
Operasi telah selesai. Dua orang dokter; dokter bedah dan anastesi keluar dari rumahnya operasi. Mereka membawa kabar buruk untukku, tentang kondisi Yasmin saat ini
"Retak di kepalanya sudah berhasil ditangani, tetapi tidak dengan kakinya. Mungkin ibu Yasmin tidak akan bisa berjalan kecuali ia menjalani operasi lagi. Tetapi sayangnya tidak bisa dilakukan di sini." ungkap dokter bedah. "Selain itu, saat ini ibu Yasmin masih dalam kondisi koma sebab selain luka di kaki dan kepala, ada trauma di rahimnya juga."
Sejumlah penjelasan dokter tersebut sukses membuta tubuhku lemas. Andai bukan karena melihat tubuh Yasmin yang digiring menuju ruang rawat, mungkin aku sudah jatuh pingsan sebab tidak bisa membayangkan bagaimana penderitaan Yasmin ke depannya nanti.
"Qret, kau harus kuat!" pinta Riana. "Kau adalah satu-satunya harapan Yasmin terbesar. Kalau kau down, percayalah, Yasmin akan lebih down lagi. Apa kau mau begitu?" tambah Riana lagi.
"Iya Qret, kita berusaha mencari jalan terbaik untuk penyembuhan Yasmin. Tapi kau harus tetap sabar dan kuat. Supaya semangatnya tertular pada Yasmin. Jika ia tahu kau tenang, ia pun pasti akan begitu." kata Deni.
Aku mengikuti nasihat Deni dan Riana.. meskipun perasaannya hancur lebur, tetapi aku mencoba kuat berada di samping Yasmin.
***
Sudah hampir tiga jam aku berada di sisi Yasmin. Hanya pergi meninggalkannya ketika hendak ke kamar mandi dan salat. Selain itu aku terus duduk di sampingnya. Mengajak Yasmin berbincang atau membacakan hafalanku.
"Yas!" suara seseorang membuatku teralih.
"Ayah," kataku, pada pak Bimo yang baru datang.
"Bagaimana keadaan Yasmin, mas Qret?" tanya ayah Yasmin.
"Yasmin masih koma, yah."
"Ya Allah anakku!" sedu sedan terdengar dari mulut ayah Yasmin. Lelaki itu tampak terpukul sekali menyaksikan kondisi putrinya, ditambah berita tentang cucunya yang sudah tidak ada. "Yas, kamu harus kuat nak. Beri ayah kesempatan untuk bisa menebus kesalahan ayah. Bangunlah nak, ayah mohon!" pinta ayah Yasmin.
"Yah, kita doakan Yasmin saja ya." aku menguatkan ayah Yasmin meski sebenarnya hatiku pun sangat berantakan sekali.
"Qret, ada yang ingin bertemu," Deni memanggilku. Ia, Riana, Jack dan Lisa memang menanti di luar sebab tidak boleh banyak orang menunggui Yasmin.
__ADS_1
Aku menuju luar, menemui tiga orang tamu yang belum pernah ku kenali sebelumnya. Bapak yang pertama adalah ayah dari anak perempuan yang menabrak Yasmin, bapak kedua adalah pengacaranya dan yang ketiga seorang polisi.
"Saya benar-benar minta maaf atas kejadian yang menimpa istri pak Qret. Kedatangan saya ke sini untuk bertanggung jawab atas kecelakaan tersebut." ungkap ayah dari anak yang menabrak Yasmin.
"Kalau mau tanggung jawab, jalani saja proses hukumnya." jawabku.
"Begini pak Qret, kami mengakui bahwa clien kami lalai, tetapi usianya masih tujuh belas tahun dan kami berharap agar pak Qret tidak keberatan untuk damai," ucap pengacara tersebut.
"Damai bagaimana?" tanyaku lagi.
"Kami akan menanggung semua kerugian pak Qret." tambah pengacara tersebut.
"Kalau begitu tolong ganti kesehatan istri saya. Buat ia kembali pulih seperti sedia kala. Kembalikan juga bayi saya!" ungkapku dengan emosi meledak.
Kemarahan memang tidak bisa ku bendung. Bagaimana mungkin ia menawarkan uang untuk istri dan anakku?
"Harusnya anda berpikir pak, sebelum memfasilitasi anak anda dengan mobil. Apalagi saya dengar anak anda mabuk. Apa benar begitu pak?" kataku lagi. Andai tidak ada Deni dan Jack yang menahan, ingin sekali aku memberi mereka pelajaran. "Sampai kapanpun akan saya kawal kasus ini. Siapa saja yang coba main-main dengan saya, akan saya balas. Kapan perlu akan saya publish di media!" kataku lagi.
"Ingin apa? Masih berani menawarkan damai? Pak polisi, anda adalah pihak berwajib, saya mau anda mengawal kasus ini dengan jujur dan adil. Kalau anda berani ikut-ikutan menerima suap, maka Demi Allah saya tidak rela. Saya akan menuntut kalian semua di akhirat. Saya akan adukan kalian pada Allah!" ungkapku dengan penuh kemarahan.
"Qret, tenanglah. Sudah bapak-bapak sebaiknya sekarang pergi dari sini!" kata Deni, sementara Jack langsung menarikku agar menjauh.
"Awas saja kalian, akan ku beri kalian pelajaran. Kalian belum tahu siapa aku!" kataku lagi. "Kalian pikir nyawa bisa diganti dengan uang? Tidak tuan-tuan!"
"Qret, istighfar!" pinta Deni.
"Astagfirullah!" aku menangis membayangkan bagaimana Yasmin dan bayiku yang telah diambil kembali oleh Allah.
Mengapa Engkau mengambilnya lagi ya Allah? Apakah Engkau belum percaya bahwa kamu bisa menjadi orang tua yang baik untuknya? Apakah kami belum cukup mampu di mataMu?
__ADS_1
***
"Yasmin!" ibu tampak histeris saat melihat tubuh Yasmin terbaring tidak sadarkan diri, sementara wajahnya begitu pucat.
Ayah dan ibu baru datang dari Bogor. Mereka langsung ke rumah sakit saat mendapat kabar bahwa Yasmin mengalami kecelakaan.
"Apa yang terjadi Qret, kenapa Yasmin bisa begini?" tanya ibu, masih berlinang air mata.
"Tadi dia ke pasar Bu. Saat mau menyeberang tertabrak." ku ceritakan pada ibu tentang kejadian tadi pagi. Bagaimana Yasmin minta izin ke pasar, lalu tiba-tiba aku mendapati kabar ia sudah kecelakaan.
"Menantuku ... cucuku. Ya Allah. Qret, kan sudah ibu katakan agar kamu menjaga Yasmin. Tapi kamu tetap membiarkannya kerja." ibu masih belum ikhlas dengan apa yang menimpa Yasmin. Terlihat jelas betapa kecewa dan sedihnya ibu mendapatkan kenyataan seperti itu. Menantu yang sudah di anggapnya seperti anak kandung sendiri, juga cucu yang rupanya telah lama didambakan oleh ibu.
"Bu, maafkan Qret!" aku memohon pengampunan dari ibu. Kamu berdua berpelukan sambil berurai air mata.
***
Malam ini aku dan ibu menunggui Yasmin di rumah sakit. Sebenarnya aku sudah meminta ibu untuk kembali ke rumah saja agar bisa istirahat, tetapi ibu menolak sebab ingin menemani Yasmin. Akhirnya ayah dan ayah Yasmin yang pulang ke rumah.
"Yas, ibu ada di sini. Bangunlah. Katanya kamu kangen ibu. Bangunlah nak. Ibu akan menemanimu. Kalau kau mau bangun, ibu akan membuatkan makanan kesukaanmu. Kau mau makan apa? Sup ayam atau pergedel jagung?
Yas, apa ini arti mimpi ibu semalam? Ibu melihatmu menangis sejadi-jadinya. Andai ibu tahu, akan ibu peringatkan kamu Yas.
Yas, bangunlah. Lihat Qret, ia sampai bimbang memikirkanmu. Dari tadi entah sudah berapa kali ia menangis. Sampai ingusan. Apa kau tak kasihan dengan suamimu?" ungkap ibu.
"Bu, ibu istirahatlah di sofa. Biar Qret yang menemani Yasmin di sini." kataku.
"Tidak, kamu saja yang tidur di sofa Qret. Ibu ingin menemani Yasmin di sini."
"Bu, Qret mohon. Agar Yasmin tidak khawatir pada ibu. Kalau ibu kurang istirahat, nanti ibu sakit lho. Ibu tahu kan bagaimana Yasmin sedih jika ibu sakit, apalagi karena menungguinya."
__ADS_1
Sebab tidak ingin membuat Yasmin sedih, akhirnya ibu menurut, tidur di sofa, sementara aku memilih duduk di samping Yasmin sambil membacakan Qur'an di sisinya hingga aku tertidur dengan kepala bersender di tempat tidur Yasmin.