Di Balik Cadar Persitku

Di Balik Cadar Persitku
Wejanga Al


__ADS_3

Suara canda tawa Al mampu membuat mood Sherly membaik. Meskipun hanya bicara lewat sambungan telpon saja. Rasanya sudah bersyukur sekali. Hanya mendengar suara nya dari seberang sana.


Al memang selalu bisa tepat waktu untuk menelpon sang istri. Sherly kalau boleh dia jujur. Saat ini tiada yang lebih penting baginya. Selain bisa berkumpul kembali dengan suaminya. Meskipun kasih sayang semua keluarga besar suaminya sangat tak kurang kurang. Namun, Rasa rindu tidak mungkin bisa untuk dibohongi.


"Kau kenapa baby???. Apa kau sudah sangat merindukan suami mesummu ini?. Hm? ".Goda Al sembari tersenyum smirk.


Ia juga sangat merindukan istrinya, tapi Al tidak boleh lemah dan bersikap egois. Sebenarnya bisa saja ia meminta komandan nya. Untuk membantunya mengurus pergantian team. Apalagi keluarga besarnya adalah orang orang berkuasa. Tidak akan sulit bagi Al, hanya untuk pulang cepat ke Jakarta dan berkumpul bersama istri dan juga keluarganya kembali.


Namun, Al tidak akan pernah melakukan hal itu. Memanfaatkan kekuasan keluarga nya. Hanya untuk kepentingan pribadi. Dan berbuat curang mengkhianati para team nya. Yang sama sama merindukan keluarga mereka juga.


"Aku tidak papa bang. Hanya saja... " Sherly sedikit ragu untuk mengungkapkan perasaan nya. Sebab, ia takut suaminya itu bakalan kepikiran.


"Kenapa??? ".


" Hanya saja aku sedikit merindukan mu. Sepertinya baby kita juga ingin sesekali di elus sama Papi nya".Lirih Sherly pelan sambil menundukkan kepalanya malu.

__ADS_1


Al memaksakan untuk tetap tersenyum. Ia tidak mau terlihat rapuh di depan istrinya. Karena rasa rindu nya kini makin begitu berasa. Ia pun sangat ingin mengusap perut sang istri saat ini juga. Saat pertama kalinya ia tahu jika istrinya sedang mengandung anaknya. Buah cinta mereka berdua, Al begitu sangat bahagia.


Ingin sekali ia berlari pulang dan mendekap erat tubuh istrinya saat itu juga. Tapi, demi NKRI Al harus sabar. Hingga masa tugasnya selesai dengan waktu yang telah di tentukan. Bahkan Al juga tidak pernah menceritakan bagaimana sulitnya ia mendapatkan waktu serta sinyal hanya untuk menghubungi istrinya.


Al juga tidak pernah membahas apa tugasnya disana. Yang Sherly tahu jiia suaminya sedang bertugas biasa saja. Seperti kegiatan adu skill dan juga pelatihan bersama dengan para tentara disana.


Padahal yang sebenarnya adalah mereka sedang menjalankan misi Negara. Yaitu misi perdamaian Dan bisa saja mereka tewas saat tugasnya. Tapi, Al tidak pernah memberitahu istrinya tentang detail penugasan saat ini.


"Baby, dengarkan aku!!!. Ku harap kamu akan selalu sabar menantikan waktu dimana kita akan berkumpul lagi!. Aku janji akan pulang dengan keadaan yang utuh sama dengan pada saat aku pergi. Tidak akan ada yang kurang satu apapun juga".Al berbicara dengan nada serius dan tegasnya.


"Aku percaya padamu sayang, sungguh aku percaya".Jawab Sherly sambil mulai berkaca kaca.


Karena ia yakin jika suaminya itu sudah berkata. Maka ia akan menepatinya meskipun ia sedikit terlambat.


" Terimakasih baby. Terimakasih sudah mau terus bersabar. Dan kau juga harus ingat!. Bertahan lah dengan situasi dan kondisi serta keadaan apapun selama aku tidak ada!. Jangan pernah rapuh sedikit pun!. Buktikan jika kau memang pantas menjadi istri seorang prajurit!. Bukankah dulu kau juga wanita tangguh dan kuat?. Hm? ".

__ADS_1


Al kembali menggoda istrinya setelah panjang lebar bicara seperti akan pergi jauh saja. Memberikan wejangan pada istrinya. Membuat Sherly pun langsung mengangguk kan kepalanya. Meskipun ia tahu saat ini Al tidak bisa melihatnya mengangguk.


Ketika sedang asyik mengobrol dengan istrinya. Dari seberang telpon juga terdengar suara yang memanggil Al suaminya.


"Baby, nanti kita lanjutkan lagi ya!. Ini ada kegiatan dadakan di posko".Ucap Al sebelum mengakhiri panggilan telpon nya.


" I love you, I miss you baby. Tunggu aku pulang!! ".Seru Al lagi.


Sherly pun hanya bisa pasrah saat ia belum sempat menjawab tapi suaminya sudah mematikan sambungan telepon nya sepihak.


" Huh... Selalu saja begitu. Apa tidak bisa dia mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum memutus sambungan telepon nya? ".Guman Sherly menggeleng kan kepalanya.


" Tapi kenapa tadi mereka begitu panik ya?. Seperti akan berperang saja".Sherly nampak sedikit berpikir keras.


Bahkan suara orang yang memanggil Al tadi terdengar sangat khawatir dan gugup. Tapi Sherly langsung menyangkal pikiran negatifnya. Sebab, ia tahu tugas suaminya disana bukanlah untuk perang sesungguhnya. Karena mereka hanya untuk pelatihan tugas bersama dengan anggota militer Negara tersebut.

__ADS_1


Tugas prajurit TNI yang akan melaksanakan misi perdamaian sangatlah kompleks dan strategis. Utamanya mendukung kebijakan pemerintah di kancah Internasional dan upaya perdamaian dunia.


__ADS_2