GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
186. Setelah Enam Bulan


__ADS_3

Jasmin menatap nanar kuburan yang masih berwarna merah tersebut. Ia tak bisa berpaling meskipun sudah dua hari ayahnya berbaring di sini. Ia kembali ke rumah hanya saat langit berwarna gelap, saat Ren memaksanya untuk segera pulang, begitu kembali terang, maka ia akan buru-buru ke sini.


Sejak ayahnya meninggal, Jasmin memang tak punya keinginan lain selain bersama ayahnya. Ia bahkan tak bicara dengan siapapun.


Sedang asyik dengan lamunannya, tiba-tiba seseorang menyentuh pundaknya, lalu menggenggam erat tangannya. Ialah Ren, lelaki yang sudah menghalalkannya.


Sepekan lalu, Ren berhasil memenuhi tantangan ibunya, tentunya atas bantuan Riu. Lalu ia menyampaikan maksud untuk menikahi Jasmin. Ibunya tak bisa mengelak lagi.


Lima hari setelah itu mereka melangsungkan akad. Benar-benar penuh haru biru. Saat Ren mengucapkan janji suci dipandu wali hakim di hadapan ayahnya Jasmin yang masih tertidur karena koma.


Lima belas menit kemudian, tangan Qret bergerak. Sesuatu hal yang tak pernah terjadi semenjak Qret masuk ruang perawatan. Tapi gerak itu tak lama, Qret hanya memberikan isyarat bahwa ia benar-benar akan pergi untuk selamanya. Kemudian alat bantu yang semula naik turun berubah jadi garis lurus. Ayahnya meninggal dunia.


Jasmin dan ibunya yang paling terpukul, tetapi mereka telah mendapatkan ganti, lelaki yang akan menjaga Jasmin menggantikan ayahnya.


"Kan sudah kukatakan, kalau mau ke sini, ajak aku juga. Jangan pergi sendiri. Aku takut kamu kenapa-napa." ungkap Ren, sambil mencium kepala istrinya dari samping.


"Aku rindu ayah." ucap Jasmin dengan wajah yang sudah sangat sembab. Dua hari ini ia terus saja menangis, bahkan kadang sambil tidur pun mengigau dengan menitikkan air mata. "Sekarang tak akan ada lagi yang mengkhawatirkan aku!"


"Kata siapa? Ada aku yang akan selalu menjagamu. Sekarang aku adalah suamimu Jasmin. Kau adalah tanggung jawab ku."


"Kakak kelas!"


"Jasmin, apapun yang terjadi, aku akan selalu bersamamu. Sekarang, kalau kau masih ingin bersama ayahmu, silakan. Aku akan menanti. Tapi jangan suruh aku pergi atau ke sini diam-diam tanpa sepengetahuan aku. Biarkan aku tetap bersamamu." pinta Ren sambil menggenggam erat tangan perempuan yang baru beberapa hari ini dah menjadi pendamping hidupnya.


Berat memang bagi Jasmin. Setelah perjuangan cukup panjang menanti kesembuhan ayahnya, tiba-tiba saja ayahnya pergi begitu saja. Rasa lelah dan sakit ditinggalkan begitu membuatnya terpukul hingga kadang tanpa sadar ia melangkah sendirian menuju makam ayahnya.

__ADS_1


Bagi anak perempuan, kehilangan ayahnya adalah sakit yang amat menyedihkan. Seperti patah hati pada cinta pertama, begitu kata orang-orang dan Jasmin mengalaminya sekarang. Ia seperti kehilangan sebagian semangat hidupnya.


Tetapi Jasmin sebenarnya beruntung sebab sekarang sudah ada Ren di sisinya. Seorang lelaki yang dicintainya.


"Ayahku sangat menyayangiku." ungkap Jasmin, sambil memegang batu nisan ayahnya. "Ia adalah lelaki terbaik di hidupku."


"Ya, aku tahu itu. Ibuku, bibi Riana dan ibu Yasmin sudah. Bercerita padaku" Ungkap Ren. "Aku harus berjuang keras untuk bisa menggantikan ayahmu meski aku yakin tak akan bisa menggantinya dalam hatimu."


"Aku sangat mencintai ayahku."


"Ya, aku tahu itu."


"Sekarang rasanya aku sudah kehilangan semangat hidup."


Ren segera meraih kepala Jasmin kedalam pelukannya. Ia membiarkan istrinya menangis hingga puas di dadanya. Sesekali Ren mengusap pelan kepala Jasmin.


Jasmin, kau adalah satu-satunya harapan ayahmu. Ingat apa yang ia tulis untukmu. Harapannya agar kau menjadi sumber kebahagiaan untuk ibumu. Kau sudah memenangkan hati ibumu, sekarang tinggal memberinya kebahagiaan.


Kalau kau menyerah sekarang, aku sangat yakin ayahmu pasti begitu kecewa. Apa kau mau melakukannya seperti itu?


Ayo, sama-sama. Bersama denganku. Wujudkan harapan ayahmu. Kau memang kehilangannya, tapi kini kau punya aku. Beri aku kesempatan untuk membahagiakan kamu. Aku janji, tak akan membiarkan air matamu bercucuran jika kau bersamaku." Pinta Ren.


"Kakak kelas," Jasmin masih menangis.


"Jangan sampai ayahmu kecewa."

__ADS_1


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Tetap semangat melanjutkan kehidupan, Jasmin. Jangan seperti ini. Kalau kau begitu, ibumu akan semakin terpuruk karena tak ada yang bisa menghiburnya selain kamu."


Jasmin terdiam sebentar, ia mencoba menelaah perkataan Ren. Tak lama ia bangkit dari duduknya, lalu memberikan isyarat pada Ren agar kembali pulang.


"Jika aku rindu ayah, bolehkah aku datang ke sini?" tanya Jasmin.


"Tentu saja sayang." kata Ren.


Jasmin dan Ren berjalan bergandengan menuju rumah. Sampai di sana, Jasmin tak tahan untuk tidak segera berlalu menuju kamar ibunya.


Benar apa kata Ren, ibunya tampak lebih kacau darinya. Duduk di samping tempat tidur sambil memeluk foto ayahnya dengan wajah yang begitu kacau.


"Bu," panggil Jasmin. "Maaf Bu, aku tak memperhatikan ibu, maafkan aku!" Pinta Jasmin, ia memeluk erat tubuh ibunya yang berguncang menahan tangisan.


"Kita sudah kehilangan ayahmu," kata Yasmin.


"Tapi ia selalu ada di hati kita. Ya kan Bu?"


"Ya nak."


"Bu, jangan begini lagi ya. Kita tetap lanjutkan hidup agar ayah bangga. Jangan bertengkar lagi, kita hanya bisa mendoakan ayah."


"Ya Jasmin!" ibu dan anak itu kembali berpelukan sambil berlinang air mata. Sementara di depan pintu, Ren melihat pemandangan haru dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


😊😊😊


Alhamdulillah, cerita GARA-GARA 3M sudah selesai. Terimakasih untuk pembaca yang sudah membaca cerita ini sampai akhir. Semoga ada hikmah yang bisa dipetik. Sampai jumpa di cerita author lainnya :)


__ADS_2