
Tiga Hari Kemudian...
Zello menatap jengah pada saudara kembarnya. Siapa lagi kalau bukan Zein, Karena sejak mereka tiba di Indonesia. Wajah Zein selalu berbinar binar. Bahkan Zein nampak bersiul siul layaknya orang yang sedang bahagia karena mendapatkan Dooprise saja.
Andes hanya bisa menggeleng kan kepala sembari menggendong baby Cici yang tak mau lepas dan jauh dari Andes. Kadang Naura dan Mark saja sampai bingung akan sikap putrinya itu. Bisa bisa Cici lengket seperti itu dengan Andes. Tapi, selalu saja menangis jika bersama Zein.
Sepertinya Cici lebih bisa menyesuaikan dirinya dengan para pria dingin. Di bandingkan pria yang selengehan seperti Zein.
" Lihatlah dia, seperti pria dewasa yang sedang jatuh cinta saja". Cibir Zello melirik kearah Zein yang sudah berjalan lebih dulu dibandingkan Andes dan juga Zello.
" Mungkin memang benar Zein sedang jatuh cinta". Jawab Andes datar membuat Zello langsung melirik kearah Andes dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
" Kau lihat saja Zello!!. Zein itu sangat tidak bisa berjauhan dari ketty. Hampir setiap hari aku mendengar mereka selalu bertelponan. Sampai sampai tidur pun dia mengigau memanggil nama Ketty". Andes pun tak habis pikir kenapa Zein bisa mempunyai kelainan sendiri.
Padahal usia mereka baru sebelas tahun. Sedangkan Andes memang sedikit lebih tua dari si kembar. Hanya berjarak enam bulan saja. Tapi ketiga anak laki laki itu saat ini telah duduk di bangku SMP. Usia yang jauh lebih muda seukuran anak SMP seperti mereka bertiga.
Zein dan Andes memang sekolah di tempat umum. Yang memang sekolah para anak kolongmerat. Sedangkan Zello ia lebih memilih homeschooling. Sebab, tak ada alasan lain lagi untuk Zello. Selain ia memang suka kesunyian. Zello memang tidak suka berinteraksi dengan sembarangan orang. Apalagi harus menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah. Yang notabene nya adalah banyak sifat dan karakter anak yang berbeda.
" Zein itu memang sudah gila. Pegang burung saja belum bisa lurus, mau sok sokan mengenal cinta segala". Zello memang jarang bicara namun, ketika ia sudah bicara maka semua kata kata ketusnya akan keluar dengan sendirinya.
" Bah... Mom". Celoteh Cici sembari menatap wajah Tampan Andes dengan mendongakkan kepalanya.
" Kau juga mau ikutan ikutan Zein? ". Sentak Zello pada adiknya. Membuta Baby Cici langsung menangis dengan bibir yang mencebik.
__ADS_1
" Zello... Kau membuat nya terkejut". Andes gantian membentak Zello. Karena Cici semakin keras nangisnya dalam gendongan nya. Sehingga Mommy Naura dan juga Mark Langsung menoleh. Karena saat ini mereka masih berada di Bandara.
" Bukan Aku Mom, tapi Zello". Seru Andes yang langsung menjelaskan karena tatapan Mark begitu tajam saat putri bungsu nya menangis dadakan begitu.
" Zello, kau apakan adikmu itu??? ". Naura langsung menghampiri anak anaknya. Dan mau mengambil alih Cici dari gendongan Andes. Tapi, lagi lagi Cici malah berpegangan pada jaket kulit Andes. Membuat Zello benar benar muak akan sikap adik adiknya itu.
" Dam it.... Dunia percintaan memang sangat menyeramkan". Guman Zello sambil mengupat kesal. Ia pun langsung mempercepat langkah kakinya meninggalkan Andes dan juga adik bungsunya yang sekarang malah langsung diam ketika Andes mencium pipinya.
Jacob dan Anggun hanya bisa mengulum senyumnya saja. Ketika melihat interaksi Cici dan Andes saat ini. Bayi berusia enam bulan itu kini malah semakin menempel dengan Andes. Bahkan saat Mommy nya ingin menggendong nya ia malah menolak dengan menepis tangan Naura.
Mereka semua saat ini memang sedang berada di Bandara Ngurah rai Bali. Dimana mereka akan menghadiri pesta pernikahan Reza dan juga Tania. Yang akan di laksanakan di pinggir pantai Nusa dua Bali dua hari lagi.
__ADS_1