
Pertanyaan, mengapa ayah menikahi istrinya, Rani, padahal ia tidak cinta terjawab lewat cerita ibu.
Dahulu, ayah tertekan hutang pada ayahnya Rani. Belakangan, baru diketahui kalau itu hanyalah sebuah jebakan sebab Rani sangat mencintai ayah, tetapi tidak pernah ada respon balik dari ayah.
Tahun-tahun awal tekanan demi tekanan terus dirasakan ayah. Tetapi ia tetap mencoba bertahan demi tanggung jawabnya. Hingga sampailah pada titik jenuh. Dimana ayah mulai bosan atas perlakuan istrinya yang sewenang-wenang.
Hidup ayah terasa tidak berarti. Sampai ayah bertemu dengan ibu yang bekerja di rumah ayah. Benih cinta itu mulai tumbuh. Sayangnya, karena tidak dibekali oleh iman, mereka melakukan hubungan terlarang.
Sebenarnya ibu sudah merasa apa yang mereka lakukan salah. Ibu memutuskan hubungan dengan ayah. Tetapi karena berada di bawah atap yang sama, maka sulit untuk menghindari ayah. Hingga hubungan itu pun diketahui oleh istri ayah.
Ibu dipecat. Lalu dikejar-kejar oleh orang suruhan Rani. Hingga hampir kehilangan nyawanya sendiri. Karena frustasi menghadapi semuanya sendiri, sementara ayah tidak bisa berbuat apa-apa karena dibawah tekanan istri, ibu sampai berpikir untuk mengakhiri hidup.
Tetapi tidak jadi karena saat itu ibu baru mengetahui keberadaan ku dalam perut ibu. Susah payah ibu mencoba bertahan hidup sambil terus bersembunyi dari istri ayah.
Satu-satunya tempat yang aman adalah dunia hiburan. Agar bisa tinggal di sana, ibu harus bekerja sebagai pemuas nafsu laki-laki hidung belang.
Sebenarnya ibu tidak ingin melakukannya, tetapi tidak ada pilihan lain. Ibu melakoninya hingga usiaku tujuh tahun.
Saat ibu bertemu ayah kembali, barulah ibu berhenti. Tetapi taruhannya adalah membuangku dari sisi ibu. Sejak itu, ibu menikah secara siri dengan ayah.
"Hubungan yang dipaksakan sebenarnya tidak baik karena bisa saja kedepannya akan ada pemberontakan." begitu kata ibu tadi.
Aku jadi ingat Yasmin. Entah mengapa jadi ragu untuk melamarnya sebab takut jika ternyata ia menerimaku hanya karena hutang tiga milliar ayahnya. Hatiku benar-benar kacau. Bingung harus lanjut atau tidak lagi berharap padanya.
"Qret, kamu sedang melamun?" paman Rudi menepuk pundakku.
"Paman," aku tidak menyadari kedatangannya.
"Sedang memikirkan apa?"
"Banyak paman. Salah satunya kejadian tadi."
"Apa langkahmu selanjutnya, Qret?"
"Mungkin, aku akan pindah ke kontrakan di sekitar sini, paman. Sembari nabung ngumpulin uang untuk membangun rumah lagi."
"Kenapa harus ngontrak, Qret? Kamu bisa tinggal di sini,"
"Tapi paman, Qret tidak mungkin terus-menerus merepotkan paman. Lagipula paman kan mau pindah."
__ADS_1
"Qret, melihat kesungguhanmu untuk hijrah, paman jadi tertarik untuk ikut,"
"Maksud paman?"
"Paman juga ingin berubah seperti kamu, Qret. Paman ingin salat, tidak lagi melakukan hal-hal yang dikarang agama. Paman ingin jadi orang baik. Apalagi usia paman sudah tidak muda lagi dan paman punya tanggung jawab Riana. Paman ingat kata-katamu Qret, jangan sampai di akhirat nanti hidup kita sudah."
"Benarkah paman?"
"Ya Qret. kau benar. Paman sudah memikirkan semuanya sejak pembicaraan terakhir kita di ruang kerjaku."
Rasanya seperti mendapatkan segelas air di saat berada di Padang pasir yang tandus dan panas. Aku bahkan secara spontan memeluk paman.
"Terimakasih ya Allah. Qret sangat senang paman," aku tak henti mengucap syukur.
"Qret, bantu paman!" pinta paman Rudi.
"Tentu saja paman. Kita sama-sama berubah, sama-sama belajar."
"Kita akan mulai semua dari awal. Paman pun akan meninggalkan semua yang Allah larang!"
"Baiklah, kita mulai belajar besok, setelah kami menemukan tempat tinggal baru yang sesuai."
Usulan paman Rudi kuterima. Malam ini juga rencananya kami akan pindah ke rumah sebelah. Untuk sementara waktu ibu akan tinggal sendirian saat aku bekerja karena dua pembantu kami sudah ku berhentikan karena saat seperti ini tidak mampu menggaji karena semua benda-benda berharga milikku hangus terbakar.
"Ya Allah, terimakasih paman. Aku benar-benar tidak menyangka, banyak sekali kemudahan yang Allah berikan." entah mengapa, air mata itu kini terus tumpah. Sulit sekali membendungnya. Air mata kebahagian karena paman akhirnya memilih berada di jalan yang sama denganku.
***
"Yasmin?" aku benar-benar tidak menyangka, ia berada tepat di depanku. Tentunya tanpa senyuman sedikitpun.
"Tuan, maaf kalau aku mengangetkan," ia masih menundukkan kepalanya.
"Masuklah Yas, duduklah di sini." kusodorkan bangku untuk Yasmin. "Ada apa?" tanyaku.
"Ini," Yasmin menyodorkan rantang yang dari dalamnya tercium aroma yang sangat lezat.
Aku memang sudah mengabari Yasmin kalau sekarang bekerja di bengkel ini sebagai manager. Tidak lupa ku kabari juga tentang kebakaran yang menghanguskan semua milikku.
"Kau datang ke sini untuk membawakan ku makan siang?" aku nyaris melonjak karena bahagia mendapatkan kiriman makanan darinya.
__ADS_1
"Tadi sebenarnya aku mau mengantarkan pesanan jahitan. Ayah yang menyuruh sekalian mengantar makanan untuk tuan,"
Jawaban Yasmin sukses membuatku kecewa berat. Bunga di hati yang tadinya bermekaran langsung layu. Ternyata ia melakukannya bukan karena keinginan sendiri.
"Yas, besok tidak usah mengantarkan makanan lagi ya."
"Kenapa tuan?"
"Tidak apa-apa, aku bisa beli makanan di luar."
"Tapi tuan,"
"Yas, jangan bersikap baik juga padaku."
"Apa aku melakukan kesalahan?"
"Tidak Yas,"
"Lalu mengapa tuan melarang?"
"Aku tidak mau Yas. Aku tidak suka dengan semua ini."
Sebentar, sepasang mata Yasmin menatapku. Entah apa maksudnya. Lalu ia cepat-cepat menunduk. "Aku pamit tuan." ucapnya.
Ahhhh Yas. Andai ini semua benar-benar kau buat atas keinginan mu sendiri, aku pasti sangat bahagia sekali.
Maafkan aku Yas, sudah mengikatmu karena hutang ayahmu. Harusnya aku bisa bersikap adil. Inilah saatnya aku melepasnya? Aku tidak mau kejadian yang menimpa ayah terulang kedua kalinya pada Yasmin.
Menjalani pernikahan karena tekanan bukanlah hal yang baik. Akan banyak masalah yang muncul nantinya.
Sebuah pesan kukirimoan pada Yasmin. Pesan agar ia tidak usah lagi mempedulikanku. Ia sudah ku bebaskan dari hutang tiga milliar. Aku tidak akan menuntut apapun lagi darinya.
Tetapi sebagai balasannya, ku minta ia untuk hidup bebas. Tidak perlu lagi merasa tertekan oleh kehadiranku.
Mulai sekarang hingga seterusnya, ia bebas mau berteman dengan siapapun. Juga mau melakukan apapun yang ia suka.
Pesan yang dikirim sudah dibaca oleh Yasmin. Tetapi sampai pulang kerja, pesan itu tidak dijawabnya.
"Relakan Qret ... relakan ia!" pintaku, sambil berbisik dalam hati.
__ADS_1
Aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Atas kekecewaan yang kini terasah. Mungkinkah ini waktunya agar aku bisa fokus belajar agama, hanya memikirkan Tuhan. Orang bilang, Tuhan tidak pernah suka jika kita mencintai sesuatu hal melebihi rasa cinta kita pada Tuhan. Mungkinkah itu yang kini terjadi padaku?