
Kami berempat berangkat menuju mall terdekat. Semula aku dan Deni mengajak berbelanja terapi Riana tidak setuju, ia ingin makan duluan. Kami tidak bisa menbantah sebab ia menjadikan bayinya sebagai alasan.
"Masa kalian tega membiarkan ibu hamil kelaparan? Apa kalian tahu, bayi di dalam perut ini sudah meronta-ronta minta makan." ungkap Riana.
"Halah, paling itu hanya alasanmu saja!" kataku.
"Sungguh Qret. Kau percaya kan Deni?" Riana menatap suaminya.
"Iya, aku percaya. Kau kan selalu menjadikan anak kita sebagai alasan." jawab Deni dengan nada datar tapi sukses membuta Riana gondok hingga ia memukul pundak Deni. "Sakit Riana!" pekiknya.
"Bukan keinginanku, tapi bayi kita yang memberikan arahan." jawab Riana dengan santainya.
"Akhirnya kau merasakan bagaimana kerasnya tangan Riana, Den." aku menepuk pundak Deni, pura-pura memintanya agar tegar.
"Sudah sering ia melakukannya." jawab Deni. "Bahkan saat aku tidur pun bisa ditendang dari tempat tidur jika ia kesal padaku."
"Ckckck, kau sungguh kejam Riana." aku geleng-geleng kepala.
"Sudahlah, jangan berisik. Ayo kita makan!" Riana jalan duluan, tentu saja ia yang memilih restonya. "Lisa!" Riana memekik sambil meloncat gembira. "Kita bertemu lagi!" ungkap Riana sambil memeluk Lisa.
"Riana ... Yasmin!" Lisa memeluk Riana dan Yasmin secara bergantian.
Aku dan Deni juga disambut oleh Jack. Siapa sangka resto yang dipilih oleh Riana adalah tempatnya Jack dan Lisa.
Setelah menyajikan makanan spesial di resto ini, Jack bercerita pada kami kenapa bisa jualan di resto yang cukup terkenal ini.
"Bagaimana ceritanya kau bisa jualan di sini? Resto ini kan mahal sekali." kataku, sambil melihat resto Jack yang cukup mewah.
"Iya, sewanya pasti mahal sekali." ungkap Riana.
"Kau ingat pengusaha Jepang yang hampir kita rampok dulu Qret?" Jack mengingatkan aku pada kejadian beberapa tahun silam waktu masih jadi bos gengster.
__ADS_1
Dulu waktu masih jadi berandalan, kami pernah ingin merampok sebuah mobil mewah yang berhenti di tengah jalan. Siapa sangka ia sudah jadi korban perampokan. Kami menemukannya dalam kondisi luka-luka. Karena iba, aku dan Jack membawanya ke rumah sakit, tetapi keluarga pengusaha Jepang itu menuduh aku dan Jack yang mencelakai tuan tersebut. Apalagi ditambah ada barang-barang tajam yang kamu bawa.
Kami sempat dijebloskan ke penjara. Tetapi hanya satu malam sebab kemudian pengusaha Jepang itu membebaskan kami.
Saat ia sadar memberi penjelasan pada keluarga dan pihak berwajib bahwa kamu bukanlah penjahat yang sudah merampok tuan pengusaha Jepang tersebut. Justru Kamilah yang menyelamatkan dengan membawanya ke rumah sakit sehingga bisa ditolong.
Ternyata perampok sebenarnya adalah salah seorang saudaranya sendiri. Sebagai ungkapan terima kasih, saat itu ia memberikan kami sejumlah uang. Aku dan Jack juga ditawarkan bekerja dengannya. Tetapi kami lebih memilih menjadi gerombolan gengster.
"Setelah lama tidak bertemu ternyata ia masih mengenaliku dan juga sangat ingat denganmu Qret. Apalagi dulu kau lah yang memberinya transfusi darah. Tuan Gre sangat ingin bertemu denganmu tetapi karena kesibukannya jadi belum bisa menemuimu.
Kau tahu Qret, saat aku benar-benar butuh pekerjaan setelah berhenti bekerja di kedaiku, ia memberiku kepercayaan untuk mengurus restonya ini dan seluruh penghasilannya untuk kami semuanya. Aku merasa sangat bersyukur sekali. Itu juga berkatmu Qret." ungkap Jack.
"Itu rezekimu Jack. Aku justru senang kau sudah punya pekerjaan lagi. Sekarang aku lega, tidak lagi merasa bersalah sebab sudah membuatmu kehilangan pekerjaan." kataku.
"Kalau begitu sekarang kalian nikmati makanan ini ya." kata Jack, sambil menyuruh istrinya menambah hidangan untuk kami.
"Apa ini semua gratis?" tanya Riana dengan tidak tahu malu.
"Tentu saja. Aku tak akan memungut bayaran dari teman-temanku." kata Jack.
"Yang namanya teman harusnya tahu diri, jangan berharap gratisan terus. Kau kira Jack mendapatkan bahan-bahannya secara gratis? Ia membelinya juga di pasar. Ia tidak mendapatkan secara cuma-cuma." kataku, menjelaskan.
"Ya ampun, kalian ini sensitif sekali. Aku tidak masalah jika memang harus dibayar. Aku hanya perlu kejelasan saja. Toh yang bertugas membayar kan kau Qret." Riana menunjuk aku.
"Fiuff, lain kali kita tidak usah mengajaknya." kataku pada Deni.
"Sudah ... sudah. Ayo makan!" Yasmin menengahi pertengkaran kami bertiga.
***
Selesai makan, kami bermaksud ingin langsung ke swalayan, tetapi tidak jadi sebab tiba-tiba Riana mengeluh bahwa perutnya sakit.
__ADS_1
"Aduh, kenapa ini?" tanya Riana sambil memegang perutnya.
"Kenapa?" Lisa mendekati Riana. "Jangan-jangan mau melahirkan." ungkap Lisa yang sudah punya dua orang putri.
"Apa? Tidak tidak tidak. Aku tidak mau melahirkan sekarang. Aku belum siap. Pakaian bayi dan semua peralatan masih ada di rumah. Aku juga belum siap. Lagipula masa melahirkan di mall, bisa-bisa aku viral." ungkap Riana.
"Sekarang duduk dulu, Riana. Apa yang kau rasakan?" tanya Lisa, berusaha menenangkan Riana yang terlihat sangat panik, bahkan ia mulai mencak-mencak, marah tanpa sebab pada Deni.
"Bagaimana ini, kata Lisa aku akan melahirkan. Aku tidak mau melahirkan di mall." teriak Riana sambil menjambak Deni.
"Ya Tuhan Riana, siapa juga yang menyuruhmu melahirkan di sini. Kau kira kami ini bodoh. Sudahlah. Ayo kita ke rumah sakit saja supaya semuanya jelas." kataku sebab iba pada Deni yang terlihat kesakitan dicakar Riana.
"Tadi Lisa mengatakan aku akan melahirkan." ungkap Riana.
"Tapi bukan berarti sekarang juga. Kau ini aneh sekali." aku geleng-geleng kepala.
"Lagipula bukannya baru delapan bulan?" tanya Deni.
"Peduli amat dengan delapan bulannya, yang jelas aku kesakitan dan mungkin bayinya akan lahir." ungkap Riana sambil memegang perutnya. "Bagaimana ini?" ia mulai histeris.
"Jangan berisik atau kita akan jadi tontonan." kataku.
"Peduli amat, aku sudah tidak sanggup." ungkap Riana.
Aku dan Riana masih saja ribut, kami saling menyerang satu sama lain hingga perdebatan itu tidak bisa dielakkan. Apapun yang dikatakan oleh Yasmin dan Lisa tidak kami dengarkan. Sedangkan Deni dan Jack yang sudah hafal watakku dan Riana memilih diam tidak peduli sebab mereka tahu, kami tidak akan bisa dilerai. Hanya akan berhenti kalau sudah sama-sama capek bicara.
"Awwww!" Riana berhenti mendebatku, ia berteriak keras saat air mengalir. Ketubannya pecah. "Bagaimana ini?" tanya Riana dengan mata berkaca-kaca.
Aku yang sejak awal bawel mendadak diam. Sementara Lisa yang berpengalaman menenangkan Riana. Ia menjelaskan bahwa itu adalah ketuban, tandanya kami harus segera ke rumah sakit. Tidak boleh menunda lagi sebab kondisi Riana harus segera diperiksa oleh ahlinya.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" kata Lisa dengan tegas. Ia menenangkan Riana bersama Yasmin. Sementara aku dan Deni membantu Jack menutup restonya sebelum kami semua pergi meninggalkan mall ini menuju rumah sakit.
__ADS_1