
Mension Mark...
Naura baru saja selesai memandikan baby Cici. Waktu baru menunjukkan pukul tujuh pagi. Itu artinya di Jakarta saat ini lebih kurang pukul tujuh malam. Karena perbedaan waktu Jakarta dengan Amerika sekitar 12 jam.
Sudah satu minggu ini mereka kembali menempati mension yang luas dengan desain modern. Bahkan saat pagi seperti ini suara kicauan burung terdengar sangat merdu. Wilayah yang masih sangat asri. Jauh dari pusat kota.
Tempat seperti inilah yang di sukai oleh Zello. Salah satu putra mereka, Yaitu saudara kembar Zein. Pelayan dan chef sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarga kingnya. Setelah mereka kembali para pelayan tampak begitu semangat. Apalagi suasana mension malah lebih ramai.
Ketiga putra Mark dan Naura karena sekarang bertambah Andes. Belum lagi kadang suara tangis baby Cici yang sering di buat rusuh oleh Zein sang kakak. Tak jarang Zein sering mendapatkan tatapan tajam dari Andes dan juga Zello.
Naura keluar kamar setelah baby Cici yang usianya kini sudah jalan lima bulan. Tampak begitu segar dan wangi khas baby seusianya. Di tambah lagi parfume khusus baby yang membuat Cici selalu di unyel unyel oleh Mommy nya sendiri.
" Morning". Sapa Naura yang memang semua orang hanya tinggal menunggu nya untuk sarapan bersama.
__ADS_1
" Morning sayang, Morning Mom". Jawab Mark beserta ketiga putranya yang saat ini sudah duduk di kursi masing masing.
Membuat pelayan langsung sigap untuk mengisi piring para tuan muda nya. Sedangkan untuk Mark, Naura selalu ingin dia yang melayani suaminya sendiri. Setelah memberikan Cici pada babysitter nya Naura pun mulai mengambil kan menu sarapan untuk sang suami.
" Thank you sayang". Ucap Mark yang di jawab dengan anggukan kepala dan juga sebuah senyuman manis oleh Naura.
Semua orang tampak diam menikmati sarapannya. Tanpa ada yang ingin membuka suara sedikitpun. Kecuali suara sendok dan garpu saja. Karena Mark akan menegur mereka saat di meja makan ada yang berbicara.
Beberapa menit kemudian semua sudah selesai sarapan . Dan Mark pun mulai mengambil kain khusus untuk menyeka sisa makanan di bibirnya. Lalu ia menatap ketiga putranya yang saat ini pun sudah menyelesaikan sarapannya.
" Oke Dad". Jawab Zein cepat dan kalau Andes dan juga Zello jangan ditanya keduanya hanya berdehem saja.
Naura pun ikut bangkit dari tempat duduknya. Mengikuti langkah suami dan juga ketiga putrany. Baby Cici yang sedang bermain bersama babysitter di teras depan pun ikut menoleh saat mendengar langkah kaki dari arah dalam mension.
__ADS_1
Keempat pria itu mulai berpamitan pada Naura. Dan mereka juga masih sempat mencium baby Cici . Dimana Baby Cici sedang berada di stroller nya.
" Hati hati di jalan!!!. Pulangnya jangan terlambat sayang!! ". Seru Naura memperingatkan ke empat pria berbeda usia itu.
" Yes Mom" . Para Putra Naura yang menjawab sedangkan Mark pun hanya mengangguk kan kepalanya saja.
Ketika ke empat pria itu sudah pergi. Mension akan kembali sedikit sepi. Karena hanya ada Naura, baby Cici dan juga para pekerja di mension. Meskipun Mension besar dan luas itu di jaga ketat oleh para bodyguard handal dan terlatih. Namun, tetap saja mereka hanya seperti patung hidup. Yang tak akan bergerak jika tidak di perintahkan oleh tuan nya.
Jauh dari keluarga besarnya kadang membuat Naura sedih. Namun, mau bagaimana lagi. Ia sekarang sudah menjadi seorang istri yang telah memiliki anak. Tugasnya hanya manut dan mengikuti kemana suaminya membawanya. Selama langkah dan jalan suaminya benar.
Naura juga mulai bnyak belajar mandiri. Meskipun suaminya juga tidak pernah menuntut banyak hal akan dirinya. Sebab, semua keperluan dan kebutuhan sudah tinggal menikmati nya saja. Mark masih sanggup membayar banyak pelayan untuk sekedar urusan mension.
Tapi, Naura juga ingin merasakan menjadi seorang istri yang pandai memasak. Bisa melakukan pekerjaan rumah seperti saudaranya yang lainnya. Bahkan, Maminya sendiri juga tidak pernah menyuruh art nya masak makanan untuk keluarga nya sendiri.
__ADS_1
" Baiklah sayang, Mulai hari ini Mommy akan terus semangat untuk belajar banyak hal". Seru Naura dengan senyum di bibirnya. Karena ia sadar sekarang usianya semakin hari semakin bertambah saja.