
Sherly kembali masuk kedalam kamarnya menyusul suami dan putranya. Setelah tadi ia berbicara dengan bik Nur sang asisten rumah tangganya. Dimana bik Nur yang meminta bantuan majikannya untuk meminjam uang sebagai biaya pengobatan suaminya di kampung.
Ceklek...
Senyum Al mengembang ketika melihat kedatangan istrinya. Bahkan Fatih telah ia ganti bajunya dan telah ia tidurkan dalam box baby nya.
" Kenapa senyum senyum begitu bi? ".Sherly bertanya seraya mulai membuka cadar dan juga hijabnya.
Al beralih duduk dengan menyenderkan tubuhnya pada kepala ranjang. " Memangnya tidak boleh senyum pada istrinya sendiri? ". Goda Al menaik tutunkan alisnya.
Sherly hanya mengulum senyumnya sembari ingin melangkahkan kakinya menuju ruangan walk in closet setelah berhasil membuka hijab dan cadarnya.
" Mau kemana yang? ". Tanya Al yang menghentikan langkah Sherly. Membuat bumil itu langsung menoleh.
" Ganti baju dulu bi, Masa iya aku tidur pake gamis gini".
" Buka aja disini yang!. Gak usah jauh jauh. Sapa tau ada yang minta di remas". Seloroh Al dengan senyum cabulnya.
" Bilang aja kalau abi emang niat dari tadi ". Sahut Sherly yang sudah sangat paham.
__ADS_1
Al pun hanya terkekeh dan malah sekarang ikut turun dari ranjangnya. Menyusul langkah Sherly masuk kedalam ruangan walk in closet. Tatapan Al begitu mesum ketika melihat tubuh istrinya sudah hampir polos. Karena hanya menyisakan dalamnya saja.
Namun, beberapa detik kemudian Sherly malah dengan sengaja menanggalkan semua benang yang ia pakai. Hingga kini benar benar sudah sangat polos. Apalagi kulit putih mulus Shely yang selalu tampak menggoda untuk Al.
Dengan langkah pastinya ia segera menghampiri Sherly. Apalagi otak Al sudah mulai muncul kemesuman.
Greppp...
" Kau sengaja menggodaku? ". Bisik Al dengan menggigit kecil telinga istrinya. Memeluk erat dada istrinya. Karena perut istrinya sudah membuncit berisi baby girl nya.
" Aku tidak pernah menggodamu bi. Hanya saja Abi yang iman nya cetek, Makanya selalu tergoda ". Jawab Sherly meledek suaminya.
Satu tangannya pun ikut merambat kebawah sana menyentuh dataran memabukkan baginya. Hingga satu jarinya sudah menelusup masuk kedalam ruangnya.
" Akh... ".
" Abi... ".
Sherly mulai melenguh ketika jari Al mulai memainkan satu titik yang membuatnya geli bercampur nikmat. Hingga sensasi itu menciptakan keadaan dalam goa mulai mengeluarkan cairan sedikit lengket.
__ADS_1
" Cepet banget sih basahnya? ". Goda Al di sela ulahnya itu.
Kemudian Al juga masih sempat mengarahkan tangan Sherly untuk menyentuh mentimun kebanggaan nya. Dimana sang timun panjang berurat itu, Kini sudah menegang bak sebuah antena.
" Mau dimasukkan sekarang? ". Tawar Al dengan suara beratnya. Anggukan kepala istrinya membuat Al tak ingin membuang waktunya lagi.
Benar saja sepersekian detik selanjutnya, Keduanya sudah memulai penyatuan sang mentimun dengan kacang Almond itu. Sehingga hanya ada suara suara sakral menggoda. Apalagi saat Al menyatukan nya dari arah belakang.
Keduanya saling tatap dalam pantulan cermin bersar di depan mereka. Saling pandang dalam kobaran api gairah masing masing. Bahkan, sampai sampai keringet dan peluh saling menyatu. Sebagai bukti betapa dahsyatnya keduanya saling bertempur.
Entah sudah berapa kali Sherly mencapai klimaksnya. Namun, suaminya tetap saja bersemangat dalam ritualnya. Sampai di menit ke empat puluh lima kemudian. Al mulai mengerang, membuktikan permainan itu sudah akan berakhir.
Dan disaat bersamaan Fatih juga mulai menangis, Karena di tinggal sendiri dalam box nya. Saat suaminya sudah tidak kejang lagi. Sherly pun langsung mendorong pelan tubuh suaminya. Hingga Al langsung menyingkir lemas di karpet bulu ruangan walk in closet tersebut. Karena mereka juga sudah pindah sejak berganti gaya tadi.
" Fatih bisa tepat begini sih? ". Guman Al sembari memejamkan matanya.
" Pindah ke ranjang bi! ". Ucap Sherly sedikit berteriak.
"'Aku akan pindah kalo ada ronde kedua sayang". Tawar Al dengan santainya.
__ADS_1