
Jendral Wun Baie tidak hanya kehilangan anaknya, tetapi pasukan panji hitam yang telah dilatihnya selama ini hancur hanya dalam hitungan menit.
***
Di sisi lain, gerbang kota kiwi.
Haacuuhhh!!
Xhin tiba-tiba bersin, tangan kanannya mengelus hidungnya yang tiba-tiba gatal. "Siapa yang sedang memakiku, rune peledak juga telah di picu... Mungkin saja orang yang terkena ledakan rune peledak, tapi siapa orang itu sehingga bisa selamat dari rune peledak milikku" gumam Xhin yang sedang berada di dalam antrian untuk memasuki kota kiwi.
Xhin melangkah maju karena sekarang gilirannya untuk diperiksa sebelum memasuki kota kiwi, ekspresi wajah kedua prajurit yang bertugas terlihat jelas akan keserakahan di mata mereka, kedua prajurit penjaga itu terlihat sangat gembira, mereka berdua tersenyum kesenangan seperti harimau menemukan mangsanya.
"Ehhem... Kamu terlihat seperti orang baru, cara berpakaianmu saja tidak terlihat seperti berasal dari kerajaan dewa tanah" ucap penjaga gerbang yang menebak kalau Xhin tidak berasal dari kerajaan Dewa Tanah.
"Aku memang bukan berasal dari kerajaan Dewa Tanah, aku juga seorang pengembara yang hanya ingin singgah sebentar di kota kiwi untuk menginap selama beberapa hari dan juga sekalian membeli persediaan untuk bekal perjalananku" jawab Xhin.
"Ehhem... Seratus batu roh kualitas bawah kamu bisa memasuki kota ini" ucap penjaga gerbang yang sedari tadi berbicara dengan Xhin.
"Ehhem... Aku merasa kalau untuk nginap beberapa hari kamu mungkin harus menambah seratus batu roh lagi, maaf semua ini hanya untuk menjamin keamanan" ucap penjaga gerbang yang sedari tadi berdiri di belakang penjaga gerbang yang berbicara dengan Xhin pertama tadi.
"Kalian bersenang-senanglah dahulu, karena kerajaan yang kalian bangun ini akan dihancurkan" batin Xhin melihat keduanya secara bergantian.
"Tatapan matamu sangat menyeramkan jadi jangan menatap kami begitu" ucap penjaga gerbang yang pertama.
Memang benar, mata Xhin merupakan mata naga jadi pantas saja kalau kedua penjaga itu ketakutan saat menatap mata Xhin.
Xhin kemudian mengeluarkan sebuah cincin ruang dengan ruang penyimpanan berukuran kecil, cincin penyimpanan itu telah di isi dengan dua ratus batu roh kualitas bawah, cincin penyimpanan itu lalu di berikan kepada salah satu dari kedua penjaga itu.
"Didalam cincin penyimpanan ini terdapat dua ratus batu roh untuk kalian berdua" ucap Xhin memberikan cincin penyimpanan itu lalu melangkah pergi.
"Karena kamu berbaik hati, jadi aku akan memberitahukan sebuah informasi penting, aku rasa kamu akan tertarik dengan informasi ini" ucap penjaga yang menerima batu roh sehingga langkah Xhin terhenti saat mendengar ucapannya.
"Informasi penting apa, aku hanya seorang pengembara yang cuman singgah sebentar doang, adapun informasi penting mungkin aku tidak tertarik" jawab Xhin yang menghentikan langkah kakinya sebentar saat membalas perkataan dari prajurit itu.
__ADS_1
"Pelelangan! Ada sebuah senjata spirit kuno yang di duga peninggalan dari peperangan ribuan tahun lalu, senjata spirit kuno itu ditemukan tidak lama ini dan akan dilelangkan dua hari lagi, aku tidak tahu senjata jenis apa tapi yang intinya senjata ini berkemungkinan besar berada di tingkat surgawi" ucap penjaga gerbang tersebut.
Orang-orang yang sedang antri untuk memasuki kota kiwi juga mendengar ucapan penjaga tersebut tetapi mereka melihat ke arah lain seolah-olah tidak mendengarkan apa-apa, karena menurut mereka lebih baik tidak banyak mengetahui hal-hal yang dapat membuat mereka kehilangan nyawa mereka kapanpun.
Xhin kini telah berjalan menelusuri jalan setapak di depannya, terlihat banyak sekali orang-orang berlalu lalang, ada juga yang menjual buah-buahan, daging beast monster dan juga peralatan kultivator.
"Apa yang harus aku lakukan di kota ini? Bagaimana cara agar aku bisa membuat kekacauan besar tanpa ada yang menyadari kalau aku penyebabnya?" Batin Xhin bertanya-tanya pada dirinya sendiri. "Apakah senjata spirit kuno itu kuncinya? Tapi tanpa aku buat kekacauan juga pasti akan terjadi dengan sendirinya, para kultivator dewa lain pasti tidak akan tinggal diam, mereka pasti akan bertarung untuk memperbutkan senjata itu mati-matian" batin Xhin yang tanpa sadar dia telah berjalan sangat jauh tanpa arah tujuan.
"Lebih baik aku cari penginapan dulu" batin Xhin.
Xhin kemudian mencari penginapan untuk beristirahat, dia melihat sebuah penginapan yang cukup megah di tempat di depannya, tidak menunggu lama Xhin lansung berjalan memasuki penginapan tersebut.
"Penginapan Lantera" Xhin membaca papan nama yang tertera di bagian depan penginapan itu.
"Selamat datang di penginapan kami" ucap resepsionis perempuan yang sedang berjaga.
"Aku ingin memesan sebuah kamar yang tenang untuk beberapa hari" ucap Xhin.
"Harga untuk satu malam sebesar lima ratus batu roh kualitas bawah tuan, karena kamar yang Anda inginkan merupakan kamar Deluxe, keamanan dan kenyamanan juga yang paling terbagus di kota kiwi" ucap resepsionis perempuan dengan ramah karena melihat dari pakaian yang di kenakan Xhin, dia berspekulasi kalau Xhin berasal dari keluarga bangsawan.
"Silahkan anda ikuti temanku itu tuan" ucap perempuan resepsionis menunjuk ke arah pelayan yang sedang berdiri di dekat anak tangga, dia juga menggunakan isyarat mata kalau pelanggan ini tidak boleh di singgung sembarangan.
Xhin lalu berjalan mengikuti pelayanan itu menaiki tangga menuju lantai paling atas, sesampainya di kamar Xhin lansung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, tidak butuh waktu lama untuk Xhin menjelajahi alam mimpinya.
Belum lama tertidur, kini terdengar kehebohan yang terjadi di gerbang kota kiwi, para prajurit lansung berhamburan untuk mencari tau apa yang terjadi, tetapi saat mata mereka melihat siapa penyebab keributan ini tubuh mereka lansung bergetar hebat, mereka tidak menyangka kalau jendral Wun Baie yang merupakan jendral terkuat di kerajaan dewa tanah pun bisa terlihat seperti orang sekarat.
"Bukannya jendral baru pergi bersama pasukan panji hitam, terus kenapa baru sebentar pergi tubuh jendral malah terluka parah seperti ini, kemana juga para pasukan panji hitam" ucap salah satu prajurit yang baru datang
"aku juga tidak tahu, kok tanya aku... dasar tolol, tanya aja lansung ke Jendral" jawab rekan prajurit itu tanpa memindahkan pandangannya dari tubuh jendral Wun Baie.
Tubuh jendral Wun Baie di penuhi dengan luka dan darah, sedangkan di bahu kanannya terdapat Ma Hong yang sedang dalam keadaan pingsan, sementara itu di tangan kirinya dirangkul mayat anaknya dari pinggang.
"Kalian!! Bawa Ma Hong ke rumahnya lalu Carikan dia tabib dan juga kalian secepatnya persiapkan acara pemakaman untuk anaku... cepat!!" Teriak jendral Wun Baie dengan suara lemah ke sekumpulan prajurit yang terlihat mematung.
__ADS_1
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^