
Tiga Hari kemudian...
Setelah selesai menghadiri resepsi pernikahan sepupunya. Kini Al dan Sherly sudah kembali beraktivitas lagi. Jika Sherly sudah bekerja menjual jasanya sebagai seorang psikolog. Sedangkan Al kini masih menikmati waktu cutinya. Yang ia gunakan untuk belajar bisnis.
Bahkan hari ini Al sejak pagi sudah berada di perusahaan Bagaskara group. Ia mulai tertarik menggeluti dunia bisnis. Karena menurut Al jika memang waktunya bersama sang istri dan calon baby nya lebih terkontrol. Maka Al juga akan memutuskan untuk pensiun dini dari kemiliteran.
Tapi untuk saat ini Al masih ingin menjalankan keduanya. Kewajiban nya sebagai seorang prajurit dan sebagai pembisnis hebat seperti para saudaranya. Meskipun tanpa harus turun tangan ia juga ikut kebagian hasil. Tapi, sepertinya kali ini Al akan ikut andil juga mengurus perusahaan.
Namun, Al juga tidak mau mengganggu gugat perusahaan dari Opa Bagas yang selama ini telah diserahkan pada kakaknya Jery. Meskipun mereka semua juga memiliki saham disana. Al ingin memulai bisnisnya sendiri.
Sama seperti Naures yang kini juga bisa sukses dengan jerih payahnya sendiri. Bahkan adiknya itu kini sudah memiliki cafe di berbagai cabang sampai luar kota. Tak hanya itu bengkel modifikasi nya juga sudah memiliki cabang. Belum lagi Naures juga kembali memulai bisnis properti nya.
Kakak dan adiknya itu memang sama sama jago dalam hal bisnis. Dan tidak usah di ragukan lagi. Kakaknya Jeny juga terus mengembangkan karirnya di dunia fashion. Sedangkan Naura adik bungsunya itu juga memiliki perusahaan entertainment. Yang hanya tinggal menikmati hasilnya saja. Meskipun ia tidak turun tangan sendiri. Sebab, semuanya sudah di atur oleh suaminya Mark.
__ADS_1
Dan kini giliran Al yang akan ikut mengembangkan sayap nya. Mengikuti jejak para saudaranya. Al berpikir masa iya dia kalah dari Jeny dan juga Naura. Yang memiliki suami tajir melintir dan tidak akan hidup susah sampai tujuh tanjakan, tujuh tikungan dan tujuh belokan. Saking tak bisa lagi menghitung asset para suaminya. Namun, mereka berdua juga tetap berkarir.
" Selamat bergabung adik ku". Seru Jery dengan senyum lebarnya. Menyambut kedatangan Al yang mungkin bisa di hitung dengan jari masuk keperusahaan.
"Tidak usah berlebihan kak!. Aku hanya ingin mampir dan lihat lihat saja". Jawab Al sekenanya. Tapi ia sembari menarik sudut bibirnya.
" Terserah kau saja!. Tapi yang jelas perusahaan ini bukan hanya milik kakak saja. Tapi kalian semua ada hak disini. Jadi , jangan lupakan poin pokok itu! ".
" Aku hanya ingin mencoba duduk di kursi kerjamu ini". Al langsung melewati Jery dan mendaratkan bokongnya dengan sangat santai pada kursi kebesaran Jery. Ia juga sampai merentangkan kedua tangan nya.
Hal itu membuat Evi ingin sekali tertawa tapi ia tahan. Karena aksi konyol sang adik bosnya tersebut. Sedangkan Jery hanya bisa menggeleng kan kepalanya saja. Melihat kelakuan Al saat ini.
"Apa di tempat kerjamu tidak ada kursi seempuk ini??? ". Ledek Jery yang kini menarik salah satu kursi yang ada di depan meja kerjanya. Sembari terus menatap wajah adiknya.
__ADS_1
" Hahhaha... Tidak lucu kak kalau kami pegang senjata dengan wajah yang penuh coreng menyoreng duduk di kursi semahal ini". Al tertawa terbahak bahak membayangkan jika mereka sedang bertugas di tengah hutan maka duduk santai di kursi sebagus milik kakaknya itu.
"Kakak itu ada ada saja". Al menggeleng kan kepalanya. Membuat sang kakak hanya menarik sudut bibirnya.
" Baiklah, sekarang apa yang harus aku lakukan di sini?. Jangan membuatku menganggur saja kak!. Aku tidak mau seperti orang tidak berguna". Seloroh Al sambil bangkit dari kursi kerja kakaknya.
" Sepuluh menit lagi ada meeting dewan direksi. Dan kau boleh ikut hadir!. Karena Papa dan Naures juga akan hadir ". Jery ikut bangkit dari tempat duduknya.
" Kalau aku tidak mau??? ". Jawab Al menaik turunkan alisnya.
" Maka siap siap saja, sahammu aku ambil alih". Seru Jery sembari mulai melangkah kan kakinya keluar ruangan kerjanya.
"Haiss... ".
__ADS_1