
"Oh.. itu penyebabnya, ayo kita masuk ke dalam goa" ucap Mao Le.
Setelah memasuki Goa, Mao Le di kejutkan dengan ribuan kerangka manusia maupun beast monster.
"Banyak sekali tulang-tulang manusia" batin Mao Le.
Setelah masuk semakin dalam kini mereka tiba di tempat kristal tersebut.
"Wah.. begitu indah sekali, ini bagaikan berdiri di tengah langit penuh bintang" ucap Mao Le.
"Walaupun tidak sebanding dengan Goa misterius, tapi tempat ini tidak kalah juga" lanjutnya.
"Jangan bengong saja, ayok bantu aku untuk mengambilnya" ucap Xhin yang membuat pijakan ke langit-langit goa menggunakan elemen Ice, Xhin juga menyelimuti api putih di bagian kepalanya untuk menerangi goa tersebut.
"Xhin, dengan batu energi murni sebanyak ini apakah kamu tidak ingin membuat Zhu Lian sebuah kalung, apa mungkin kamu mau membuatnya untuk Lou Rin?" ucap Mao Le sambil terus mengambil kristal energi murni.
"Entahlah, aku lebih memilih untuk menyerap energi dari kristal ini" ucap Xhin menjawab.
"Xhin, apakah kamu tidak merasakan sesuatu yang aneh pada Lou Rin" ucap Mao Le bertanya.
"maksudnya" singkat Xhin.
"apakah kamu sama sekali tidak peka, Lou Rin selama ini sudah menyukaimu, dia sendiri yang memintaku untuk membantunya agar kamu dan dia bisa berpacaran" ucap Mao Le.
"bukan aku yang tidak peka, aku juga sudah menyadari dia menyukaiku, tapi aku tidak ingin merasa berada di atas awan, alasannya yaitu jikalau semuanya itu tidak seperti yang aku inginkan maka akan terasa sangat sakit setelah mengetahui kebenarannya" Ucap Xhin.
"iya sih.. tapi kali ini benar kok" ucap Mao Le.
"nanti akan ku pikirkan lagi, tetapi jujur saja aku juga menyukainya" ucap Xhin.
"kehidupan sekarang ini aku ingin menikmatinya, tetap berjalan pada tujuan utama sambil menikmati berkah perjalanan" batin Xhin sambil tersenyum.
Hampir seharian mereka mengambil ribuan kristal energi sampai tidak tersisa sedikitpun, ketika hendak berjalan keluar, dari tiba-tiba tanah yang dipijaki Xhin roboh dan membuatnya terjatuh kedalam tanah.
"Xhin" teriak Mao Le yang melihat Xhin terjatuh.
Akan tetapi dinding goa tiba-tiba bergetar dan mulai roboh, Mao Le melesat keluar dari Goa tersebut.
__ADS_1
Seharian Mao Le duduk termenung di depan goa yang telah roboh, dia hanya duduk sambil mengingat saat-saat kebersamaannya dengan Xhin, mereka berdua bermain, mencuri dan dipukuli bersama, ikatan antara mereka sudah seperti saudara sendiri.
"Mao Le, apa yang kamu lakukan di sini dan dimana Xhin, apakah dia menyuruhmu untuk menunggu" terdengar suara perempuan yang baru datang.
Mao Le balik menatap kearah suara tersebut "Lou Rin, Wu Jie" ucap Mao Le.
"Matamu.. apakah kamu menangis? apa yang terjadi? mana Xhin?" ucap Lou Rin.
"Xh- Xhin tidak selamat, dia terjatuh kedalam tanah dan tertutup oleh dinding goa yang roboh" ucap Mao Le sambil menangis.
"aku terlalu lemah, aku hanya bisa melihatnya terjatuh masuk kedalam tanah tanpa bisa berbuat apapun"lanjutnya
"Hah... Xhin hilang, Xhin" air mata Lou Rin seketika keluar saat mendengar ucapan Mao Le, Lou Rin sangat terpukul.
"Kalian berdua tenanglah, aku yakin Xhin akan baik-baik saja" ucap Wu Jie.
Mao Le kemudian menceritakan apa yang terjadi, tetapi dia tidak memberi tahu tentang kristal energi yang mereka temukan.
Hampir dua hari mereka menunggu tetapi tidak ada tanda-tanda di depan goa.
"Ayo kita pergi dari sini, kita harus berkumpul di reruntuhan kuil kuno" ucap Wu Jie.
***
Disisi lain
Xhin telah tersadar, Xhin pingsan akibat puluhan kali terbentur keras saat sedang terjatuh.
"Tempat apa ini, kenapa di dalam tanah terdapat dunia sebesar ini dan juga dari mana asal cahaya seterang ini, di sana juga terdapat kuil," gumam Xhin yang kebingungan, Xhin kemudian berjalan menuju kuil tersebut.
"Di luar kuil juga banyak sekali patung-patung prajurit, apa yang terjadi sehingga mereka semua bisa menjadi patung" gumam Xhin.
Xhin kemudian berjalan memasuki kuil tersebut dengan menggunakan api putih sebagai penerangan untuk menelusuri kuil, Xhin melihat berbagai macam lukisan Petarung kuno maupun Raja yang terdapat pada dinding kuil tersebut, Xhin juga menyalakan setiap obor yang dia temukan.
Xhin terus berjalan akan tetapi ia tanpa sengaja menginjak Rune yang berada di lantai yang membuat puluhan anak panah beterbangan ke arahnya.
Xhin lansung menggunakan hukum waktu untuk membuat waktu melambat sehingga gerakan puluhan anak panah menjadi melambat, Xhin berjalan melewati anak panah yang bergerak lambat dan terus berjalan memasuki kuil kuno tersebut.
__ADS_1
Lama berjalan kini Xhin telah sampai di sebuah ruangan besar, di ruangan tersebut terdapat altar yang telah di tumbuhi pohon besar.
"Bukankah itu pohon kehidupan seperti milik suku Elf, tetapi pohon kehidupan ini memiliki satu buah dan juga buah pohon kehidupan ini memancarkan cahaya berwarna hijau, apakah ini tidak biasa" ucap Xhin
"Buahnya mungkin akan sangat berguna, aku akan mengambilnya" lanjutnya.
Xhin melompat kemudian memetik buah tersebut lalu menyimpannya di dalam cincin penyimpanan.
"Sifat serakah dapat membawa kehancuran, tapi untuk sekarang kata-kata itu tidak berarti bagiku, apapun akan ku ambil dari tempat ini selama itu sangat berharga" Ucap Xhin.
Xhin kembali menelusuri ruangan demi ruangan dan hanya terdapat ruangan kosong yang penuh dengan jaring laba-laba, Xhin juga kadang memasuki ruangan yang telah dia periksa karena terlalu banyak ruang di dalam kuil.
Lama mencari, Xhin menemukan sebuah ruangan besar yang di penuhi dengan berbagai jenis kristal energi murni, ada juga tumpukan emas, dan ribuan senjata tingkat langit.
Mata Xhin tertuju pada dua buah kotak kayu yang berada di atas meja, terlihat kotak kayu tersebut sudah sangat tua, Xhin lalu berjalan menuju kotak kayu itu tersebut.
"Kotak ini mungkin berisi artefak" batin Xhin.
Xhin lalu membuka kotak kayu yang pertama, setelah di buka terlihat ada dua gulungan jurus, karena penasaran Xhin lalu membuka salah satu gulungan tersebut.
"Kedua gulungan ini kayaknya jurus tingkat langit" ucap Xhin.
"Yang ini Teknik Pukulan pembelah Gunung, nanti saja dipelajari" lanjutnya.
"Kalau yang ini, telapak tangan Dewa, ini teknik tingkat Dewa" ucap Xhin sambil tersenyum.
Xhin kemudian kembali membuka sebuah kota kayu terakhir, setelah dibuka isinya juga merupakan gulungan jurus, tetapi gulungan jurus itu memancarkan aura kematian yang tidak bisa, Xhin kemudian memegang gulungan jurus tersebut.
Tlak!
Tlak!
Tlak!
Seketika segel rantai yang membelit gulungan jurus itu lansung terputus ketika Xhin memegangnya, ia kemudian membuka gulungan jurus tersebut.
Swuuss!!
__ADS_1
Aura kematian terpancar begitu kuat, tetapi untuk Xhin aura kematian itu tidak ada apa-apanya, Xhin kemudian membaca tulisan pada gulungan tersebut.