GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
185. Kesepakatan Dua Pemuda


__ADS_3

"Bi, tolong batalkan semuanya. Demi kebaikan kita semua." pinta Riu pada Yasmin. Setelah merenung, ia memang sudah memutuskan untuk mundur dari persaingan mendapatkan Jasmin. Bukan karena ia tak menyukai gadis itu lagi, tetapi karena Riu sadar bahwa Jasmin ternyata mencintai lelaki lain.


Riu tidak punya keraguan terhadap Ren. Ia tahu, bahwa Ren adalah lelaki baik yang benar-benar mencintai Jasmin. Riu yakin bahwa Ren akan menjaga Jasmin dengan sangat baik meski dalam agama di suruh untuk mendahulukan diri sendiri untuk urusan pernikahan, tetapi ia tak ingin egois mematahkan hati dua orang yang mencintai dan berniat untuk melangsungkan pernikahan tetapi terhalang sebab kehadirannya. Ia memang sudah mencari tahu tentang Ren, lelaki yang dicintai perempuannya.


"Apa kamu sudah tidak menyukai Jasmin?" tanya Yasmin, sebenarnya ia agak kaget dengan kedatangan Riu pagi ini ke ruangan dimana suaminya di rawat. Yasmin yakin Riu mampu bersaing dengan Ren. Ia tahu kemampuan pemuda ini. Selain gigih juga tidak mudah untuk menyerah. Tetapi apa yang membuatnya ingin mundur begitu saja?


"Sampai detik ini, saya masih mencintai Jasmin, bibi. Mungkin butuh waktu untuk saya melupakan Jasmin." Riu mengakui perasaannya. "Tetapi saya tidak boleh egois. Kadang yang namanya cinta tidak boleh egois. Harus memikirkan perasaan orang yang kita cintai dan saya berusaha melakukan hal tersebut. Saya mengamati bagaimana tidak nyamannya Jasmin akibat tantangan yang bibi ajukan."


"Kalau kamu mencintai Jasmin, harusnya tidak mudah menyerah seperti ini. Tetapi itu yakni Riu, kalau kamu mau mundur, bibi tidak mempermasalahkan meskipun bibi cukup kecewa. Hanya saja bibi tidak akan membatalkan syarat ini. Kalau Ren memang mencintai Jasmin, ia harus mewujudkan persyaratan yang bibi ajukan."


"Tapi bi,"


"Riu, bibi sudah memikirkan semuanya dengan baik. Ini juga demi kebaikan Jasmin. Biarkan Ren menyelesaikan kompetisinya dengan baik atau tak akan pernah ada pernikahan antara mereka berdua."


Mendengar keputusan akhir bibi Yasmin membuat Riu menelan air ludah. Ia tak menyangka bibinya akan berubah jadi sekeras ini.


"Bagaimana dengan Jasmin? Kasihan sekali ia. Pasti Jasmin sangat sedih sekali. Aku harus membantunya agar Ren bisa memenuhi syarat yang diajukan bibi." kata Riu dalam hatinya


Usai menemui bibi Yasmin, ia menemui kedua orang tuanya, menceritakan semua hasil pembicaraan antara ia dan bibi Yasmin.


"Aku bangga padamu Riu. Kau adalah seorang kesatria yang mau berkorban demi perempuan yang kau sukai. Ibu berdoa semoga nanti kau menemukan perempuan baik yang akan mendampingimu." doa Riana untuk putranya. "Sekarang dengarkan ibu. Yasmin memang begitu keras, apa yang kau rasakan tadi, itulah yang dirasakan oleh Jasmin setiap harinya. Itulah sebabnya mereka tak pernah akur. Mungkin karena itu juga Jasmin tidak menyukaimu sebab ia merasa kau mengambil perhatian ibunya."


Mendengar penuturan ibunya, Riu menggigit bibirnya. Ia merasa bersalah sudah membuat Jasmin berada di posisi yang tidak nyaman selama belasan tahun.


"Ibu, aku akan membantu agar Ren bisa mendapatkan tiga milliarnya dengan cepat agar Jasmin bisa bersatu dengan lelaki yang dicintainya." ungkap Riu. Sementara sepasang mata Riana menatap anaknya dengan penuh kebanggaan, saat ia bisa menerima jika yang di cintai ya bahagia dengan orang lain dengan cara yang halal.


***


Dua orang pemuda itu saling pandang. Terdiam dengan pikiran masing-masing usai pembukaan yang lumayan membingungkan. Tetapi intinya mereka sama-sama sepakat melakukan sesuatu yang membuat perempuan yang mereka sayangi bahagia.

__ADS_1


Sementara, dari jauh, seorang perempuan memakai gamis krem dengan kerudung senada menatap dengan mata hampir melotot sebab pemandangan di depannya. Bahkan ia hendak berlari, saat dua pemuda yang sebenarnya sama-sama berarti di hidupnya saling pandang tanpa kata-kata.


"Apa mereka akan bertengkar karena memperebutkan aku?" tanya Jasmin pada dirinya sendiri. "Tapi aku tidak suka diperlakukan seperti itu!" Jasmin geleng-geleng kepala. "Siapa yang mulai duluan? Ini kedai Ren, berarti Riu yang nyamperin. Baiklah, sebelum terjadi adu jotos, akan ku hentikan mereka berdua, aku tak akan membiarkan mereka jadi bermusuhan hanya karena cinta, seperti tidak ada perempuan lain saja!" tekad Jasmin sudah bulat, buru-buru ia lari mengejar ke arah kedua pemuda tersebut, sampai-sampai ia hampir terjatuh.


Saat nafasnya masih ngos-ngosan. Jasmin yang sudah berada di samping mereka berdua bicara dengan susah payah.


"Apa yang kalian lakukan? Mau berkelahi? Riu, apa kau mau sok jagoan? Atau kakak kelas, mau cari gara-gara dengan Riu?" tanya Jasmin sambil megap-megap.


"Kamu bicara apa?" Riu geleng-geleng kepala.


"Itu, kalian sedang apa? Mau berkelahi?" tanya Jasmin lagi.


"Siapa?" Riu balik bertanya.


"Sudah sana, pergilah. Mau apa ke sini?" kini Ren yang bertanya.


"PD sekali, siapa juga yang mau berkelahi karena kamu." Riu kembali geleng-geleng kepala.


"Terus kalian berdua mau apa?" Jasmin masih belum menyerah.


"Kami sedang ngobrol!" kata Ren.


"Ngobrol?" Jasmin mengerutkan keningnya. "Bisa ya dua orang yang sedang bersaing ngobrol? Bukannya kalian mau berkelahi? Sudahlah, ngaku saja. Aku tak akan mengadu pada siapapun. Palingan akan aku pukul kepala kalian bergantian!" kata Jasmin dengan tegas.


"Ckckck, masih saja bersikap seperti berandalan. Kalau paman Qret mendengarkan, kau akan disentil." ungkap Riu.


"Ayahku sangat menyayangiku, ia tak akan menyakitiku!" pungkas Jasmin.


"Kalau begitu pergilah, jangan ikut campur urusan kami!" Riu kembali mengusir Jasmin hingga gadis itu berada di luar kedai Ren. Ia tak bisa lagi berbuat apa-apa sebab mengedepankan harga dirinya, gadis itu segera melangkah menjauh dari toko. "Lihat saja nanti, aku akan mencari tahu semuanya!" ucap Jasmin dengan sangat antusias.

__ADS_1


Benar saja, Jasmin tidak benar-benar pergi, ia masih menanti Riu tak jauh dari kedai Ren. Ia bahkan terus mengintip untuk memastikan bahwa Riu sudah keluar atau belum. Begitu sosok yang dicintainya keluar, ia buru-buru menarik bajunya agar menuju tempat persembunyiannya.


"Apa lagi ini Jasmin?" tanya Riu dengan kesal. "Kenapa kamu masih suka berbuat seenaknya?"


"Katakan padaku apa yang kalian bicarakan?" tanya Jasmin.


"Tidak!"


"Riu!"


"Ini urusan kami, bukan urusanmu Jasmin."


"Kalau begitu katakan!"


"Baiklah, bersiaplah untuk menikah dengan Ren dalam waktu dekat."


"Maksudnya?"


"Aku mundur!"


"Apa?"


"Ya, aku mundur Jasmin!"


"Serius? Kau merestui aku dan Ren?"


"Hm,"


Jasmin melonjak gembira, andai saja Riu benar-benar mahramnya, mungkin ia sudah memeluk Riu erat-erat.

__ADS_1


__ADS_2