
Zello menatap langit di atas sana dengan sorot mata yang tak bisa di tebak. Ia duduk di sebuah bangku yang ada di taman belakang. Setelah ia selesai mengerjakan ramuan obat untuk saudara kembarnya. Dan memberikan nya pada Jacob sang asisten Daddy nya. Zello memutuskan untuk pergi ke taman belakang.
Ia memang sangat dingin dan arrogant. Namun, sebenarnya Zello sangat peka akan semua hal. Terlebih saat ini ketika Zein terluka parah, hingga hampir saja bisa dikendalikan oleh orang yang licik. Karena sebuah dendam dan juga perebutan kekuasaan. Daddy nya sampai memiliki banyak musuh dimana mana. Dan mungkin hidup mereka tidak akan pernah merasa damai dan tenang.
" Obati dulu lukamu itu! ".Andes menyodorkan kotak obat P3K pada Zello dan ikut mendadatkan bokongnya di samping Zello.
Zello pun mengambil kotak obat itu dan mulai mengambil kapas dan alkohol untuk menghentikan pendarahan pada luka di lengan nya.
" Apa luka yang kau alami ini tidak sama seperti luka pada Zein??". Tanya Andes yang belum begitu paham akan semua masalah sebenarnya. Karena ia malah disibukkan akan baby Cici yang terus saja menempel padanya.
__ADS_1
Zello masih diam dan masih fokus pada luka di lengan tangannya. Bahkan anak itu sama sekali tidak berekspresi apapun saat lukanya ia bersihkan seperti itu. Zello memang lain dari yang lain. Mungkin, jika anak pada umumnya akan menangis kejer kejer saat luka sebesar itu di bersihkan dengan alkohol seperti Zello saat ini.
" Jika aku mengalami hal yang sama dengan Zein. Mungkin saat ini aku hanya tinggal nama saja. Bahkan aku pasti akan mengalami hidup seperti robot". Zello mulai angkat bicara.
" Ini hanya luka kecil saja Ndes. Kau tidak perlu khawatir begitu padaku!. Kau tau kan jika aku bukanlah orang yang bodoh". Sambung Zello masih dengan nada dinginnya.
Andes hanya bisa menarik nafasnya lega. ". Zein sudah mulai normal kembali, bahkan anehnya luka Zein pun sudah mulai mengering. Kau sungguh hebat Zello". Puji Andes sangat tulus.
Karena begitulah Zello yang tidak pernah memperlihatkan perasaannya pada siapapun juga. Termasuk kedua orang tuanya. Sifatnya terlalu tertutup dan bisa dibilang penuh dengan rahasia. Bahkan, ekspresi Zello sangat lah susah untuk di tebak. Kapan dia bahagia, sedih atau pun pusing. Wajahnya selalu saja sama. Selalu datar dan dingin.
__ADS_1
Bahasa tubuh Zello juga tidak bisa di nilai meskipun pakar psikologi sekali pun. Intinya hanya dirinya sendiri dan tuhanlah yang tahu apa yang sedang Zello rasakan.
" Apalagi yang ingin kau lakukan Zello??? ". Tanya Andes saat Zello kembali memainkan laptopnya yang memang ia bawa sejak tadi.
Zello menatap Andes dengan seringai licik nya. " Sepertinya sudah saatnya memberikan hadiah kecil untuk mereka, karena mereka sudah berani melukai saudara kembar ku". Jawab Zello semakin menyeringai.
" Bagaimana kalau mereka bisa melacak lokasi kita saat ini??? ". Andes tampak khawatir ketika Zello akan memainkan perannya lagi. Karena menurut Andes kali lawan mereka bukanlah orang sembarangan juga.
Jika dilihat dari cara cara licik mereka. Bis di pastikan jika orang orang itu sangat lah paham ilmu IT dan juga bahan bahan herbal lainny. Mungkin otak mereka tak kalah jauh dari Zello. Sehingga hanya dengan sebuah goresan kecil saja. Virus yang mereka buat bisa menyebar keseluruh jaringan saraf tubuh manusia.
__ADS_1
" Kau tenang saja Ndes!!. Orang licik itu akan lebih afdol jika dibalas juga dengan kelincikan". Zello menjawab dengan nada bicara seolah ia sudah tahu apa yang akan ia lakukan. Dan ia juga sudah bisa membaca susana akan langkah yang akan ia jalankan.