
Pagi ini, Yasmin mengirim pesan padaku. Sebuah pesan yang membuat keningku berkerut. Mencoba memahami maksudnya, tetapi tetap tidak bisa. Ahh, mungkin ini hanya pesan biasa. Aku saja yang terlalu geer karena ia mengirimkan pesan setelah sekian lama hanya bersikap dingin padaku.
Setiap orang punya cacat di hidupnya. Cacat yang dapat ditutupi dengan seribu kebaikan. Bisa ditebus dengan tangisan penyesalan dalam taubat. Jika engkau ingin menjadi pemenang, maka Istiqomah lah.
Begitu isi pesan dari Yasmin.
Sebuah pesan yang aku yakini hanya pesan biasa yang mungkin juga akan diberikannya kepada orang lain.
Siapakah aku, hanya punuk merindukan bulan. Seorang pendosa yang berharap mendapatkan bidadari.
Pesan kedua kembali datang kepada Yasmin.
Berbahagialah engkau ketika Allah tunjukkan hidayah itu. Beruntungnya engkau sebab tidak semua bisa mendapatkannya.
Lagi-lagi dadaku bergemuruh, namun tidak mampu mengartikan semuanya. Yah, mungkin ini hanyalah sebuah pesan penyemangat untuk tetap istiqamah dalam hijrah.
Andai ... Allah kirimkan bidadari itu menemani hijrah ini, tentulah akan terasa sedikit ringan.
Astagfirullah. Buru-buru aku istighfar. Harusnya cukup Allah saja. Kau tidak butuh cinta yang lain.
Langit berwarna biru, dari balkon kamar di lantai dua, aku masih asyik dengan buku di tangan. Buku panduan salat pemberian Heri. Kenapa susah sekali menghafalnya. Entah sudah berapa kali aku mengulang, tapi tetap tidak masuk. Saat aku menghafal ujungnya, pangkalnya hilang, begitu juga sebaliknya. Sungguh membuat pusing.
Tiba-tiba pandanganku tertuju pada satu keluarga kecil. Sepasang suami istri dan dua anaknya. Sang ibu memakai kerudung, begitu juga anak perempuannya yang ku perkirakan berusia empat tahun.
Luar biasa sekali. Pemandangan yang sangat indah. Keluarga yang aku idam-idamkan. Punya istri sebagai teman hidup, serta anak-anak yang salih saliha.
Tanpa sadar senyum langsung merekah. Membayangkan kalau aku dan Yasmin lah yang tengah berjalan-jalan di taman komplek bersama anak-anak kami. Kelak aku ingin punya anak banyak. Tujuh, delapan atau mungkin sepuluh orang.
Aku akan bekerja keras untuk mereka. Memenuhi kebutuhan mereka dengan rezeki yang halal agar anak-anakku menjadi anak yang salih.
Ah, andai mimpi itu terkabul, pastilah sangat menyenangkan sekali.
Setetes air mata menetes, diikuti oleh tetesan berikutnya hingga pipiku banjir oleh air mata. Sungguh, aku ingin jadi orang baik. Sangat ingin. Masih adakah kesempatan itu ya Allah?
Entah mengapa, semangatku untuk terus belajar menjadi lebih baik langsung meningkat. Rasanya tidak ingin menyia-nyiakan waktu, meski hanya satu detik. Aku ingin jadi orang baik.
Buku itu kini kembali kubaca. Hal-hal yang membuat konsentrasi pecah sudah kusingkirkan. Rasanya aku sudah rindu.
Rindu untuk bisa segera berbicara dengan-Nya. Rindu berkeluh kesah pada-Nua. Rindu mengejar cinta-Nya.
__ADS_1
Ya, benar. Aku harus mengejar cinta Allah. Setelah itu biar Dia yang menentukan takdir hidupku selanjutnya.
Pergilah Yasmin. Aku merelakannya. Aku ingin mengejar cinta yang lebih Agung. Cinta yang lebih mulia. Cinta yang sebenar-benarnya.
Seperti sedang berlomba dengan waktu. Aku terus berlari. Tidak lagi ingin ketinggalan. Aku harus menjadi orang baik.
Bayangkan, betapa banyak Rahmat dan karunia Allah pada kita. Lalu mengapa masih sulit bagi kita untuk datang oada-Nya?
***
"MasyaAllah mas Qret, baru beberapa hari tapi mas sudah menunjukkan perubahan yang sangat signifikan. Dalam waktu tidak sampai tiga bulan, saya yakin mas akan lancar membaca Qur'an." ungkap Heri.
"Benarkah!" mataku berbinar mendengarnya. Membayangkan akan lancar membaca ayatcinta-Nya. Ya Allah ... rindu sekali.
"Yang penting istiqomah, mas!"
"Iya,"
Heri pamit pulang. Kali ini kutitipkan bingkisan untuk keluarganya. Meskipun ia mengatakan ikhlas mengajariku, tetapi aku ingin membalas kebaikannya. Menjadi jembatan untukku mengenal Allah.
"Sudah selesai Qret?" tanya paman Rudi. Rupanya dari tadi paman Rudi dan Jack menanti.
"Sudah dari sejam yang lalu," ungkap Jack.
"Kenapa tidak memanggilku?" tanyaku, sambil mempersilakan mereka masuk ke dalam ruang. Kerjaku.
"Tadi kamu terlihat serius, rupanya sedang belajar mengaji," kata-kata Jack seperti sebuah sindiran untukku.
"Ada apa, paman?" Ku alihkan pembicaraan.
"Bagaimana kelanjutan bisnismu, Qret?" tanya paman Rudi.
"Aku akan memulai bisnis baru, paman. Tapi bukan bar atau diskotik lagi." jawabku.
"Mau buka bisnis di bidang apa, Qret?" pertanyaan berikutnya dari paman Rudi.
"Entahlah, mungkin kuliner atau supermarket." jawabku lagi.
"Hahaha, benar kata Riana." cetus Jack.
__ADS_1
"Qret, apa kau serius mau merubah semuanya?" Paman Rudi bicara sungguh-sungguh.
"Iya paman. Saya sudah mantab ingin hijrah." Ku ceritakan semua yang menimpaku belakangan ini, tentang ketenangan hati, harapan untuk menjadi lebih baik lagi, serta proses hijrahku.
"Hm, pikirkan dulu Qret. Akhir pekan baru katakan pada kami." terlihat ada kekecewaan tersirat di kedua netra paman Rudi. Aku mengerti, jika hijrah, maka jalan kami akan berbeda. Aku akan sangat kehilangan sosok paman yang sudah ku anggap seperti ayah sendiri.
Perlahan sosok paman Rudi pergi, menghilang dari pandanganku. Tertinggal aku dan Jack.
"Kalau kau pergi, ini perpisahan kedua kita!" ungkap Jack. Teringat kembali saat pertama kali berpisah, berat tetapi aku punya jalan sendiri. Butuh beberapa lama bagiku untuk bisa bangkit seperti semula.
"Kita bisa tidak berpisah, Jack."
"Surga dan neraka tidak akan bisa bersatu!"
"Kalau begitu, ayo sama-sama ke surga. Jadilah saudara yang sama-sama saling sokong ke surga Allah. Sungguh, kalau kau pilih jalan itu, aku akan sangat senang sekali Jack." ucapku, sungguh-sungguh. "Kita akan sama-sama menang, Jack!"
"Sepertinya belum Qret. Belum ada panggilan untukku. Kau tahu, dosaku teramat banyak. Bahkan mungkin isinya dosa semua hahaha." Jack tertawa miris.
"Hidayah bukan hanya ditunggu, tapi juga harus dicari Jack. Setiap orang punya salah, tapi juga berhak mendapatkan ampunan asal benar-benar taubat!"
"Entahlah ... Tapi kau sudah seperti ustad saja Qret."
"Please Jack,"
"Aku tidak tahu." Jack menggelengkan kepalanya, lalu berlalu.
Ini seperti salam perpisahan. Aku kembali meneteskan air mata, menatap kepergian dua orang yang paling berarti di hidupku.
Saat akan berlalu, baru ku sadari, ada Deni berada di dekat pintu, ia diam mematung, tetapi matanya basah. Deni pasti menangis.
"Kau akan bersamaku, kan?" tanyaku padanya.
"Entahlah tuan." jawabnya. Ia pun berlalu dari pandanganku, seperti paman Rudi dan Jack.
Tolonglah, ikutlah denganku. Kita sama-sama pergi menuju jannahNya. Meski tertatih, tapi jika bergandengan, pasti akan sampai ke tujuan. insyaAllah. Ayolah, raih tanganku.
Kenapa, kenapa tidak ada yang mau? Aku ingin membawa mereka dalam kebaikan, tetapi semua orang menolak, bahkan meninggalkan ku sendiri.
Perlahan netraku basah. Banjir oleh air mata. Sakit sekali rasanya, saat engkau ingin mengajak orang pada kebaikan, tetapi ditolak. Kata Heri, itulah namanya dakwah. Tidak semua orang bisa menerimanya. Yang harus kita lakukan. Saat ditolak adalah terus melangkah, terus mengajak dan mendoakan.
__ADS_1