GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
82. Pernikahan Suci


__ADS_3

"Yas, kamu tidak apa-apa?" tanyaku pada Yasmin yang masih meringis sambil memegang pergelangan tangan kanannya.


"Jahat sekali bocah itu, lihatlah, tangan Yasmin sampai memerah begini." ungkap Riana, sambil memegang pergelangan tangan Yasmin.


Semua perhatian kini tertuju pada Yasmin. Semua orang iba sebab Yasmin menjadi korban Jimmi. Ada rasa khawatir juga, kalau-kalau nanti Jimmi akan kembali lagi. Tadi ia berusaha membatalkan pertunangan kami, mungkin nanti ia bisa lebih nekat lagi. Begitulah cinta, kadang memang membuat sebagian orang kehilangan akal sehat.


"Bagaimana ini?" ungkap ibu dengan perasaan khawatir. Siapa yang tidak kesal diperlakukan seperti itu. Apalagi ibu menyayangi Yasmin kayaknya putri kandungnya sendiri.


"Pak Bimo ... Yas, jika diizinkan, bolehkan hari ini juga saya menikahi Yasmin." ungkapku dengan penuh kesungguhan.


Semua orang yang hadir langsung kaget. Mungkin karena sebelumnya tidak ada yang membayangkan jika aku berharap pernikahan dilangsungkan di hari lamaran. Tidak ada bayangan sama sekali.


Tetapi ide ini muncul bukan tanpa alasan. Aku pribadi juga tidak siap, tetapi khawatir, jika Jimmi datang lagi dan melakukan hal nekat.


Kami sudah menjalani beberapa ujian untuk menyatukan dua hati dalam ikatan suci pernikahan. Entah kenapa, rasanya tidak siap jika harus menghadapi ujian berikutnya masih dalam status sendiri-sendiri. Jika semua dihadapi bersama, insyaAllah rasanya lebih ringan.


"Bagaimana?" tanyaku lagi. "Semua demi kebaikan semua. Toh, bukannya ada anjuran agar rencana baik tidak usah diundur-undur. Apalagi jika ada banyak halangan dan rintangan seperti yang sudah kita alami."


"Lalu bagaimana dengan pestanya?" tanya ibu.


"Bu, Qret tidak masalah jika ibu dan pihak Yasmin menginginkan ada pesta seperti rencana di awal. Tapi sekarang ini dihalalkan dulu secara syariat, agar Qret bisa menjaga Yasmin langsung tanpa harus melanggar syariat." aku ingat betul, Heri pernah menasihati agar aku tidak boleh berduaan dengan Yasmin tanpa ada orang ketiga, sebab jika berdua maka yang setan akan dengan mudah menghasut sehingga rawan terjadi zina.


Hal seperti itu adalah tantangan untuk orang-orang yang sedang jatuh cinta. Kadang demi memperturuti nafsu sesaat sampai lupa segalanya. Nauzubillah. Padahal, siksaan untuk orang-orang yang mendekati zina amatlah keras.


"Bagaimana?" tanyaku lagi.


"Saya setuju saja. Kamu bagaimana Yas?" pak Bimo bertanya pada putrinya. "Saya akui, sangat kewalahan menghadapi nak Jimmi, apalagi kadang ia menggunakan uang dan kekuasaannya. Orang miskin yang tidak punya apa-apa seperti kamu pasti akan kalah." ungkap pak Bimo.


"Ayah dan ibu bagaimana?" tanyaku pada ayah dan ibu.

__ADS_1


"Ayah setuju Qret." ungkap ayah dengan penuh keyakinan. Ayah tahu bagaimana kerasnya Jimmi, ia tidak akan pernah mau menyerah selagi ada kesempatan maka akan terus dilakukan meski kadang yang dilakukan bertentangan dengan segala aturan. "Jimmi itu mewarisi sifat ibunya, ia tidak akan mudah melepaskan sesuatu yang ia sukai begitu saja. Ia masih belum memiliki sikap legowo. Mungkin, jika Qret menikah dengan Yasmin maka ia bisa menerima semuanya karena kesempatan itu sudah habis " ungkap ayah.


"Ibu juga setuju jika sekarang menikah secara syariat. Tetapi ibu tetap ingin diadakan syukuran. Qret adalah putraku satu-satunya. Aku ingin membuat sesuatu sebagai bentuk syukur." ungkap ibu.


"Baiklah Bu. Acara resepsi tetap kita adakan akhir bulan ini seperti apa yang sudah direncanakan. Sekarang kita laksanakan duku akadnya. Bagaimana Yas?" aku beralih pada calon pengantin wanita yang masih mengunci mulutnya.


"Yas, jawablah nak." pinta pak Bimo.


"Bismillah ... Yasmin bersedia yah." ungkap Yasmin dengan suara agak bergetar.


"Alhamdulillah!" ungkap kami semua.


***


Butuh waktu dua jam sebelum akad nikah dilaksanakan. Kami semua bergerak. Pak Bimo menghubungi RT, RW serta tetangga sekitar, sekedar mengabari bahwa hari ini akan dilaksanakan akad nikah.


Paman Rudi dan ayah mencari penghulu. Ibu, Riana dan Yasmin sibuk di kamar Yasmin, entah apa yang akan mereka lakukan.


Tepat azan Zuhur berkumandang, Heri datang bersama istrinya. Ia langsung memelukku haru sambil membacakan doa untuk calon pengantin. Entah mengapa saat ini aku merasakan persaudaraan yang amat indah.


Cara Allah mempertemukan kami sungguh luar biasa. Ku harap kelak akhirnya pun akan sama-sama bahagia di surga-Nya.


Para lelaki mulai keluar menuju masjid yang berada tidak jauh dari rumah Yasmin. Sementara yang perempuan melaksanakan salat di rumah.


Ada banyak doa yang ku panjatkan dalam salat kali ini. Berharap, rencana pernikahan yang serba dadakan ini penuh dengan keberkahan. Semoga Allah menjaga kami dan memberikan Rahmat-Nya untuk kami.


"Ayo calon pengantin, kita pulang." Heri berbisik sambil tersenyum. Sebuah senyuman yang kutahu mengandung arti untuk menggodaku.


"Hmm," jawabku.

__ADS_1


"Mas Qret gugup?"


"Sedikit," aku memaksakan senyum yang terasa kaku.


"Tidak apa-apa, wajar kalau gugup. Pertama, kan?"


"Jangan memancing. Nanti kalau ada yang mendengar, apalagi pak Bimo atau Yasmin, bisa-bisa batal semuanya!" ungkapku.


Heri tertawa kecil, lalu ia merangkul ku menuju rumah Yasmin. Entah mengapa langkah ini terasa agak berat meski sebenarnya aku sangat menginginkan pernikahan ini.


Sampai di rumah Yasmin, semua sudah siap. Hanya menanti kedatanganku. Pak penghulu, dua orang saksi serta pak Bimo sudah duduk di depan meja tempat ijab kabul diucapkan.


"Oh ya mas Qret, sudah tahu lafaz ijab Kabul ya?" bisik Heri. Ia sepertinya ingat, belum mengajariku bab ini.


"Tenang ustadz, insyaAllah sudah hafal luar kepala." ungkapku, sambil nyengir.


"Ya Allah, ternyata mas Qret benar-benar sudah menyiapkan semuanya." Heri memujiku.


"Bagaimana, bisa dimulai sekarang?" tanya pak penghulu.


"Siap." jawabku dan pak Bimo bersamaan.


"Mas Qret, mau memberikan mbak Yasmin mahar apa?" tanya pak penghulu, sebelum ijab kabul dimulai.


"Saya mau memberikan ini," aku mengeluarkan sebuah liontin emas dengan permata berlian yang pernah dicuri oleh pak Bimo. Kalung liontin yang diberikan ibu saat aku masih kecil. Aku memang sudah bertekad akan memberikan ini pada istriku kelak. "Dan juga menghadiahkan Yasmin hafalan surat Ar Rahman." tambahkan.


"MasyaAllah." ucap semua yang hadir, yaitu orang-orang yang mengenalku. Mereka tahu persis bagaimana aku selama ini, jadi ketika aku bisa mempersembahkan hafalan surat Ar Rahman adalah sesuatu yang luar biasa.


Tekad ku memang sudah bulat untuk hijrah. Termasuk mempersiapkan diri menuju jenjang berikutnya, Haiti fase ketika menjadi seorang suami dan kelak menjadi seorang ayah.

__ADS_1


Menghafal Qur'an memang tidak mudah untukku, tapi inilah salah satu bukti kesungguhanku untuk mengenal Allah lebih dekat. Aku ingin jadi orang salih dan menjadi imam yang pantas untuk Yasmin.


__ADS_2