GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
159. Saat Semua Orang Memuji Riu


__ADS_3

Usai makan bakso, Jasmin dan Riu berjalan pulang. Mereka berjalan dalam diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Aku tidak mau pulang!" ungkap Jasmin, saat mereka hanya berjarak beberapa meter dari rumah. Ia menghentikan langkahnya.


"Kenapa, Jas?" tanya Riu.


"Ibu pasti masih marah." Jasmin memelintir ujung baju kausnya.


Riu terdiam, ia tahu betul bagaimana Yasmin jika marah. Cukup lama untuk meredakan emosinya, apalagi itu terkait Jasmin. Sebenarnya Riu juga tidak suka dengan cara marah Yasmin yang dinilainya terlalu berlebihan, tetapi selama ini tersimpan di dalam hati sebab ia tak tahu kalau Jasmin sebenarnya sudah tidak nyaman. Ia berpikir bahwa bagi Jasmin, kemarahan Yasmin ibarat kata-kata yang masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.


"Tenang, aku akan bicara pada bibi Yasmin." kata Riu.


"Bicara? Huuh, kadang aku bingung dengan dunia ini. Anaknya ibu adalah aku, tapi ibu lebih sayang padamu dari pada ke anaknya sendiri. Kamu laki-laki, tetapi yang sering dimarahi adalah aku!" Jasmin menarik nafas panjang, ia merasa dibaginya ada beban yang amat berat.


"Aku yang akan membujuk bibi Yasmin supaya tidak marah lagi padamu." Kata Riu.


Sejak masih di sekolah dasar, Jasmin sebenarnya sudah menyadari bahwa ada yang salah dengan hubungan antara Yasmin dan Riu. Ibunya begitu membela Riu, bahkan ia pernah dihukum hanya gara-gara membuat Riu secara tidak sengaja dalam masalah. Ia juga bahkan sampai tega mendiamkannya selama tiga hari. Kalau saja saat itu ayahnya tak ikut campur, mungkin ibunya akan mendiamkan lebih lama lagi.


Bahkan yang sering membuat Jasmin kecewa adalah ketika ibunya membandingkan ia dengan Riu. Kata-kata sayang dan terbaik yang ditujukan untuk Riu seperti sebuah luka untuknya.


Bukan karena ia membenci Riu, ia juga sebenarnya sayang pada Riu yang sudah dianggap layaknya saudara kandung sendiri sebab mereka tumbuh besar bersama. Meskipun mereka sering bertengkar, lebih tepatnya ia yang mencari gara-gara untuk melampiaskan kemarahannya atau mencari perhatian Yasmin.


"Jas," Riu membuyarkan lamunan Jasmin.


"Apa?" tanya Jasmin, masih dengan ekspresi wajah ditekuk. Sementara kedua netra ya mengawasi rumah yang terlihat sepi.


"Kamu percaya tidak, jika kamu mau berubah, pasti bibi akan sangat menyayangi kamu." kata Riu.

__ADS_1


"Berubah seperti apa, Riu? Jadi anak pondokan seperti kamu? Riu, kamu enggak lupa kan bagaimana tidak cocoknya aku dengan anak-anak di pesantren." Jasmin mengingatkan kembali bagaimana ia pernah kabur dari pondok pesantren karena sudah tidak sanggup menghadapi beberapa anak pondok yang terus menerus mengerjainya, padahal Jasmin merasa tidak bersalah.


Demi menyenangkan hati ibunya, ia rela berkorban. Meninggalkan kehidupannya, mengikuti mau ibu untuk sekolah di pondok. Tetapi apa, anak-anak di sana memperlakukannya seenaknya. "Lagipula kenapa aku harus jadi orang lain agar ibu bisa menerimaku apa adanya. Kenapa bukan ibu saja yang mengubah jalan berpikirnya?" tuntut Jasmin. "Mereka hanya bisa menerima orang-orang Soleh seperti kamu, tapi tidak denganku. Sama seperti ibu. Hanya mau punya anak seperti kamu, tidak denganku.


Mereka dan ibu tak pernah berpikir bagaimana perasaanku. Aku juga butuh waktu untuk melewati proses menjadi baik. Tidak bisa bimsalabin langsung jadi ustadzah sebab hatiku tidak menginginkan semua itu." ungkap Jasmin.


"Aku mengerti Jas,"


"Kau tak akan pernah benar-benar mengerti Riu. Kau tak berada di posisiku. Bagaimana kondisi hatiku pun kau tak tahu."


"Lalu apa yang bisa kulakukan untukmu?"


"Tidak ada."


"Maafkan aku Jas,"


"Jasmin, Riu ... ternyata kalian ada di sana?" sebuah panggilan dari Riana menghentikan perdebatan dua remaja tersebut. "Ya ampun, Jasmin, ada apa dengan rambutmu, nak?"


"Aku memotongnya bibi ...." belum selesai Jasmin menjelaskan, kata-katanya harus terhenti sebab melihat ibu, ayah dan pamannya dibalik Riana.


"Rambutmu bagus sekali. Aku sudah lama ingin memotong pendek seperti itu, tapi sayangnya belum sempat. Ditambah pamanmu yang mengatakan tidak suka kalau istrinya rambut pendek. Padahal kan rambut panjang itu gerah, sudah juga mengurusnya." cetus Riana.


"Anak ini hampir membuatku frustasi!" ungkap Yasmin, membuat Jasmin gigit jari mendengar kata-kata pedas ibunya. "Untung saja hari ini kita mendapatkan kabar yang menyenangkan sehingga hatiku terobati."


"Kabar apa, Bu?" tanya Jasmin, hati-hati.


"Kamu tahu Jasmin, Riu kesayangan kita lulus di Cairo. Ia akan kuliah di Al Azhar!" seru Yasmin dengan penuh suka cita disambut tepuk tangan yang lainnya.

__ADS_1


Sepasang mata Jasmin menampakkan kecemburuan yang begitu besar. Ia juga senang, akhirnya Riu bisa mewujudkan cita-citanya menjadi mahasiswa di salah satu universitas terbaik di dunia. Tetapi yang membuatnya sedih adalah saat ibunya menyebut kata kesayangan. Sebuah ungkapan yang tak pernah ia rasakan sebagai seorang anak kandung.


Ada apa sebenarnya dengan ibunya? Mengapa kasih sayang itu sulit untuk didapatkan?


Jasmin masih menatap hampa orang-orang yang berduka cita merayakan pencapaian Riu. Tanpa ada yang peduli bahwa ia juga ingin dibanggakan oleh ibunya.


Sebenarnya Jasmin juga berprestasi, ia beberapa kali jadi atlit Wushu dan meraih medali emas. Selain itu Jasmin juga selalu jutaan kelas. Tetapi tak ada suka cita yang ditampakkan ibunya. Semuanya hanya menatap biasa.


"Jas, kau mau kemana?" tanya Riu, saat Jasmin perlahan melangkah menjauh.


"Mau pulang. Sudah sore, aku belum mandi!" jawab Jasmin, asal-asalan.


"Tumben, biasanya disuruh mandi susah sekali." ungkap Yasmin, menambah luka di hati Jasmin.


Apa aku seburuk itu? Jasmin terus bertanya-tanya. Hingga ia tak menyadari sudah ada tembok di hadapannya.


Bruk. Jasmin mengaduh, ia memegang keningnya yang sedikit sakit. Lalu melangkah terus menuju kamar.


Jasmin tidak benar-benar langsung mandi. Ia memutuskan untuk duduk di depan meja rias. Menatap pantulan wajahnya di cermin. Wajah yang sembilan puluh persen sangat mirip dengan ibunya.


Sepasang mata bulat yang teduh, bentuk wajah oval, serta hidung mancungnya. Tapi kenapa mereka bagaikan musuh bebuyutan?


Kalau sudah semirip ini, tidak mungkin kan kalau ia bukan anak kandung ibunya?


Kalau dengan ayahnya, Jasmin begitu dekat. Mereka saling melindungi, meski kadang tidak mampu mengalahkan aturan-aturan yang dibuat oleh Yasmin.


Jasmin pernah bertanya hubungan teman-temannya dengan ibu masing-masing. Memang ada yang mengatakan bahwa mereka tidak dekat, tetapi tidak setajam antara Jasmin dan Yasmin. Hampir seluruh hak yang Jasmin lakukan selalu salah di kata Yasmin. Rasanya benar-benar melelahkan.

__ADS_1


"Kalaupun aku jadi seperti Riu, belum tentu ibu menyayangiku!" Jasmin membatin. Lagipula ia tak ingin berubah hanya untuk bisa mendapatkan perhatian ibunya. Ia ingin ibu menyayangi apa adanya. Meskipun Jasmin punya banyak kekurangan.


__ADS_2