Di Balik Cadar Persitku

Di Balik Cadar Persitku
Jangan Membuat Ulah!


__ADS_3

Andes kembali mengajak Cici untuk bermain di atas karpet bulu yang ada di dalam ruangan walk in closet. Membuat bayi gembrot itu tampak girang sekali. Apalagi ia saat ini sedang berceloteh ria khas dengan gaya bayi seusianya.


" Cici kau itu kenapa udah ngerti genit sih? ". Zein terus saja mengatai adik bungsunya. Namun, Cici yang seolah tahu sedang di ledek Sang abang. Hanya mencelos dengan lirikan mata bulatnya itu.


" Cici itu tidak genit ,Kau saja yang tidak bisa mengasuh nya Zein". Andes selalu saja membela adik bungsunya itu. Hingga kadang Zein merasa dirinya bagaikan anak tiri saja di mension ini.


" Ada apa kau kemari?? ". Tanya Andes saat melihat Zein malah ikutan duduk di karpet bulu itu.


" Tentu saja aku bosan harus sendirian di kamarku. Zello kau tahu sendiri, kalau sudah fokus mana mau dia di ajak bicara". Zein sekarang malah ikutan berbaring membuat Cici langsung menggeser pantatnya dan mendekat pada Andes.


" Oh ya Ampun. Kau itu masih bayi Cici. Kenapa kau selalu ingin dekat dengan Andes? ". Zein jengah sendiri akan sikap adik bungsunya itu. Seolah ia memang tidak mau jauh dari Andes. Sampai sampai ogah untuk lepas.


Andes hanya tersenyum dengan menatap Cici. Membuat bayi itu ikut melengeh manjah. Seolah ia tahu jika Andes sangat tulus sayang padanya. Sedangkan Zein selalu saja menggodanya. Dan suka jahil untuk membuatnya menangis.

__ADS_1


Zein begitu karena ia terlalu gemas dengan pipi gembul Cici. Jadi, Zein selalu menjubit pipi Cici kadang pun ia gigit saking gregetnya. Terang saja Cici menangis sebab, Abangnya kalau gigit gak kira kira lagi.


" Andes... Cici mana? ".Teriak Naura dari arah luar kamar.


" Ada disini Mom". Zein langsung menjawab dengan sedikit berteriak juga agar Mommy mendengar suaranya.


Naura pun langsung masuk dan mencari keberadaan ketiga anak nya itu. Karena di bawah hanya ada Zello saja yang masih sibuk dengan laptopnya sendiri.


Senyum Naura terbit saat melihat baby Cici sedang bermain bersama kedua abangnya. Bahkan Cici terlihat sangat anteng sekali disana. " Cici, ayo sayang sama Mommy!. Udah haus kan?. Kita minum susu dulu ". Naura langsung menghampiri putri bungsu nya.


" Uuhh, ci genit Mommy. Mau nya di tium tium bang Andes teyus ya? ".Naura meledek putrinya sendiri dan langsung ikut menggigit pipi Cici dengan gemas.


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ

__ADS_1


Andes dan Zein yang sudah turun ke lantai satu. Kini mulai mendekati Zello. Dimana anak itu sangat serius menatap layar laptopnya. Bahkan dia tidak menoleh saat Zein dan Andes datang.


" Apa yang sedang kau lakukan Zello?? ".Zein mulai kepo akan urusan saudara kembarnya itu.


" Kalian tahu? ".


" Tidak". Jawab Zein cepat padahal Zello belum selesai bicara. Membuat Zello langsung menatap tajam saudara kembarnya itu.


Zein pun hanya nyengir kuda, lalu kembali memasang wajah serius nya lagi. Zello pun mulai membuka suaranya. " Aku baru menemukan jalan virus baru untuk membobol bank dunia". Zello berucap seolah itu adalah hal biasanya.


" What?. Kita bisa jadi milyader kalau itu berhasil ". Celetuk Zein yang langsung tertawa lantang.


" Jangan macam macam Zello!. Daddy dan Mommy akan marah besar jika kau membuat ulah lagi". Kali ini Andes yang angkat bicara. Andes tidak mau kalau sampai Zello kembali membuat ulah yang akan merugikan Mark lagi.

__ADS_1


Karena bukan hanya Zello yang dihukum. Pasti Andes dan Zein juga ikut kena imbasnya. Selain itu, Andes juga tidak mau memanfaatkan kecerdasan Zello hanya untuk kepentingan pribadi saja. Sebagai anak tertua Andes harus bisa mengontrol adik adiknya. Terutama Zello yang memang diam diam menghanyutkan dan kadang sering membuat Mommy nya naik darah.


" Haiss... Kau itu Ndes penakut sekali". Ledek Zein seolah ia paling berani. Padahal ada apa apa dia masih ingin minta di lindungi oleh kedua abangnya itu.


__ADS_2