
Semenjak tinggal di rumah ini, Yasmin semakin akrab dengan Riana. Bahkan Yasmin menyatakan bahwa ia dan Riana sudah menjalin persahabatan. Entah bagaimana awalnya, dua orang wanita yang berbeda latar belakang serta sifatnya ini bisa menjadi begitu dekat. Bahkan seperti orang yang sudah lama saling kenal.
Tetapi hampir setiap hari mereka berbincang, meski hanya beberapa menit. Bahkan kalau bertemu secara tidak sengaja, maka akan ada saja obrolan antara mereka berdua. Aku saja sampai bertanya-tanya, apa tidak bosan? Kalau Riana memang suka ngobrol, tapi Yasmin?
Seperti pagi ini, saat aku hendak ke pasar ditemani Yasmin. Hari ini aku memang berniat belanja untuk memenuhi kebutuhan dapur kedai. Tiba-tiba saja Riana sudah mengekor di belakang.
"Kau tunggu di kedai saja. Aku dan Yasmin akan ke sana setelah berbelanja." kataku pada Riana. Bukan tanpa alasan aku menyuruhnya untuk tidak ikut ke pasar, seperti biasanya, ia hanya mengantarku sampai di depan pasar. Lalu ia akan nongkrong di kedai soto atau bubur, sedangkan aku dibiarkan berbelanja sendiri, dan aku takut ia akan menularkan kebiasaannya itu pada Yasmin. Sementara pagi ini aku butuh masukan dari Yasmin tentang beberapa hal yang berkaitan dengan menu baru kami.
"Yas kau tahu, di toko pakaian yang tidak jauh dari kedai Qret ada gamis baru yang cantik sekali. Warnanya merah maroon, warna kesukaanmu." Riana berbisik pada Yasmin, tapi entah sengaja atau tidak, terdengar juga di telingaku.
"Aku tidak punya uang Riana, lagipula kalau butuh gamis, aku bisa jahit sendiri." jawab Yasmin dengan berbisik tapi terdengar juga di telingaku.
"Tapi gamis ini berbeda Yas, aku yakin kau akan semakin cantik. Kita bisa memakainya saat datang ke kajian nanti!" imbuh Riana masih dengan suara pelan. "Kau kan bisa minta dibelikan. Sudah punya suami ini."
"Aku belum butuh, Riana," Yasmin memaksakan senyumnya.
"Ayolah Yas, nanti pulang jualan kita ke sana," ajak Riana.
"Tidak dulu." Yasmin masih bertahan dari godaaan Riana.
"Hem, Qret ...," panggil Riana, ia menyiratkan sesuatu.
"Apa?" aku pura-pura sibuk, bukan karena ingin mengelak dari belanja gamis yang mereka bicarakan. Sebenarnya aku sendiri tidak masalah jika Yasmin ingin membeli gamis atau apapun juga. Jumlah seluruh uangku sudah diketahui oleh Yasmin. Ia bahkan bebas mau mengambilnya. Tapi saat ini aku sedang tidak tertarik membahas mengenai belanjaan.
"Kalau istri menginginkan sesuatu, apa suaminya akan mewujudkan?" tanya Riana.
"Kalau mampu, kenapa tidak? Tapi yang meminta harus istrinya sendiri, bukan karena rayuan temannya!" jawabku.
"Huuh," Riana langsung terdiam, sementara Yasmin tertawa cekikikan.
"Memang kamu mau gamis?" tanyaku pada Yasmin.
Dengan cepat gadis itu menggelengkan kepalanya, Riana yang semula tersenyum mendengar pertanyaanku langsung kembali cemberut.
"Kenapa kau pelit sekali, Qret?" Riana mulai blak-blakan.
"Pelit bagaimana? Yasmin saja tidak meminta." kataku.
__ADS_1
"Itu karena ia sungkan. Apa kau tidak sadar, gamis Yasmin tidak seberapa. Yang bagus cuma dua, warna biru laut dan biru tua. Masa kau tidak mau membelikan?" Riana marah padaku. "Ya sudah, kalau kau tidak mau membelikan, aku yang akan memborong gamis untuk Yasmin!" Riana langsung memasang wajah cemberut.
Aku pura-pura tidak melihat, meski sebenarnya terpikirkan juga untuk membelikan Yasmin gamis.
Apa yang dikatakan Riana memang benar, Yasmin tidak punya banyak gamis. Hanya dua yang layak dipakai ke tempat umum, sementara tiga lembar lainnya sudah sangat usang. Bahkan warnanya sudah berubah dan ada tambalan di beberapa bagian.
Tepat di depan pasar, Riana langsung mengajak Yasmin mampir di warung soto, dengan santainya ia menyuruhku belanja sendiri. Untung saja Yasmin tidak mau. Ia lebih memilih menemaniku belanja.
"Anak itu benar-benar keterlaluan. Entah bagaimana nasib Deni nantinya kalau mereka jadi menikah." kataku, sambil mengomel sepanjang jalan.
"Memang kenapa? Riana baik kok. Apa setiap perempuan yang tidak mau masuk kasar itu dianggap buruk?" tanya Yasmin.
"Ya tentu saja tidak, tapi kan ...,"
"Mas tidak boleh membicarakan Riana seperti itu, ia temanku "
"Lha, tapi kan aku sudah mengenalnya lebih dulu sebelum kalian berteman. Lagipula ia akan menikah dengan temanku juga."
"Tapi kan kalian tidak bersahabat!"
"Tapi tidak sedekat kami!"
"Ahhhh sudahlah, tidak usah diperdebatkan. Ayo kita belanja!" aku menggandeng tangan Yasmin, kami mulai mengunjungi satu penjual ke penjual lainnya.
Benar saja, dengan membawa Yasmin maka pekerjaanku jadi lebih ringan sebab ia sangat cekatan memilih serta menawar hingga harganya jadi sangat miring. Kalau begini terus, aku bisa untung besar!
"Ini untuk apa?" tanyaku, menunjuk beberapa bahan belanjaan yang tidak terdapat dalam daftar.
"Aku mau membuat kue. Untuk dijual. Siapa tahu laku, kan lumayan." ia tersenyum sambil berjalan.
Kantong belanjaan sudah penuh. Aku mengajak Yasmin pulang, tentunya tidak lupa mengampiri Riana yang baru selesai menghabiskan sotonya.
"Kalian kompak sekali, belanjanya cepat!" ungkap Riana. "Padahal aku masih mau nambah."
"Kalau begitu kami duluan," aku melambaikan tangan.
"Hei, jangan begitu." Riana cepat menyusul, setelah membayar pedagang soto. Ia kembali berjalan di samping Yasmin.
__ADS_1
"Riana, hari ini Deni kembali masuk kerja." kataku.
"Oh," ia hanya menjawab singkat, meski terlihat jelas bahwa ia canggung.
"Kau tidak akan menangisinya karena mencoba bunuh diri, kan?" kataku.
Bukkk. Lagi-lagi sebuah pukulan melayang di perutku. Gadis ini benar-benar keterlaluan. Sakit sekali, sampai kantong bekanjaanku terlepas. Untung isinya tidak berserakan, kalau tidak mungkin sudah juajak bergulat ia.
"Yas, sakit!" kataku, sambil menunjuk ke arah perut. "Riana meninjuku lagi."
"Makanya jangan ganggu Riana." ungkap Yasmin.
"Tapi dia memukulku." aku masih berusaha mencari pembelaan.
"Tapi mas duluan yang mengganggunya." kata Yasmin lagi.
"Yas, kamu sudah tidak peduli padaku? Kenapa lebih membelanya?" aku menatap kesal Yasmin. "Ini sakit sekali, lho!"
"Riana mungkin juga sakit hati. Tapi mas enggak sadar, kan?"
"Kok gitu sih?"
"Mas, kan sudah kukatakan, Riana itu sahabatku. Jadi jangan mengganggunya. Kalau mas yang ganggu, aku nggak akan membela mas." cetus Yasmin sambil berlalu.
"Ya ampun, Yas!" seruku.
"Syukuri, Wek!" Riana mencibir sambil berlalu mengejar Yasmin.
"Dasar kalian jahat!" aku membatin.
Sungguh tega, Yasmin lebih memilih persahabatan ketimbang aku yang terluka. Apa mereka lupa dulu sempat tidak akur. Riana yang selalu mencurigai Yasmin, jutek padanya hingga pernah mengusir saat Yasmin datang. Tapi kenapa sekarang malah berubah seratus derajat? Mereka akrab sekali layaknya sahabat yang sudah menjalin persahabatan sejak lama. Bahkan terlihat rela berkorban satu sama lain.
"Lihat saja nanti, aku akan mendapatkan hati Yasmin seutuhnya. Riana akan kukalahkan sebab aku kan suaminya Yasmin.
😊😊😊😊😊
Halo para pembaca, terimakasih sudah setia membaca cerita ini. Jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen, dan ikut memvote-ya. semoga ada hikmah yang bisa diambil :)
__ADS_1