GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
100. Yasmin Bangga


__ADS_3

Sebuah pelukan yang hangat dihadiahkan oleh Yasmin pataku. Entah apa penyebabnya perempuan yang cukup kaku ini melakukannya. Tadi terakhir aku bicara dengan sahabatnya biasa saja, malah Riana terdengar tidak puas dengan jawaban yang aku berikan. Lalu ini apa? Atau jangan-jangan ada rencana lainnya? Mereka ingin menaklukkan aku lewat kelembutan Yasmin? Kalau begitu aku harus hati-hati.


"Ada apa, Yas?" aku khawatir, ia memberiku hadiah sebab berharap sesuatu. Misalnya menyuruh Deni melamar Riana.


"Aku bangga pada, mas," bisik Yasmin.


"Padaku? Memang aku melakukan apa?" aku mencoba mengingat-ingat, tidak ada ibadah spesial yang kulakukan hingga pantas mendapatkan hadiah. Semua normal seperti biasanya. Lalu untuk apa ia melakukan ini semua?


"Mas sudah membawa rules hijrah." kata Yasmin.


"Kau tahu beritanya?"


"Tentu saja. Sebenarnya, Riana mengajakku nguping. Ia curiga mas sedang membicarakan hubungannya dengan Deni."


"Astagfirullah!"


"Maaf mas, tapi ...,"


"Sejak kapan kau suka nguping? Lama-lama aku tidak suka sebab kau terbawa-bawa oleh Riana."


"Maafkan aku,"


"Harusnya kamu yang membawa Riana dalam kebaikan, bukan sebaliknya Yas."


"Aku mengerti."


"Lalu?"


"Aku minta maaf," Yasmin memelukku erat.


"Janji besok-besok jangan ulangi lagi. Apa kau tidak percaya pada suamimu ini?"


"Tentu saja aku sangat percaya, tetapi Riana,"


"Tuh kan, Riana lagi."


***


"Qret!" pagi-pagi sekali, Deni dan Jack sudah ada di depan rumah.


Aku, Yasmin dan Riana yang ingin berangkat agak kaget mendapati mereka.


"Mana kak Lisa?" tanya Riana, sambil mencari-cari sosok istri Jack.


"Dia sedang belanja." jawab Jack.


"Apa? Kenapa malah kak Lusi yang belanja? Kalian berdua malah ke sini." Riana geleng-geleng kepala. Ia tampak kesal. Harusnya pagi ini yang berbelanja adalah Jack dan Deni, tapi mereka malah ke sini, lalu melimpahkan tugas pada kak Lisa. "Pokoknya aku tidak mau tahu, nanti kalian harus gantikan kak Lusi masak. Hari ini dia libur!"

__ADS_1


"Iya ... iya." Jack dan Deni tidak melakukan perlawanan.


"Memangnya ada apa?" tanyaku.


Ayo kita ke kedai." Jack menarik tanganku.


Sampai di depan kedai, kami menatap heran melihat bangunan kedai yang ukurannya lebih besar tiga kali lipat dibandingkan kedaiku kini sudah lenyap. Persis seperti dongeng, saat matahari terbit maka ia akan hilang tanpa bekas.


"Apa yang terjadi?" tanyaku.


"Ini jawabannya!" Jack memberikan koper yang sejak tadi ia pegang padaku.


"Apa ini?" tanyaku lagi.


"Buka saja. Tapi sebaiknya di dalam." Jack membukakan pintu kedai, lalu kami bersama-sama masuk ke dalam.


"Apa ini?" tanyaku lagi. Saat membukanya mataku langsung melotot melihat uang yang tersusun rapi. "Punya siapa ini?"


"Nyonya terhormat itu yang memberikannya. Tadi ia datang ke sini, hanya bicara sebentar dari mobilnya. Itu adalah sebagai pengganti untuk rumahmu yang sudah dibakarnya."kata Jack.


"Dari Bu Rani." aku cukup tercengang. Lalu membaca tulisan yang ia masukkan di atas uang.


Aku minta maaf untuk peristiwa pembakaran rumah tersebut. Saat itu aku benar-benar sedang marah sebab suamiku mencampakkan aku hanya karena memilih perempuan lain yang tidak ada apa-apanya dibandingkan aku.


Aku mengirimkan uang ini agar bisa kau pergunakan kembali membangun rumahnya. Maaf. Mulai sekarang kita lupakan semuanya.


"Kau lihat Qret, ia pun terkesan dengan apa yang kau lakukan." ungkap Deni usai aku menutup kertas tersebut.


"Jadi bagimu semua bisa diselesaikan dengan uang?" tanya Jack.


"Ya, kalau dia sudah minta damai, kenapa juga harus nyolot?" cetus Riana.


***


Uang yang diberikan oleh Bu Rani tidak sedikit. Jumlahnya lima Milliar. Aku sudah berencana untuk membangun kembali rumah yang sudah terbakar, tetapi akan ku jadikan kedai yang permanen dan lebih besar.


Untuk urusan pembangunan semua ku serahkan pada Jack. Ia cukup handal untuk urusan seperti ini. Hanya dalam beberapa jam, sudah terkumpul tukang dan mandornya.


Tidak lupa kuberikan juga untuk Deni, agar bisa dipergunakan untuk biaya operasi ayahnya yang tinggal menghitung hari.


"Kau tidak perlu repot-repot begini, Qret." Deni terlihat sungkan.


"Siapa yang direpotkan? Aku tidak merasa. Kau tahu, hubungan persaudaraan kita jauh lebih penting dibandingkan uang. Jadi kau jangan lihat jumlahnya. Yang penting paman bisa segera menjalani operasi."


"Aku pasti akan menggantinya, Qret."


"Jangan. Itu hadiah dariku untukmu. Kau fokus dulu pada paman." pintaku.

__ADS_1


"Terimakasih banyak Qret. Kau sudah membantuku."


Setelah kedai saingan di depan kami dibongkar, pesanan di kedai hijrah setiap hari meningkat tajam. Kami harus bekerja keras. Itulah mengapa kedai hanya buka sampai siang sebab sudah merasa kewalahan.


Selain kerja, kami juga harus menjalankan ibadah. Aku tidak mau direpotkan dengan urusan duniawi semata hingga lupa akhiratku.


***


Hari operasi ayahnya Deni tiba juga. Aku sengaja meliburkan kedai agar bisa memberi support untuk Deni dan keluarganya. Beberapa menit sebelum operasi kamu juga datang membesuk ke rumah sakit.


Aku bisa menyaksikan sendiri pemandangan seorang anak yang harap-harap cemas membantu ayahnya keluar. Tidak ada lagi kebencian yang terpancar di kedua netranya. Justru berganti dengan cinta dan kasih sayang.


"Ini tho yang namanya Riana." tiba-tiba tantenya Deni menepuk pelan pundak Riana.


"Eh, iya Tante." kata Riana dengan suara malu-malu. Ini pertama kalinya aku melihat ia bersikap manis, biasanya garang.


Dengan cepat Riana langsung berbaur dengan keluarga Deni. Mereka seolah sudah lama saling kenal. Mungkin karena itu Riana jadi kesal sekali ketika aku dan Yasmin mengajaknya pulang.


"Kenapa sih tidak tunggu beberapa waktu lagi." Riana mengomel di dalam mobil.


"Ini sudah sore, aku mau siap-siap salat." kataku.


"Kau kan bisa salat di masjid. Alasan saja. Bilang saja syirik padaku."


"Lho, syirik kenapa?"


"Ya karena aku punya Tante ipar, sementara kau tidak!"


Hah? aku dan Yasmin saling pandang. Lalu kami tertawa bersamaan.


***


Usai salat ashar, Hp milikku kembali berbunyi. Ada sepuluh panggilan tidak terjawab dari Deni.


[Halo, Den.] kataku, saat menelepon balik.


[Qret,] suara Deni serak. Aku begitu takut karenanya.


[Ada apa?]


[Ayahku meninggal.]


[Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Kami segera ke sana.]


Telepon ku matikan. Lalu memberitahu Yasmin agar ia juga memberitahu Riana. Kami bersama-sama pergi ke rumah duka.


Begitulah usia, siapa yang menyangka. Setidaknya Deni sudah merasa bersyukur sebab ia sudah berusaha maksimal untuk menolong ayahnya. Meskipun operasi gagal, tetapi Deni cukup puas sebab ia sendiri yang mengurus ayahnya hingga akhir hayat.

__ADS_1


Ia memang rela mengundurkan pernikahan, juga selalu langsung pulang usai bekerja sebab ingin mengurus ayahnya.


Sementara aku sendiri, juga bersyukur sebab sudah memberikan uang untuk operasi pada Deni. Andai tidak bergerak cepat, mungkin kami akan merasa begitu menyesal.


__ADS_2