
Di sebuah rumah sakit besar seorang anak laki-laki sejak tadi tak mau pergi dari sisi seorang wanita yang telah beberapa menit yang lalu menghembuskan nafas terakhir nya.
Ia sangat terpukul dan juga sangat sedih karena kehilangan ibunya. Orang tua satu satunya yang selama ini telah banyak berjuang dan sudah merawat nya hingga mengorbankan dirinya. Hanya untuk melihatnya tetap hidup dan tumbuh menjadi seperti sekarang ini.
Tapi dibalik kesedihan nya ia bahkan tidak meneteskan air matanya sedikitpun. Fisik anak itu sangat kuat. Ia juga terbiasa hidup di tengah tengah bahaya yang selalu mengacam keselamatan nya.
Tangannya masih menggenggam erat tangan dingin seorang wanita yang sudah tak bernafas lagi itu. Yang merupakan ibu kandungnya. Hingga para dokter hanya bisa menatap iba pada sosok anak tersebut.
Pintu kamar ruangan rawat mulai terbuka dengan menampilkan wajah datar dan aura dingin dari seorang pria yang selama ini terus mengupayakan yang terbaik untuk kesembuhan sang wanita itu.
"Maafkan kami king. Kami sudah berusaha dan memberikan yang terbaik. Tapi ....
Ucapan samuel menggantung saat ia melihat Mari mengangkat tangannya memberi kode untuk diam. Membuat Samuel hanya menganggukkan kepalanya paham.
__ADS_1
Mark berjalan mendekati anak laki laki tersebut dan menyentuh bahunya pelan. Anak laki laki itu pun menoleh tanpa berkata sepatah kata pun.
"Jacob".
" Iya king". Jacob pun yang sejak tadi berdiri di depan pintu. Sekarang berjalan menghampiri kingnya .
"Siapkan pemakamannya sekarang juga!".
" Baik king". Jawab Jacob yang langsung beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut. Sedangkan team medis saat ini mulai ikut bergerak untuk membersihkan jenazah wanita itu.
" Bara kau bisa bergabung dengan kedua putra ku itu! ". Ucap Mark menunjuk si kembar.
" Namaku bukan Bara lagi karena itu nama yang diberikan ibuku dan hanya boleh dia yang memanggilku Bara". Jawab anak laki laki itu penuh penekanan.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang kau bisa bergabung dengan kedua putra ku Andes! ". Ulang Mark sambil menarik sudut bibir nya bangga.
Karena anak laki laki itu bisa tetap kuat meskipun ia baru saja kehilangan ibunya. Orang yang begitu berharga baginya. Dan satu satunya keluarga saat ini telah tiada untuk selama lamanya.
" Zello, Zein tolong jaga Andes! ". Perintah Mark pada kedua putranya.
" Dia bisa jaga dirinya sendiri Dad. Daddy bisa melihat bukan kalau dia bukan orang yang lemah ". Sahut Zello datar. Malah ia kembali fokus dengan gedget di tangan nya.
" Zello kau tidak boleh seperti itu!. Dia baru saja kehilangan ibunya. Sebaiknya kita menghibur nya bukan malah mengatainya." Sela Zein yang memang masih memiliki rasa Keprimanusian dibandingkan kakaknya itu.
"Aku bukan tempat hiburan untuk menghilangkan stres orang lain Zein. Kau saja yang hibur dia! Aku sibuk". Jawab Zello dengan santainya.
" Jangan hiraukan dia! Zello memang begitu orang nya. Tapi dia sangat baik". Ucap Zein mendekati anak laki laki itu yang bernama lengkap Andesta Barananda tapi saat ini ia hanya mau di panggil Andes saja dan mungkin akan menghilang kan nama Barananda nya juga.
__ADS_1
Andes pun hanya tersenyum pelit. Lalu menjabat tangan Zein yang telah menyodorkan tangannya sejak tadi padanya. Mark pun menarik sudut bibirnya ketika Andes malah duduk tepat di samping Zello. Dan tanpa perduli tatapan tajam dari putranya satu itu.
"Sepertinya mereka akan jadi partner yang tepat nantinya". Guman Mark sembari melangkah pergi meninggalkan kedua putranya dan juga Andes untuk berbicara pada team dokter dan juga Jacob.