
Aku menatap Yasmin sebentar sambil mencerna perkataannya. "Kalau kau takut kenapa menerima lamaranku? jangan-jangan kau sudah jatuh cinta dari awal, tetapi sengaja mencari alasan saja sebab malu mengakui. Iya kan? Hayo mengaku saja, Yas!"
"Aku semula memang takut, tetapi saat mas datang beberapa kali ke rumah dengan ekspresi begitu menyedihkan, aku merasakan kalau sebenarnya mas bukan orang jahat, tetapi sebaliknya, ditambah mas Heri yang meyakinkan aku bahwa mas adalah orang baik. Buktinya mas banyak bertanya padanya, serius dalam belajar dan juga mau menerima nasihat kebaikan meski kadang mas membantah sebab tidak sesuai dengan apa yang mas harapkan."
"Eh sebentar, apa kau bilang? Wajahku menyedihkan. Enak saja!" aku pura-pura marah pada Yasmin, lalu menyerangnya dengan serangan seribu jari atau menggelitiki ia hingga Yasmin tertawa sambil minta ampun. "Salahmu sendiri berani menertawakan ketua gengster yang cool seperti aku!"
"Mana ada ketua gengster tapi hatinya hello Kity."
"Hei, berani sekali kau, cari masalah ya!"
Yasmin kembali tertawa terpingkal-pingkal. Ia masih saja menertawakan aku yang kala itu datang ke rumahnya. Padahal waktu itu aku sedang dalam kondisi terpuruk malah ditertawakan.
"Tapi kau tahu Yas, apa yang kau katakan saat itulah yang mengubahku supaya lebih baik lagi."
"Bukan aku mas, tetapi Allah yang menggerakkan semuanya."
"Ya. Aku sangat bersyukur atas semua itu."
"Semua yang terjadi pada kita sudah atas seizin Allah."
"Yas, apakah kau mau terus bersamaku hingga akhir hidup kita dan sama-sama berjuang agar kelak kita bisa berjumpa lagi di surga Allah?"
Yasmin tidak menjawab pertanyaanku, ia malah jatuh menghambur dalam pelukan. "Aku mau mas ... aku mau!" ucapnya sambil terisak.
"Hei, ada apa ini!" seru seseorang dari pintu. Siapa lagi kalau bukan Riana yang berani masuk tanpa izin terlebih dahulu kepada pemilik rumah.
"Kau ini masih juga tidak berubah, berani masuk ke rumah orang lain tanpa mengucapkan salam!" kataku, sambil mengomelinya.
"Kalau kau tidak ingin aku masuk begitu saja makanya kunci pagarnya dan gembok sekalian. Saat ini aku tak akan memanjatnya." ungkap Riana sambil menunjukkan perutnya yang sudah membesar sebab usia kandungannya sudah masuk delapan bulan.
"Riana, duduklah kemari!" kata Yasmin.
"Untuk apa menyuruhnya masuk. Biar saja di luar supaya cepat pergi." kataku.
"Mas!" Yasmin protes padaku. "Aku yang menyuruh Riana ke sini."
"Jadi dia tahu kau hari ini resaind?" tanyaku pada Yasmin.
"Tentu saja aku tahu!" kata Riana padaku dengan penuh kebanggaan, ia merasa menang dariku.
__ADS_1
"Kau memberitahunya sedangkan aku tidak?" aku masih mempertanyakan Yasmin, ia hanya tersenyum saja
"Lalu sekarang bagaimana perasaanmu Qret? Kecewa atau merasa tidak dianggap? Begitulah posisimu Qret, tapi jangan putus asa meski kau frustasi ya!" Riana tersenyum puas.
"Kalian berdua benar-benar jahat!" aku geleng-geleng kepala, lalu masuk ke ruangan kerja. Rasanya lebih baik meninggalkan dua orang perempuan yang sekarang sudah menjadi sahabat itu dari pada berada di antara mereka tapi hanya dijadikan bahan olokan.
Aku memutuskan menyelesaikan beberapa pekerja. Menghitung pendapatan bulan ini agar bisa dibagi dengan Deni. Ia pasti membutuhkan sebab waktu Riana melahirkan semakin dekat.
"Semoga saja ini cukup." kataku. Lalu menekan nomor rekening Deni dari mengirimkan sejumlah uang gajinya bulan ini. Setelah itu aku mengirimkan bukti transfer kepada Deni.
[Apa ini Qret?] Deni mengirimi aku pesan.
[Jatah gajimu bulan ini.] kataku.
[Banyak sekali.]
[Ini sesuai dengan pendapatan bulan ini. Doakan saja semoga bulan depan pun orderan masih sebanyak bukan ini, atau meningkat.]
[Untukmu?]
[Sama sepertimu. Kita bagi dua.]
[Harusnya kau lebih banyak Qret. Kau kan bosku, modal pun darimu. Aku hanya membantu memasak dan mengirim pesanan.]
[Terima kasih Qret. :')]
Emoticon di akhir pesan yang dikirimkan oleh Deni membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Orang seperti Deni saja bisa semanis ini menjelang kelahiran anaknya. Tetapi aku juga bahagia sebab bisa membantu Deni, meskipun tidak seberapa. Setidaknya ia jadi punya harga diri di hadapan Riana.
Terkadang, bagi seorang lelaki yang sudah punya tanggung jawab, ketika ia bisa memberikan nafkah meski tidak terlalu besar rasanya lebih terhormat dibandingkan diam saja di rumah sambil menikmati harta istrinya.
"Mas!" lagi-lagi Yasmi mengagetkan aku.
"Kenapa Yas? Apa sahabatmu sudah pergi?" tanyaku, sedikit menyindirnya.
"Sudah. Kami hanya berbincang tentang bayinya."
"Lalu?"
"Aku juga berharap segera dikaruniai keturunan."
__ADS_1
"Aamiin."
"Oh ya, mulai besok aktivitas apa yang bisa kulakukan? Mas dan Deni kan bekerja dari rumah, kalian memakai kompor rumah, lalu bagaimana denganku?"
"Aku sudah memikirkannya tadi. Mungkin kami akan pindah di samping."
"Maksud mas di garasi mobil?"
"Ya. Besok setelah pesanan selesai, aku akan mulai menata ulang garasi."
"Lalu mobil akan diletakkan di mana?"
"Di depan dulu. Tidak apa-apa ya?"
"Yasmin mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun dalam keterbatasan, aku tidak mau berhenti berusaha. Mungkin nanti memasaknya tidak akan nyaman, tetapi tidak masalah, toh jika dapur kami ku pindahkan di samping maka nantinya bisa dibuatkan kedai minimalis juga. Cukup untuk menampung sepuluh orang pelanggan.
"Kalau aku menerima orderan menjahit, boleh kan?" tanya Yasmin
"Asal kau mematuhi aturan yang aku buat. Tidak berlebihan. Saat bersama tidak boleh ada pekerjaan. Bagaimana?"
"Baiklah. Aku siapa mematuhi aturan yang mas buat!"
***
Kini garasi mobil sudah kusulap jadi kedai minimalis lengkap dengan dapur dan etalase makanan. Untuk sementara waktu kamu hanya menjual makanan ringan yang sudah siap, semacam bolu, roti dan gorengan aneka jenis sebab target utamaku adalah pesanan online sebab di sini belum memungkinkan untuk menerima pelanggan yang datang dengan jumlah banyak.
Sesekali Yasmin datang membantu melayani jika pembeli cukup banyak. Sekedar membantu jadi kasir atau membuatkan minuman. Sementara aku dan Deni sibuk dengan urusan lainnya.
"Makanan ringannya sudah habis. Jadi bagaimana?" tanya Yasmin, sambil merapikan nampan yang pagi tadi penuh berisi makanan.
"Ya sudah, tutup saja." kataku, sambil membersihkan sisa pencucian. "Kita belanja lagi. Beli bahan-bahan untuk makanan ringan dan juga pesanan besok." kataku pada Deni.
"Kalau kalian mau belanja, aku ikut!" pinta Riana yang sejak pagi duduk rapi di sini, tentunya sambil terus makan.
"Kami mau belanja ke swalayan." kataku.
"Justru itu, aku juga ingin ikut. Aku ingin jalan-jalan, bosan di rumah terus!" ungkap Riana, sembari mengirimkan kode pada Deni, tetapi yang dituju hanya cuek saja sehingga membuat Riana semakin gondok.
"Kau ikut juga?" tanyaku pada Yasmin.
__ADS_1
"Ikut saja Yas, setelah itu kita double date. Makan di resto yang aku katakan dulu. Qret yang bayar." tambahnya.
"Kenapa jadi aku?" aku menatap Riana yang pura-pura tidak mendengarkan.