GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
146. Kerinduan Yasmin


__ADS_3

Aku dan Yasmin duduk di bangku tunggu rumah sakit sambil bergenggaman tangan.


Hari ini kami akan bertemu dengan dokter spesialis yang akan menangani kasus kami. Berbagai rasa hadir di diri. Deg-degan, panas dingin, bahkan agak sedikit takut. Kalau-kalau hasilnya tidak seperti yang kami bayangkan. Apalagi kalau sampai Yasmin kecewa.


"Pak Qret dan ibu Yasmin!" perawat yang berdiri di depan memanggil nama kami berdua, lalu mempersilakan aku dan Yasmin masuk ke ruangan seorang dokter perempuan yang usianya kuperkirakan sudah kepala lima tetapi masih sangat energik.


"Selamat siang, saya dokter Yana, yang akan membantu menangani masalah program bayi tabung." sapa dokter tersebut.


"Selamat pagi, dok." kataku.


"Bagaimana, sudah siap dengan program yang akan kita jalani?" dokter tersebut mulai menjelaskan tentang serangkaian yang aku sangat yakin akan sangat melelahkan sebab selain lama, juga akan membuat Yasmin melewati banyak rangkaian pemeriksaan.


"Bagaimana?" tanya dokter itu lagi.


"Kalau biaya bagaimana?" tanya Yasmin secara tiba-tiba tanpa pernah kami sepakati sebelumnya.


"Sebenarnya tergantung berapa jenis obat yang akan kita pakai, juga siklus yang harus dijalani. Biasanya dimulai dari empat puluh juta. Tepatnya nanti bisa ditanyakan pada bagian keuangan." kata dokter tersebut sambil tersenyum.


"Sampai berapa kira-kira dok rate-nya?" tanya Yasmin lagi.


"Yas, jangan pikirkan uangnya. Kamu cukup menyiapkan diri untuk menjalani prosesnya." kataku.


"Tidak apa-apa, untuk ketenangan. Kalau tidak disampaikan nanti takutnya jadi stres dan itu bisa membuat prosesnya gagal." kata dokter tersebut. "Bisa enam puluh lima juta di luar biaya skrining yaitu HSG, cadangan telur, ****** dan hormon."


Selesai mendapatkan penjelasan, aku dan Yasmin pamit pulang. Yasmin terlihat begitu stress. Aku tahu ia begitu ingin menjalankan proses tersebut, tetapi berat dengan biaya yang harus di keluarkan.


"Enggak apa-apa sih Yas, kita coba saja dulu." kataku.


"Enggak mas. Segitu besar sekali. Belum lagi biaya-biaya lainnya dan memungkinkan positif juga masih kecil." kata Yasmin sambil menundukkan kepalanya dengan lesu.


"Terus bagaimana?"


"Mas ... beneran enggak apa-apa belum punya anak?"


"Ya. Anggap saja Allah masih menyuruh kita untuk pacaran dulu. Kan kamu yang bilang pengen pacaran sama aku. Iya, kan?"


"Iya sih mas, tapi ...."


"Udah, enggak pakai tapi-tapi. Kalau kamu kangen sama anak-anak, nanti kan ada Riu."

__ADS_1


"Iya ya. Hari ini Riu bagaimana ya?" Yasmin langsung memencet Hpnya. Kemudian ia bicara dengan Riana, menanyakan kabar Riu. Saat itu wajah Yasmin langsung berseri-seri, tetapi begitu telepon di tutup, ia kembali murung.


"Tapi bagaimana kalau Riu dibawa Riana?"


"Aku punya ide supaya setiap hari kamu bersama anak-anak."


"Apa idenya?"


"Bagaimana kalau kita membuka taman bermain atau tempat penitipan anak. Kan asyik tuh setiap hari ada anak kecil yang bisa kamu gendong, cium dan ajak bermain."


"Tapi mau bikin di mana?"


"Entah!" aku dan Yasmin serentak tertawa.


***


Selain mengurus Riu, kini Yasmin juga ikut membantu berjualan. Ia bahkan mulai melakukan inovasi, membuta resep-resep baru yang tentunya langsung jadi favorit orang-orang sehingga membuatku bangga padanya. Yasmin memang istri yang bisa diandalkan meskipun belakangan ini ia sering ngambek tanpa sebab.


Hari ini Yasmin mencoba resep bolu terbarunya. Ia membuta dua loyang dan tidak sampai satu jam bolu tersebut sudah laris terjual.


"Yas!" Riana datang bersama Riu yang menangis.


"Riu kenapa nangisnya kekerasan begitu?" tanyaku, sementara Deni kembali bekerja, menata pesanan yang akan diantar.


"Enggak tahu tuh, dari tadi dia nangis terus. Eh pas digendong Yasmin malah diam. Benar-benar enggak adil nih anak. Kan aku yang melahirkan, masa diamnya sama Yasmin." Riana menggerutu.


"Justru itu yang namanya adil. Masa semua mau diambil ibu Riana, iyakan anak salih." Yasmin menyolek pipi Riu hingga ia tertawaan.


"Sepertinya Riu hanya sayang Yasmin, bukan aku!" kata Riana lagi.


"Ya enggak begitu RI," Yasmin mencoba menyangkal.


"Bayi itu bisa membedakan mana yang tulus dan enggak. Mungkin kamu kurang melayaninya dengan sepenuh hati." aku ikut menyela.


"Enak saja." Riana langsung cemberut.


***


"Yas, ke puncak yuk." aku mengajak Yasmin mengunjungi ayah dan ibu. Kami sudah lama tidak bertemu. Ayah dan ibu memang sedang sibuk menuntut ilmu di pesantren orang tua yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka.

__ADS_1


"Kapan?" tanya Yasmin dengan sangat antusias.


"Bagaimana kalau besok, selesai kerja. Tapi jangan kabari ayah dan ibu. Biar jadi kejutan saja. Terus nanti kita nginap di sana. Bagaimana?"


"Nginap?"


"Iya. Kita kan waktu itu gagal Kemping karena udara dingin. Nah sekarang bawa persiapan yang lengkap, terus kemping di sana."


"Riu bagaimana?" tanya Yasmin.


"Kan ada Riana."


"Kalau ada apa-apa dengan Riu bagaimana?"


"Ya ampun Yas, jangan terlalu memikirkan Riu. Ada orang tuanya. Ada paman Rudi juga. Mereka pasti tahu yang terbaik untuk Riu. InsyaAllah. Bagaimana?"


"Tapi ...."


"Ayolah Yas, ini permintaan spesial seorang suami. Mau ya. Kita kan sudah lama tidak liburan, ditambah lama tidak bertemu ayah dan ibu juga. Memangnya kamu enggak kangen sama ibu?"


"Kangen, banget malahan."


"Kalau begitu ayo kita liburan."


Yasmin berada dalam kebimbangan, ia sebenarnya ingin liburan ke puncak menemui ayah dan ibu, tapi terlihat belum rela berjauhan dengan Riu.


Aku tahu Yasmin sangat menyayangi Riu, tapi harus ada jarak juga. Selama ini Yasmin terlalu dekat sehingga mulai menampakkan sikap posesifnya pada Riu. Bagaimanapun Riu bukan anak kandung kami. Apalagi setelah aku tahu bahwa Riana, Deni dan paman Rudi berkorban demi kebahagiaan Yasmin.


"Baiklah." jawab Yasmin. "Tapi malam ini Riu nginap di sini ya." pinta Yasmin.


"Iya iya. Kamu lama-lama sudah seperti baby sitter Riu, Yas. Apa-apa Riu. Yang kamu ingat Riu, yang diurus juga Riu. Lama-lama aku kalah dari Riu."


"Enggak mas. Aku hanya rindu segera punya keturunan saja "


***


Benar saja apa yang aku perkirakan. Siangnya, saat kami akan berangkat ke Bogir, terjadilah drama perpisahan yang begitu mengharu biru. Yasmin terus-menerus menangis seperti mau berpisah dengan anak kandungnya sendiri. Riupun seolah mengerti, ikut menangis begitu Yasmin memberikannya pada Riana.


"Kalau ada apa-apa kabari aku ya RI." pinta Yasmin.

__ADS_1


"Siap!" seru Riana. "Selamat bersenang-senang ibu Yasmin. Hati-hati di jalan. Jangan lupa telepon Riu juga ya." kata Riana sambil melambaikan tangan kecil Riu. Pemandangan yang sangat manis sekali. Tetapi untuk sementara biarlah mereka berjauhan agar Riu tidak kebingungan nantinya, siapa ibu kandungnya sebenernya karena Riu memang terlihat lebih condong pada Yasmin.


__ADS_2