
"Aaaaaaa ...." teriak Jimmi.
Kedua mataku yang tadinya nyaris terpejam karena sudah mengantuk sebab asyik shalawat, kini kembali terang. Langsung menatap sumber cahaya, mencari tahu kenapa ia harus berteriak.
Rupanya tidak hanya aku yang dibuat kaget. Semua yang ada di kantor inipun merasakan hal yang sama. Dua orang polisi sampai harus mendatanginya, untuk memastikan bahwa Jimmi baik-baik saja.
Tetapi, si pembuat keributan ini hanya diam saja. Ia masih duduk sambil menundukkan kepalanya. Tidak ada sepatah katapun yang terlontar. Bahkan ia mengabaikan dua rekannya.
"Pak Jimmi baik-baik saja? Apa butuh sesuatu?" tanya salah satu polisi yang menghampirinya.
"Pak, Pak Jimmi!" panggil yang satunya lagi.
Diam. Dia masih belum juga bersuara meski sudah tiga kali ditanya. Sepertinya anak ini benar-benar hanya ingin menguji kesabaran orang-orang di sini. Ia bahkan tidak peduli bagaimana kagetnya orang lain. Memang pantas ia disebut sipembuat masalah.
Aku tidak ingin seperti rekan polisinya yang masih khawatir. Kuputuskan kembali berbaring, mengucap shalawat sembari memejamkan mata. Begini rasanya lebih kusuka.
Duh, sungguh adem sekali rasanya. Kata Heri, siapa yang paling banyak mengucap shalawat, maka Allah akan memberkahi hidupnya, memberikan banyak Rahmat untuknya. MasyaAllah.
Ternyata masih banyak yang harus aku pelajari. Sebab banyak yang tidak aku ketahui. Hidup ini memang tentang belajar dan terus belajar. Jangan pernah merasa sudah pintar, biar jatuhnya tidak sombong.
Ingat kan, tentang kisah iblis yang pada akhirnya terlempar dari surga karena sombongnya. Padahal iblis itu banyak tahu dan juga rajin beribadah. Tetapi karena kesombongannya, merasa lebih baik dari siapapun hingga akhirnya ia pun terlempar dari surga dan dipastikan akan kekal di neraka nantinya.
Tidak mau kan jadi pengikut iblis dan setan? Makanya jangan sombong.
"Saya tidak apa-apa, pergilah!" kata Jimmi, setelah beberapa kali rekan polisinya bertanya dari balik jeruji besi.
Dua polisi tadi pun langsung pergi. Mungkin mereka takut, banyak bicara bisa jadi masalah. Walau bagaimanapun, Jimmi adalah atasan mereka.
Aku cukup kasihan pada dua polisi tersebut. Ribet sekali punya atasan yang cengeng dan suka membuat masalah seperti adik kecilku itu.
"Qret!" ia memanggilku lagi.
Semula aku ingin tetap pura-pura tidur, biarkan saja ia memanggil. Kupikir, jika tidak disahuti dua kaki, ia akan diam, ternyata aku salah, sebab Jimmi terus bersuara, memanggil-manggil namaku.
"Apa lagi, hah?" tanyaku. "Aku ngantuk. Ingin istirahat!" kataku, tegas. Tidak ada gunanya lagi bicara dengannya. Aku sudah sangat bosan.
"Kau, jangan pernah berharap aku akan berubah baik padamu. Kau mengerti!" katanya.
__ADS_1
Lagi-lagi mengancam. Siapa juga yang berharap dibaiki oleh seorang Jimmi. Apa dia masih percaya diri bahwa aku memang begitu bangganya bisa menjadi saudaranya? Ya Tuhan, seseorang harus menyadarkannya bahwa aku sama sekali tidak merasakan itu. Aku biasa saja.
"Qret, kau dengar aku?" tanyanya lagi.
"Iya," jawabku, asal.
"Aku akan tetap dengan apa yang aku pikirkan. Bahwa kau dan ibumu bersalah. Kalian berdua merusak kehidupanku. Ibumu merebut ayahku, dan kau merebut Yasmin dariku!"
"Hah? Kenapa begitu? Enak saja kau membuat kesimpulan. Tidak ada yang merebut apapun darimu. Ayah sendiri yang ingin berpindah ke lain hati. Harusnya kalian instrospeksi diri. Seenaknya saja menjelekkan ibuku!
Lalu Yasmin, kau memangnya pernah jadi suami Yasmin? Ughhhh, amit-amit sekali. Aku saja kesal menyebutnya. Kau bukan siapa-siapa Yasmin. Kau hanya teman satu sekolah yang terus mendekatinya. Yasmin sendiri sudah menolaknya berulang kali, kan? Tapi kau malah terus saja mendekatinya. Seperti orang yang tidak tahu malu saja.
Awas saja kalau kau terus melakukan hal serupa itu setelah aku menikahi Yasmin. Akan kupatahkan tangan dan kakinya. Mengerti!
Oh ya, satu lagi. Jangan katakan ini lagi atau aku akan benar-benar merontokkan seluruh anggota tubuhmu!" kataku, sambil bicara sedekat mungkin dengan Jimmi, agar ia mengerti bahwa aku tidak tertarik dengan khayalannya itu.
Sepertinya Jimmi cukup takut, ia sampai mundur beberapa langkah hingga tidak dapat ku gapai.
"Aku tahu kau pasti stress Jim," kataku.
"Siapa yang stres? Aku? Enak saja, kau!" jawab Jimmi.
Lalu aku langsung berbalik, setelah Jimmi mengambil buku yang tadi kusodorkan. Baru beberapa detik, aku yang tadinya hendak kembali berbaring tiba-tiba menyadari sesuatu. Ada yang salah. Tapi apa?
Oh tidak. Aku segera berlari ke arah Jimmi, berusaha menggapai kembali bukuku, yang kuberi. Tetapi terlambat. Kertas itu jatuh tepat di kaki Jimmi. Dengan gesit ia mengambilnya dariku.
"Kembalikan, Jim!" kataku.
"Apa ini? Mengapa kau begitu takut?" tanya Jimmi.
"Bukan apa-apa," aku berusaha meraihnya, sambil berdoa semoga anak itu tidak membukanya.
"Aku akan melihatnya dulu,"
"Jangan Jim!"
"Kenapa? Apa isinya, Qret? Apa begitu penting sampai kau panik begitu? Kau membuatku semakin curiga saja. Apa ibu bukti-bukti kejahatanmu?"
__ADS_1
"Bukan!"
"Lalu apa?"
"Sudah kukatakan, itu bukan urusanmu, Jim!"
"Tapi setelah ada di tanganku, ini menjadi urusanku!"
"Jimmi, kau akan menyesal membukanya. Kembalikan. Aku minta tolong. Ini untuk kebaikanmu juga!"
"Hei hei hei, Qret. Sejak kapan kau memikirkan kebaikanku?"
"Sudahlah, kembalikan. Aku tidak ingin berdebat!"
"Tidak!"
Dengan cepat Jimmi membukanya, lalu membacanya. Ia masih tersenyum hingga kemudian membaca siapa pengirimnya. Yasmin. Wajah anak itu langsung berubah kecut. Mungkin lebih kecut dari jeruk yang asam.
"Kau!" kata Jimmi dengan tatapan penuh kemarahan.
"Ughhhh, siapa suruh membacanya? Kan sudah kukatakan, itu milikku. Kau sih, nekat juga membacanya. Cup cup cup. Ku harap kau tidak sakit hati. Tapi setidaknya sekarang kau tahu kan bagaimana perasaan calon kakak iparmu, padaku?"
"Aku akan menyedot seluruh darahmu ,Qret!"
"Hahaha, tidak Jim. Tidak. Kau bukan vampir!"
"Berani-beraninya kau main surat-suratan dengan Yasmin ku!"
"Hei, Yasmin itu milikku, bukan milikmu. Eh, maksudku, ia milik Allah. Tetapi Yasmin calon istriku!"
"Percaya diri sekali kau Qret. Ini pasti surat bohongan, iya, kan?"
""Kau tidak percaya itu tulisan Yasmin? Hei Jim, katanya kau mengagumi Yasmin. Mengetahui semua tentangnya. Masa kau tidak tahu kalau itu tulisan Yasmin?" aku tertawa penuh kemenangan.
Sementara Jimmi terlihat kesal sekali, ia menatapku yang sedang tertawa lebar dengan penuh kemarahan.
"Qret, aku tidak akan membiarkanmu bahagia!" ungkap Jimmi.
__ADS_1
"Oh ya?" tantangku.
"Lihat ini baik-baik Qret!" Jimmi meletakkan kertas tulisan tangan Yasmin tepat di depan wajahnya, lalu, dalam hitungan detik, tangannya dengan aktif langsung merobek-robek kertas tersebut menjadi serpihan kecil-kecil, dan tertawa terbahak-bahak atas ulahnya.