
Satu bulan kemudian...
Tak terasa waktu terus berjalan, kehidupan pun semakin hari semakin terlewati dengan berbagai cerita. Kini usia baby Fatih sudah mau jalan dua bulan. Fatih tumbuh kembang dengan baik, dan setiap hari selalu saja nambah akal.
Pipinya yang gembul membuat semua orang menjadi gemas sendiri. Dan ingin sekali mencubitnya. Tapi, Fatih seperti nya semakin hari semakin menunjukkan sifat seperti Uminya. Ia sangat jarang tertawa ataupun senyum. Namun, wajah tampan nya yang kombinasi antara asia dan juga Italia. Membuat baby itu semakin memancar aura dua negara yang berbeda dan menjadi satu dalam dirinya.
Hidung yang mancung, kulit putih dan mata yang sedikit sipit. Sayangnya malah lebih terlihat menuruni sifat Uminya, yang memang kalem dan tentunya tidak konyol seperti Abi nya.
Sherly pun sekarang telah di tunjuk Al untuk mengambil alih menjadi direktur utama rumah sakit miliknya. Karena Al sudah mulai sibuk dengan bisnis dan juga pekerjaan nya sebagai abdi negara. Meskipun Al sekarang tidak pernah lagi di tugaskan ke luar wilayah. Namun, kemunculan minggu depan ia akan keluar kota.
Kewajibannya sebagai seorang prajurit harus tetap di laksanakan. Karena itu adalah resiko yang harus ia ambil saat Al memutuskan untuk menjadi seorang prajurit .
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Dimana Sherly saat ini masih sibuk dengan para pasien nya. Sebagai seorang psikiater Sherly masih tetap menerima pasien nya. Ya meskipun hanya beberapa orang saja, Yang memang sudah cocok dengannya. Selebihnya di tangani oleh dokter yang lainnya.
__ADS_1
Sherly bisa bernafas lega ketika pasien terkahir nya sudah selesai konsultasi dengannya. Lalu, Sherly pun langsung melirik jam di pergelangan tangannya. Hari ini ia akan pulang lebih awal. Karena setiap seminggu sekali. Sherly memang hanya sampai waktu makan siang saja ada di rumah sakit.
Tok...
Tok...
Tok...
" Masuk!! ".
" Dari siapa Sus??? ".Sherly sedikit bingung karena ia merasa tidak pernah membeli apapun.
" Dropship sepertinya dok. Karena tak ada nama pengiriman nya".Perawat itu pun tampak membolak balikkan paket tersebut.
__ADS_1
" Oh, yasudah silahkan taruh saja di meja!!! ".Sherly sedang membuka blazer dinasnya dan menggantungkan nya pada gantungan khusus tepat di belakang kursi kerjanya.
" Makasih Sus".
" Sama sama dok. Kalau begitu saya permisi dulu dok".Sherly hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Meskipun senyumnya tidak terlihat jelas, namun setidaknya perawat itu atasannya selalu tersenyum pada mereka.
Selepas sang Perawat pergi keluar ruangan. Sherly pun langsung mengambil paket tersebut. Karena penasaran dengan isinya Sherly pun mulai membuka paketnya.
Senyum Sherly mengembang saat ia melihat isi paket tersebut. Dimana disana adalah sebuah undangan untuknya dan juga Al. Serta keluarga besarnya yang ada di Jakarta.
" Oh, ya ampun Tania. Kau itu mau kasih undangan saja mesti harus kirim paket segala sih? ". Sherly pun hanya menggeleng kan kepalanya saja. Padahal lewat ponsel saja kan sebenarnya bisa. Malah lebih praktis lagi.
Bahkan di dalam undangan tertulis warna baju yang harus dipakai. Sepertinya Tania dan Reza mengulur waktu untuk acara pernikahannya. Hanya untuk menyiapkan sebuah pesta yang mewah.
__ADS_1
Dan pernikahannya Tania dan Reza juga akan di adakan di pulau Bali. Entahlah kenapa mereka berdua malah memilih pulau dewata untuk menikah. Padahal mereka saat ini ada di luar negeri.
" Akhirnya mereka berdua jadi nikah juga". Guman Sherly tersenyum sendiri. Apalagi jika ingat kelakuan keduanya dulu. Seperti tidak bisa akur barang sedikit saja.