Di Balik Cadar Persitku

Di Balik Cadar Persitku
Tak Bisa Di Bodohi


__ADS_3

Malam harinya di Mension Mark...


Naura yang baru saja keluar dari kamar utama. Karena ia juga baru selesai mandi. Suaminya mungkin akan sedikit terlambat pulangnya. Karena tadi Mark juga sudah menelpon nya.


" Anak anak ayo makan malam dulu!!! ". Naura mulai memanggil ketiga putranya yang saat ini tengah berada di ruang keluarga dengan Zein yang sedang mengajak baby Cici mengobrol.


Kalau Zello dan Andes mereka berdua hanya jadi pendengar setia saja. Sambil sesekali ikut tersenyum saat baby Cici memukul mukul pipi Zein sambil terkekeh dan memainkan ludahnya.


" Apa Daddy akan pulang terlambat lagi Mom??? ". Zello mulai bertanya saat mereka telah duduk di kursi masing masing di meja makan itu.


" Yah begitulah boy. Kalian tahu Daddy bekerja juga untuk kalian kan. Jadi, kalian harus terbiasa akan hal itu dan memaklumi kesibukan Daddy!! ".


Ketiga putranya hanya menganggukkan kepalanya paham. Karena apa yang dikatakan oleh Naura adalah benar adanya. Kadang juga Naura merasa suaminya itu terlalu sibuk. Namun, balik lagi Naura berpikir dengan mulai dewasa. Semua yang di lakukan Mark adalah untuk masa depan keluarga nya juga.

__ADS_1


Jadi, sebagai seorang istri yang baik. Naura berusaha untuk menjadi seorang istri yang sholehah. Dan tidak pernah menuntut hal lebih. Kecuali, Jika Mark juga tidak memperdulikan dirinya dan anak anak.


Namun, sejauh ini Mark juga masih bisa mengatur waktu dengan baik. Meskipun ia selalu sibuk, Setidaknya jika hari weekend Mark akan menghabiskan waktu bersama keluarga nya di mension. Atau kadang juga jalan jalan meskipun hanya sekedar piknik kecil kecilan saja.


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam. Naura masih belum begitu terlelap saat Mark baru saja pulang. Pria itu bahkan masih saja terlihat rapi dan wangi maskulin dari tubuhnya membuat Naura sangat paham. Jika suaminya pasti sudah ada di mension.


Ceklek...


Suara pintu kamar utama mulai terbuka dari luar. Karena setiap ruangan di mension selalu memakai acces card. Tak terkecuali kamar utama tentunya. Naura pura pura memejamkan matanya.


Saat suara langkah kaki suaminya mulai terdengar semakin mendekat kearah ranjang. Sedangkan baby Cici memang Naura tidurkan di sampingnya. Dengan bantal guling di sisi kiri nya. Agar Cici tidak menggelinding dan jatuh ke lantai.

__ADS_1


Mark tersenyum melihat anak bungsu dan juga istrinya yang sudah memejamkan matanya. Hari ini begitu menguras otak dan pikirannya. Apalagi detik detik acara pernikahan Reza dan Tania. Tentunya itu harus di persiapkan dengan benar dan mereka tetap harus waspada.


Sebab, jika mereka lengah maka musuh akan lebih muda menyerang mereka. Karena sampai saat ini, Musuh Mark juga belum habis. Ibarat nya mati satu tumbuh seribu. Ada banyak klan nya yang memang ingin mengambil alih kekuasaan Mark.


Apalagi saat ini meraka juga tinggal di Negara yang memang cenderung bebas. Dan siapa yang kuat dia yang berkuasa. Bahkan bisa dibilang tempat tinggal Mark saat ini sangat bebas.


" Berhentilah pura pura tidur sayang!!!. Aku masih bisa merasakan detak jantungmu yang selalu berdebar itu". Mark mulai membuka kancing kemejanya bahkan pria itu sam sekali tidak menoleh saat berbicara.


Naura mengulum senyumnya. Suaminya itu memang benar benar jelih dan tidak bisa di bodohi. Padahal lampu di kamarnya sudah Naura padamkan. Hingga hanya ada lampu tidur saja di atas nakas. Tapi, bukan Mark namanya kalau ia tidak tahu.


" Kenapa pulangnya selalu larut begini??. Apa kau sudah makan? ". Naura mulai bangkit dan duduk di sisi ranjang menatap punggung Mark yang kini hampir polos.


" Ah, kenapa kau malah buka baju seperti itu Vian?. Apa kau sengaja menggodaku? ". Naura benar benar tak ingin berkedip dari tubuh sixpack suaminya itu. Meskipun mereka sudah memiliki 3 anak. Tapi, kalau kekuatan suamimya di atas ranjang masih tetap sama seperti dulu. Apalagi si Imron yang sudah klop dengan siti.

__ADS_1


__ADS_2