
Fatih menepuk pelan bahu Arsen. Berusaha untuk memberi semangat pada sahabatnya itu agar ia bisa hidup berdampingan dengan keluarga baru papanya. Memang tidak mudah namun, Apa salahnya untuk mencoba saling menerima. Karena Papa Arsen juga butuh pendamping hidup yang bisa mengurusnya serta menjaga putranya.
Terlepas dari bagaimana sifat mama tiri Arsen nantinya. Yang penting untuk sekarang mungkin akan lebih baik untuk saling berinteraksi.
" Gue yakin loe bisa Sen! ". Ucap Fatih sambil tersenyum.
" Mungkin setelah kenaikan kelas ini, Gue akan pindah sekolah ke luar Negeri saja Fatih. Gue berencana tinggal bersama Oma disana. Karena gue belum bisa menerima semua ini". Tutur Arsen lirih.
Fatih bisa menebak jika sebenarnya Arsen hanya berusaha menghibur dirinya sendiri selama beberapa bulan ini. Bahkan, ia bisa menutupi semua masalah yang ia alami dengan sikap dingin dan datarnya itu.
" Loe yakin akan ninggin bokap loe Sen? ". Fatih kembali bertanya dengan nada tak kalah serius nya.
Sebab, sejauh yang Fatih tahu, Jika Arsen sangat menyayangi sang papa. Sejak mamanya meninggal Arsen hanya mempunyai sosok Papanya yang selalu ia andalkan. Bahkan, mendiang Mamanya juga sudah berpesan padanya. Untuk tidak membuat sang papa kecewa , Arsen juga sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan papanya dalam keadaan apapun.
Mungkin saat ini Arsen tengah kecewa akan Papanya. Sebab, sang Papa menikah tanpa meminta izin terlebih dahulu dengannya. Bahkan terkesan dadakan karena ketika papanya pamit untuk pergi bisnis. Begitu pulang sang papa malah membawa seorang wanita dan juga anak laki laki yang satu tahun lebih tua darinya.
__ADS_1
" Mungkin ini yang terbaik Fatih. Agar hubungan gue dan Papa bisa kembali membaik".
" Gue hanya bisa dukung loe Sen. Semoga loe juga bisa menjadi lebih baik lagi. Dan membuktikan sama semua orang. Jika loe bukan pria lemah! ".
Fatih ikut menyemati sahabat itu. Meskipun mereka bertemu sejak pertama kalinya masuk SMA. Namun, keduanya langsung akrab dan juga bersahabat dengan baik.
Arsen hanya tersenyum sambil menepuk bahu Fatih pelan. Ia begitu beruntung memiliki sahabat seperti Fatih. Yang selalu ada buatnya. Meskipun dalam keadaan apapun.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Zeera yang sudah berpenampilan sedikit tomboy dengan setelan hijab nya yang senada. Yaitu warna biru muda topi bewarna putih dan sepatu cat nya.
Gadis remaja itu memang tidak pantas lagi untuk duduk di bangku SMP. Ia malah lebih terlihat seperti anak SMA dengan penampilan seperti saat ini. Hanya saja wajahnya yang imut. Membuat gadis remaja itu terlihat semakin menggemaskan.
" Ra, Tolong fotoin gue dong!!! ".
__ADS_1
" Yaelah, jauh jauh ke puncak cuma jadi fotografer doang". Sahutnya menggeleng kan kepalanya.
" Perhitungan banget sih Ra, sama temen sendiri gitu amat".
Teman Zeera pun tampak memohon. Membuat Zeera yang enggan untuk masuk ke area perkebunan teh. Kini harus menginjakkan sepatu barunya ke dalam sana. Yanga mana masih terasa lembab karena embun pagi masih saja melekat di pucuk pucuk daun teh.
" Ogah ah, dingin banget lagi". Zeera pun langsung kembali naik ke area jalan setapak. Menjauh dari sela sela jalan untuk para pekerja mengambil daun tehnya.
" Gue dari sini aja ya ambil fotonya". Seru Zeera
" Serah lu dah!!. Yang penting hasil fotonya bagus dan keren. Awas aja kalau jelek".
" Noh, sewa aja fotografer sungguhan biar hasil jefretannya bagus!. Lah gue kan cuma fotografer abal abal". Balasnya asal membuat teman temannya langsung terkekeh akan semua lelucon dari gadis remaja cantik itu.
TBC
__ADS_1