugas. Sedangkan Sherly juga kembali disibukkan oleh rutinitasnya sebagai seorang dokter psikolog.


Tapi meskipun sibuk Al juga tak pernah melupakan istrinya. Ia selalu siap siaga mengantar jemput sang istri. Pergi dan pulang kerja. Sampai sampai mereka berdua di juluki pasangan teromantis di lingkungan Asrama.


Dan bahkan sudah satu minggu ini juga. Nampaknya keadaan aman aman saja. Tak ada yang mencurigakan sedikit pun. Mereka berdua juga tak pernah mengalami masalah seperti sebelumnya.


Tapi Mark juga selalu mengingatkan keduanya untuk tetap waspada. Karena feeling Mark mengatakan jika klan nya itu pasti sedang menyusun rencana. Hanya saja mereka masih menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.


Sejauh ini Mark juga terus mengerahkan para anggotanya. Untuk mencari keberadaan pria yang di curigai adalah dalang dari semuanya. Tapi, entah kenapa kali ini Mark benar benar bisa di kecoh. Tak ada jejak sama sekali, semuanya nampak bersih tanpa meninggalkan goresan kecil sedikitpun.


"Dokter Sherly".Seorang suster datang menghampiri Sherly yang baru saja akan masuk kedalam ruangan kerjanya.


" Iya sus, ada apa??? ".Sherly pun mengurungkan niatnya untuk membuka handle pintu ruangan kerjanya. Kini ia ikut berdiri di depan pintu.


" Anda ditunggu di ruangan pak Direktur rumah sakit dok!!! ".Ucap Sang suster memberitahu.


" Sekarang??? ".Sherly nampak sedikit mengerutkan dahinya. Karena tak biasanya ia di panggil dadakan begini. Apalagi disuruh menghadap tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

__ADS_1


" Iya Dok. Karena pak Direktur sudah menunggu anda sejak lima menit yang lalu".


Sherly pun mengangguk kan kepalanya. Sembari mulai melangkah pergi dan sebelum nya ia juga telah mengucapkan terima kasih pada suster yang tadi memberitahu nya.


Sherly pun langsung menuju arah lift. Dimana ruangan sang Direktur terletak di lantai paling atas. Rumah sakit mewah dan berkelas itu.


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Tok....


Tok....


Tok....


"Masuk!!! ".Suara seorang pria mulai terdengar di telinga Sherly. Menandakan pemilik ruangan memang ada di dalam sejak tadi.


"Dokter Sherly... Mari silahkan masuk!!! ".Sang Direktur pun nampak tersenyum ramah ketika Sherly sudah menutup pintu ruangan kembali. Dan kini mulai melangkah mendekati sang Direktur yang ternyata tidak sedang duduk sendirian di sofa empuk. Yang ada di dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


" Silahkan duduk Dokter Sherly!!! ".Lagi lagi Direktur itu nampak ramah padanya. Padahal selama ini sang Direktur rumah sakit itu terkenal dengan sangat angkuh. Dan juga mood nya kadang baik dan buruk.


Mungkin hari ini ia sedang senang atau thr lembarannya udah masuk rekening. Makanya pria paruh baya itu yang juga adalah seorang dokter seniornya Sherly. Bisa bersikap seperti ini.


Seorang pria yang sejak tadi duduk di samping Direktur rumah sakit. Hanya diam sambil terus memperhatikan Sherly. Hal itu membuat Sherly sedikit risih. Karena di tatapan tanpa berkedip sedikit pun.


Sherly pun dengan sedikit ragu. Akhirnya mau mendaratkan bokongnya duduk di sofa single. Tapi sekilas ia pikir pernah melihat pria tersebut.Namun, Sherly merasa lupa. Pernah bertemu dimana.


Beberapa saat kemudian mereka pun mulai terlibat obrolan serius. Sherly pun awalnya hanya menjadi pendengar setia. Sampai akhirnya Direktur rumah sakit mengatakan jika ia diminta untuk menjadi dokter pribadi tamu nya hari ini.


"Maaf Pak, saya pikir itu tidak masuk akal. Karena saya hanya seorang dokter psikolog saja. Bukan dokter umum ataupun dokter yang ahli dalam penyakit dalam. Tugas saya disini hanya menangani pasien yang memang mempunyai riwayat psikis buruk dan membantu mereka untuk menghilangkan rasa trauma dan semacamnya".Sherly terlihat protes karena memang itu bukan tugasnya.


"Bukankah kalau untuk masalah itu disini juga banyak dokter lainnya. Yang memang ahlinya".Sambung Sherly masih dengan nada pelannya.


" Dokter Sherly, saya tahu itu. Tapi keponakan tuan Heri ini juga memiliki trauma masa lalu. Jadi, tidak ada salahnya jika anda sebagai ahlinya mau membantu tuan Heri!!!. Bukan begitu tuan??? ".


Pria itu pun nampak mengangguk kan kepalanya. Ia kini menatap Sherly dengan tatapan yang menurut Sherly sangat berbeda. Dari sekian banyak manusia yang sering Sherly hadapi. Baru ada dua pria yang sikapnya tidak bisa Sherly prediksi. Yang pertama suaminya sendiri dan yang kedua adalah pria yang bernama Heri saat ini.

__ADS_1


Tapi dibalik itu semua Sherly bisa melihat jika ada sesuatu yang direncanakan oleh pria itu. Namun, Sherly juga tidak bisa menuduhnya begitu saja. Tanpa adanya bukti yang kuat.


__ADS_2