
Dokter Nurmantyo pun nampak keluar ruangan dengan wajah yang sangat Lesu. Serta penampilan yang tak serapi biasanya. Membuat semua orang kini menatap nya dengan tatapan yang berbeda beda. Terutama para karyawan rumah sakit. Mereka malah tersenyum.
Karena selama bekerja di rumah sakit tersebut mereka nampak tertekan. Bahkan penuh dengan aturan yang tidak masuk akal. Sedangkan para Dokter juga butuh waktu untuk istirahat. Tidak mungkin menangani pasien dengan keadaan yang tidak fit. Bisa fatal akibatnya.
Selain itu juga Dokter Nurmantyo juga telah menggelapkan dana rumah sakit selama bertahun-tahun. Ia sangat pandai memanipulasi data. Sehingga tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali.
Jery memang tidak terlalu fokus dengan bisnis kesehatan keluarga nya. Ia hanya menganggap rumah sakit itu sebagai sarana pembantu bagi orang orang yang butuh pertolongan. Dan ia menyerahkan semuanya pada Kepala rumah sakit yang memang sudah ditunjuk oleh sang Papa dulu.
Bahkan sebenarnya rumah sakit itu juga tidak pernah membedakan kalangan orang sama sekali. Yang mereka utamakan adalah keselamatan pasien. Dan untuk biaya itu bisa di bantu dengan jalur khusus.
Bahkan rumah sakit yang dibangun oleh keluarga Bagaskara itu. Menyediakan pengobatan gratis bagi rakyat yang memang tidak sanggup untuk membayar biayanya. Dengan dibantu oleh penanggung jawab setiap daerah tempat tinggal mereka.
Tapi dana yang sudah disiapkan untuk membantu orang banyak. Malah di tenggelamkan oleh Nurmantyo dan masuk ke kantong pribadinya sendiri. Bukannya di salurkan untuk umum dan orang orang yang memang membutuhkan tenaga medis. Ia hanya fokus memperkaya dirinya sendiri.
Awalnya Al juga tidak tahu jika rumah sakit tempat Sherly bekerja itu adalah rumah sakit keluarga nya sendiri. Yang ia tahu hanya satu rumah sakit yang tak kalah mewahnya juga. Dan itu terletak di pusat kota.
__ADS_1
Tapi ketika ia mengetahui jika itu adalah rumah sakit masih milik keluarga nya. Al langsung mencari tahu siapa pemimpin yang di percaya kan oleh keluarganya. Hingga kejanggalan kejanggalan terbuka satu persatu. Dengan bantuan para team khususnya juga. Al berhasil membongkar hasil kerja Nurmantyo selama bertahun-tahun ini.
Sherly menatap datar pada dokter seniornya itu. Ketika Nurmantyo lewat di depan matanya. Sedangkan pria yang tadi sempat berada di dalam ruangan kerja Nurmantyo. Sudah pergi begitu tahu nasib Nurmantyo selanjutnya tidak akan baik baik saja.
"Maaf aku belum sempat memberitahu mu!! ".Lirih Al ketika ia keluar ruangan dan menghampiri istrinya yang masih saja berdiri tidak jauh dari ruangan kerja sang Direktur.
Sherly mendongakkan kepalanya. Menatap wajah suaminya yang selalu saja bisa menenangkan jiwanya. " Jadi, selama ini aku bekerja di rumah sakit milik keluarga suamiku sendiri dong".Sahut Sherly sambil tersenyum.
"Milik suamimu Sherly. Karena mulai hari ini semua tanggung jawab rumah sakit akan diserahkan pada Al ".Potong Rayen sambil menepuk bahu putranya.
" Tapi Pa, Sherly pasti akan jadi dokter pemalas jika Al yang menjadi direktur rumah sakit ini".Ucap Al sembari melontarkan sindiran nya pada sang istri.
"Sayang... aku tidak sepicik itu".Jawab Sherly mencubit gemas perut suaminya.
Rayen pun hanya tersenyum melihat interaksi putra dan menantunya itu. Ia lega sekarang anak anak nya sudah mendapatkan pasangan hidup semuanya. Dan hubungan mereka juga banyak diliputi kebahagiaan. Hanya saja Rayen sedikit menghela nafasnya . Ketika ia kembali mengingat masalah jery. Putra pertamanya saat ini.
__ADS_1
"Papa kenapa??? ".Al bertanya seraya menatap wajah sang papa yang terlihat seperti memikirkan sesuatu.
" Papa baik baik saja Al".Senyum Rayen mengembang berusaha menyimpan pemikiran nya sendiri. Dan ia tidak mau membuat Al juga ikut kepikiran akan masalah kakaknya.
"Sudah waktunya makan siang. Apa kalian ingin makan siang bersama Papa sekarang??? ".Tawar Rayen pada anak dan menantunya.
Al dan Sherly pun nampak saling tatap. Lalu mereka mengangguk kan kepalanya secara bersamaan. Membuat Rayen kembali tersenyum. Sangat jarang baginya bisa makan bersama dengan anak dan menantunya. Mungkin moment yang selalu di tunggu tunggu oleh Rayen dan Lea adalah bisa makan satu meja dengan anak anak dan para menantunya serta cucu cucunya.
"Papa telpon Mami dulu ya. Kita makan di luar saja!! ".Ucap Rayen sambil merogoh ponselnya. Menghubungi sang istri yang ada di rumah bersama cucunya.
" Assalamu'alaikum sayang".Lirih Rayen yang masih bisa di dengar oleh Al dan Sherly. Meskipun Rayen nampak berjalan ke ujung ruangan untuk berbicara lewat sambungan telpon dengan istrinya.
Al ikut mengulum senyum. Melihat interaksi yang terjalin antara kedua orang tuanya. Meskipun usia mereka tidak muda lagi. Tapi mereka masih tetap saja romantis dan selalu harmonis. Rumah tangga seperti itulah yang diharapakan oleh Al nantinya.
Sepahit dan seberat apapun beban hidup dalam berumah tangga. Al menanamkan dirinya untuk tetap tidak goyah, Dan selalu teguh pendirian. Karena prinsip Al, kalau bisa cukup satu kali seumur bhidupnya untuk menikah.
__ADS_1
Apalagi ia adalah seorang prajurit TNI dan aparat negara. Yang tidak boleh memiliki istri lebih dari satu.