Di Balik Cadar Persitku

Di Balik Cadar Persitku
Suami Maniak


__ADS_3

Mark menatap tajam kearah istrinya ketika Naura menjulukinya bagaikan sosok iblis. Meski itu adalah kebenarannya. Tapi, tampaknya Mark ingin memberikan protesnya pada sang istri.


"Kau selamat karena aku begitu mencintaimu sayang. Kalau tidak mungkin...


" Mungkin apa Mark??? ".Potong Naura dengan menyebut nama yang tidak pernah Mark sukai ketika nama itu keluar dari mulut istrinya.


" Hihihi... Vian maksud ku tadi. Hanya saja lidahku kepletot sedikit sayang".Elak Naura cepat sebelum suaminya kembali memasang wajah seramnya. Seperti ingin memangsa nya saja.


"Sudah sana!!!. Katanya tadi mau lihat putri kamu".Ucap Naura karena melihat suaminya tak kunjung beranjak dan hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


Mark malah melangkah kembali mendekati brankar istrinya. Lalu mengecup kening dan bibir Naura sedikit lama. Karena Mark masih sempat menyesap bibir ranum itu dengan sedikit lebih lama.


" Ini pasti sudah ada air nya kembali".Tebak Mark seraya menyusupkan tangan kanannya pada baju pasien yang dikenakan Naura. Menyentuh lembut dua gundukan yang terlihat membesar.


"Walaupun tidak ada air nya. Bukankah kau menyukainya sejak dulu ?. Hm? ".Goda Naura sambil mengulum senyumnya.


" Yang bawah tidak terluka kan??? ".Tanya Mark prontal sembari melirik arah pangkal paha istrinya.

__ADS_1


" Tentu saja tidak. Kan aku di operasi cesar sayang ".


" Kalau begitu aku bisa melakukan lagi setelah kau pulang nanti".Lirih Mark mulai fulgar.


"Hahhaa... Tapi luka di perutku sayang belum begitu pulih. Bagaimana kalau robek kembali".


" Kau tenang saja sayang. Aku akan hati hati asalkan kau mendesah saja itu sudah cukup bagiku".Mark benar benar tidak bisa melihat istrinya menganggur barang sebentar saja. Ia benar benar maniak bagi istrinya sendiri.


Otaknya selalu saja mengarah ke mesum kalau melihat sang istri. Makanya ia tidak bisa lama lama berjauhan dengan Naura. Hanya Naura yang bisa membangunkan imronnya. Dan hanya Naura juga yang bisa menidurkan nya . Meskipun harus banjir peluh dan keringat terlebih dahulu.


"Iya suami mesumku, akan aku pikirkan lagi nanti".Jawab Naura mengulum senyumnya.


"Iya sayang, hati hati!!! ".


Mark kembali memberikan kecupan pada bibir istrinya. Yang selalu membuatnya mabuk dan tak ingin berhenti untuk mencumbunya. Kalau saja ia tak ingat akan sedikit memberikan hadiah kecil untuk para pengkhianat di mension nya. Mungkin Mark akan sedikit membuat keringat meskipun hanya sekedar memberikan rangsangan kepanasan untuk barang miliknya.


Dan sekaligus membuat basah sedikit isterinya. Namun, saat ini ada yang lebih penting lagi dari sekedar bercinta mencari keringat. Bahkan, tangan Mark sudah sangat gatal ingin kembali mengasah pisau kecilnya. Yang sudah lama tidak ia gunakan untuk melukis.

__ADS_1


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Sedangkan di Mension saat ini Jacob yang baru saja tiba . Menatap nyalang pada semua anggotanya. Karena mereka semua telah kecolongan.


Ada tiga pelayan yang sudah tak bernyawa lagi. Lantaran mereka telah meminum racun sebelum bisa di interogasi. Bahkan keadaan tubuhnya sudah terbujur kaki di lantai kamar mereka.


"Shiittt".Upat Jacob ketika ia memeriksa denyut nadi dan tak ada sedikit pun pergerakan sama sekali.


" Dimana pelayan yang lainnya??? ".Tanya Jacob penuh amarah.


"Mereka masih ada di dalam ruangan khusus Tuan. Termasuk koki juga".Jawab Anggota Jacob menjelaskan.


" Lantas mana tukang kebun itu??? ".Tanya Jacob lagi dengan tatapan nyalanhnya seakan bukan dirinya lagi saat ini.


" Ada di ruangan bawah tanah tuan".Jawab anggotanya lagi.


Jacob pun langsung melangkah keluar mension. Menuju Vaviliun yang ada di belakang mension. Dimana disana ada satu ruangan khusus yang dibuat untuk mengurung musuh. Yang telah di siapkan oleh kingnya sendiri.

__ADS_1


Sambil melangkah Jacob pun langsung menghubungi Mark. Dan menceritakan semua apa yang terjadi di mension. Terang saja membuat Mark semakin murka mendengar semua laporan nya.


Jacob hanya bisa pasrah saat mendengar semua upatan kasar dari mulut kingnya itu. Tanpa ingin berniat untuk menimpali nya. Karena Jacob juga sudah terbiasa mendengarkan nya sejak ia memutuskan untuk mengabdikan dirinya pada kingnya tersebut.


__ADS_2