GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
7. Jasmin Curhat Pada Riu


__ADS_3

"Apakah aku harus menyerah?" tanya Jasmin, sambil terus menatap lurus ke depan. Sesekali ia memainkan ujung jilbabnya untuk mengalihkan semua kegelisahannya. Jasmin benar-benar merasa sudah di ujung jalan, makanya ia memutuskan untuk mengajak Riu bicara. Ia butuh seseorang yang bisa menenangkan. Seseorang yang sebenarnya diharapkan adalah Ren, tapi karena lelaki itu yang membuat Jasmin resah makanya ia memutuskan bicara pada Riu. Toh bagi Jasmin, Riu sudah seperti kakak kandungnya meski mereka tak ada hubungan darah.


"Menyerah? Setelah kamu berjalan sejauh ini lalu sekarang mau menyerah? Jangan bodoh Jasmin. Menikah itu bukan main-main." tutur Riu, yang duduk dengan jarak beberapa meter dari Jasmin.


"Tapi aku lelah Riu, mungkin yang kamu katakan dulu itu benar bahwa kak Ren tidak mencintai aku. Terlalu banyak bukti yang aku sendiri tidak bisa menyengkalnya lagi. Itu bukan hanya sekedar mengikuti ego dan nafsu tapi benar-benar sesuai dengan kenyataan yang ada. Aku benar-benar takut jika terus bertahan dengannya maka aku sendiri yang akan semakin sakit!"


"Jas, menikah itu adalah ibadah yang paling lama. Nggak hanya setahun dua tahun, tapi seumur hidup kita yang nanti juga akan menentukan surga dan neraka kamu. Makanya banyak ujiannya. Namanya juga ibadah yang paling lama.


Kalau kamu merasa lelah, itu wajar. Aku nggak akan maksa kamu untuk terus memahami Ren, aku hanya ingin kamu tetap menurut padanya sebab ia adalah imanku. Kamu harus tetap menghormatinya. Coba bicara dengannya, ceritakan apa yang kamu rasakan agar ia mengerti. Kadang laki-laki itu tak bisa menebak isi hati perempuan. Mereka perlu diberitahu sedetail-detailnya.


Kalau kau memutuskan untuk menyerah sekarang, pikirkan tentang perjuangan dulu saat ingin menikah dengannya. Kau menentang ibumu sendiri. Ingat juga bagaimana reaksi ayahmu saat kau mengatakan ingin menikah dan disetujui bibi Jasmin. Akhirnya paman Qret bisa pergi dengan tenang.


Jas, aku yakin Ren sebenarnya mencintai kamu, mungkin caranya saja yang belum benar menunjukkan cintanya. Kalian hanya perlu komunikasi dan sebuah perekat."


"Perekat?" Jasmin mengerutkan keningnya, ia belum memahami maksud Riu, tapi mencoba menelaahnya.


Cinta? Sebenarnya Jasmin masih sangat mencintai Ren, hanya saja ia sudah terlalu Lelah terus mengejar-ngejar lelaki yang sudah halal di mata Allah tersebut untuknya.

__ADS_1


Jasmin mengira, setelah menikah ia tak perlu lagi mengejar cinta Ren, justru ia akan mendapatkan limpahan kasih sayang dari Ren. Seperti sikap ayahnya pada ibu. Tapi ternyata kondisinya masih sama dengan sebelum menikah, bahkan Jasmin merasa lebih oarah lagi. Bayangkan saja, ia bahkan masih melihat kedekatan Ren dengan teman perempuannya yang dinilai oleh Jasmin sangat berlebihan sekali.


"Jas, bertahanlah. Kalau kamu sudah menemukan titik perekatnya, aku sangat yakin kau akan menyesal sudah pernah berpikiran untuk berpisah darinya sebab aku juga yakin kalau Ren itu juga sangat mencintaimu." tambah Riu.


"Entahlah Riu. Rasanya tak mungkin ...." Jasmin menggelengkan kepalanya. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Semuanya sudah dicoba oleh Jasmin. Mulai dari sikap yang sangat perhatian hingga cuek, tetao saja tak ada tanggapan dari Ren. Ia acuh dan bahkan mungkin tak menganggap Jasmin ada.


Ibu mertuanya pernah mengatakan kalau Ren memang sangat dingin pada semua orang sebab masa lalunya yang sempat kehilangan sosok ayahnya. Ia jadi tertutup pada siapapun. Jasmin sempat percaya itu. Ia bahkan mau memahami Ren yang dingin, tapi tak jadi sebab dengan mata kepalanya sendiri Jasmin bisa melihat kalau Ren sangat hangat pada Mia, satu-satunya gadis yang membuat Jasmin kesal setengah mati.


Mia itu seperti parasit yang terus menempel pada Ren. Jasmin bahkan sudah menunjukkan sinyal ketidak sukaannya atas kedekatan suaminya tersebut tapi tetap saja mereka berdua tak menggubris Jasmin. Bahkan dari hari ke hari terlihat makin dekat.


"Kalau mereka saling suka kenapa Ren tidak menikahi gadis itu, malah memperjuangkan kamu?" kini Riu balik bertanya. "Bahkan antara mereka tak ada hubungan spesial, Jasmin."


Bisa saja kan kalau setelah menikah barulah Ren menyadari jika ternyata ia mencintai perempuan itu. Jasmin sering membaca kisah jatuh cinta yang terlambat dari novel yang dikoleksinya.


"Jas ... Jas. Jangan terlalu kemana-mana mikirnya. Tenangkan pikiran kamu. Lihat yang ada saja. Apalagi kalau itu hanya dugaan saja." kata Riu sambil tertawa kecil.


"Jadi kamu tak percaya padaku, Riu? Kau mau bilang kalau itu semua hanya dugaanku saja? Cemburu buta atau apalagi? Ahhh sudahlah. Menyesal aku bicara padamu. Ku kira kamu masih sahabatku yang dulu. Sahbata yang peduli padaku, tapi ternyata kamu hanya menertawakan aku. Atau jangan-jangan ini cara kamu membalas dendam sebab aku dulu tidak mendengar kata-kata kamu lalu tetap ngotot menikah dengan kak Ren. Iya kan Riu?" Jasmin bicara dengan suara keras, ia benar-benar marah dan kesal dengan Riu.

__ADS_1


"Bukan Jas, aku hanya ...."


"Ahhh sudahlah. Kamu nggak akan mengerti aku!" Jasmin buru-buru pergi meninggalkan Riu dengan menunpuk rasa kesal.


Sementara itu Riu menatap kepergian Jasmin dengan amat sedih. Sebenarnya bisa saja ia mengikuti isi hatinya untuk memberikan nasihat agar Jasmin bercerai saja. Toh itu yang diharapkan Jasmin. Sehingga dengan mudah ia bisa mendapatkan hati Jasmin, atau bahkan mereka bisa menikah.


Tapi pantang bagi Riu untuk menghancurkan hubungan rumah tangga orang lain meski ia benar-benar geram pada Ren. Padahal Riu sudah mengancamnya. Ternyata ancaman itu hanya dianggap angin lalu oleh Ren. Ia bahkan tak menggubris perkataan Riu, buktinya dengan kekesalan Jasmin tadi.


Riu tahu betul karakter Jasmin. Ia bukan gadis manja yang penuh kasih sayang. Jasmin sudah mendapatkan itu semua. Tak hanya dari orang tuanya, tapi juga dari Riu dan orang tuanya Riu. Semua orang sangat menyayangi dan menjaga Jasmin dengan sepenuh cinta, hanya saja siapa yang menyangka jika ternyata gadis itu harus jatuh hati pada lelaki yang terlalu dingin.


Andai kala itu Jasmin menerima lamaran Riu, mungkin akan berbeda ceritanya. Tapi Riu menyadari, dalam hidup tak harus berandai-andai, semua harus dijalani sebba ia yakin bahwa Allah sudah menetapkan semuanya dengan takdir terbaik.


***


Jasmin melangkah cepat, bahkan ia tak menyadari jika seseorang tengah memperhatikan langkahnya. Saat gadis itu hendak berjalan melintas jalan, lelaki paruh baya yang sejak tadi menjaga jarak dari Jasmin tiba-tiba berlari kencang ke arahnya, menarik lengan Jasmin hingga mereka terhempas ke bahu jalan.


"Aaaa!" Jasmin berteriak menahan sakit setelah terbentur, ditambah rasa kagetnya saat melihat mobil pick up melaju dengan kencangnya. "Ayah!" kata Jasmin pada lelaki tersebut.

__ADS_1


Sepasang mata Jasmin langsung berembun, kaca-kaca di matanya mendadak pecah. Rasa rindu itu tiba-tiba membuncah. Tanpa sadar Jasmin terus menyebut nama ayahnya.


__ADS_2