
"Kita menang!" seru Alifa.
"Alhamdulillah," kami semua yang ada di ruangan pak Bagus mengucapkan syukur secara serentak. Ayah dan pak Bagus memelukku, sedangkan ibu memeluk Alifa.
"Meskipun hampir ditiap kasus menang, tapi ini pertama kalinya aku merasa sangat puas sekali dalam mendampingi klien. Aku benar-benar berharap semoga kedepannya tidak ada masalah lagi dengan Bu Rani." ungkap Alifa.
"Nah mas Qret, bapak sudah siapkan berkas-berkas pembebasan mas Qret. Kasus ini akan ditutup sesuai kesepakatan yang telah kita buat." ungkap pak Bagus. "Bapak tidak mau melihat mas Qret di dalam sel tahanan lagi!"
"Alhamdulillah, terimakasih banyak pak, Alifa. Saya benar-benar beruntung bertemu bapak dan Alifa. Ini rezeki luar biasa yang diberikan Allah pada saya." kataku, sambil kembali mengalami pak Bagus.
"Iya pak Bagus, berkat kemurahan hati bapak dan mbak Alifa, akhirnya Qret bisa mendapatkan keadilan." tambah ayah.
"Mas Qret lantas mendapatkan ini semua, pak. Ia adalah orang yang baik." ungkap pak Bagus. "Sejak pertama saya sudah yakin bahwa mas Qret tidak bersalah. Tapi ia sangat sabar menghadapinya."
Kami berbincang sejenak untuk merayakan kemenangan dalam kasus ini, ketika tiba-tiba paman Rudi buka suara.
"Maaf sebelumnya, jika saya mengganggu kebahagiaan semuanya. Tapi, bolehkan saya bertanya? Bagaimana dengan putri saya, Riana. Saya mengerti ia bersalah, tapi bolehkan saya berharap agar Riana mendapatkan kesempatan kedua?" tanya paman Rudi, dengan sangat hati-hati.
"Paman, aku tidak akan mempermasalahkan Riana. Ia bebas!" kataku.
"Lalu apakah ada yang harus dilakukan oleh Riana?" tanya paman Rudi lagi.
"Pak, sejak awal, Qret tidak ingin mempermasalahkan Riana. Ia membebaskan Riana sebab Qret menyadari bahwa situasi Riana sedang labil, ia hanya dimanfaatkan saja. Jadi Riana tidak harus melakukan apapun." Alifa menjelaskan.
"Terimakasih Qret," dengan mata berkaca-kaca, paman Rudi memelukku erat. "Aku berhutang padamu." bisik ya.
"Paman jangan berkata begitu, aku yang berhutang banyak pada paman dan Riana," balasku.
"Qret, aku harus segera pulang untuk menyampaikan kabar ini pada Riana. Ia pasti senang sekali. Tadi saat aku pergi ia tampak sedih sekali. Aku takut ia kenapa-napa. Aku pergi dulu." Paman Rudi kembali memelukku. "Pak Bagus, pak Wijaya, Bu Rahayu dan mbak Alifa, saya pamit dulu. Maafkan salah saya dan putri saya Riana. Terimakasih banyak untuk kelapangan hati kalian yang mau mengampuni kami!" paman Rudi pamit pulang.
"Nah mas Qret, sekarang silakan bereskan barang-barang mas Qret, supaya bisa langsung pulang bersama bapak dan ibu." kata pak Bagus lagi.
Aku langsung sigap menuju sel tahanan, sementara ayah dan ibu masih menunggu di ruangan pak Bagus.
__ADS_1
"Hai, senang sekali sepertinya yang mau bebas," cetus Jimmi, saat aku berada dalam penjara. "Sampai-sampai kau tidak menyadari keberadaanku!"
"Jim," aku menghentikan pekerjaan, lalu memeluknya.
"Apa-apaan ini?" Jimmi berusaha melepaskanku. "Kau kira aku siapa, jangan sembarang main peluk!" Jimmi protes dengan sikapku barusan, tapi alih-alih peduli, aku tetap memeluknya sambil tersenyum.
"Terimakasih ya Jim!" kataku.
"Hm,"
"Oh ya, bagaimana dengan kau dan Jamm?"
"Seperti yang kau lihat tadi, ibuku tampak marah sekali. Ia pasti kesal dan bertanya-tanya tentang rekaman itu."
"Lalu bagaimana?" aku memperhatikan Jimmi sejenak, khawatir terjadi sesuatu padanya dan Jamm. Bagaimanapun mereka berdua adalah saudaraku. Rasanya tidak adil jika mereka mendapatkan perlakuan tidak enak, padahal karena ingin menyelamatkan aku.
"Aku akan membawa Jamm berlibur dulu. Mungkin kami akan pergi selama sepekan, semoga saat kami kembali, kemarahan ibu sudah reda sehingga tidak mencurigai kami. Aku tidak mau jadi samsak kemarahan ibuku." cetus Jimmi.
"Kau yakin akan baik-baik saja?"
"Kalau ada apa-apa, kau bisa menghubungiku atau tinggal di tempat kami."
"Oh tidak. Aku tak akan mau tinggal di tempatmu. Kau kira aku benar-benar sudah menerimamu, Qret? Tidak! Kita tetap musuh, saingan, rival dalam mendapatkan Yasmin. Lagi pula siapa yang mau tinggal di rumahmu yang seperti gubuk itu!"
"Kau!"
"Hahaha. Qret, saat ini aku memang sedang ada di ujung tanduk. Tapi aku tidak mau semakin menyedihkan dengan berada satu atap denganmu. Apalagi di sana ada ayah dan ibumu. Kau mau menambah luka di hatiku?"
Jimmi terlihat tidak suka dengan ide terakhirku yang baru kusadari bukan ide baik untuknya. Bagaimana pun juga kehadiranku dan ibu adalah penghancur rumah tangga untuk kedua orang tuanya, terlepas kesalahan-kesalahan yang dilakukan ibunya.
Butuh waktu untuk setiap anak menerima kehancuran pernikahan orang tuanya. Apalagi dengan adanya orang ketiga. Sesuatu hal yang tentunya tidaklah mengenakkan baginya.
"Aku minta maaf Jimmi, aku tidak bermaksud untuk ...."
__ADS_1
"Ahh sudahlah. Kau bisa bicara seenteng itu karena bukan kekaurgamu yang dihancurkan. Tapi kau berada di posisi orang yang menganjurkan!" ucap Jimmi dengan nada tegas.
"Iya aku mengerti, aku hanya ...,"
"Sudah cukup. Aku tidak ingin bicara denganmu lagi. Kita sudahi saja. Kau tetap musuhku!" Jimmi berlaku sambil bersungut-sungut.
Aku benar-benar menyesal mengucapkan semua itu padanya. Tujuanku tadi hanya ingin Jimmi tahu bahwa aku siap membantu mereka dalam situasi apapun. Mau tidak mau kami memang harus menerima bahwa ada hubungan darah antara kami bertiga yang tidak bisa kami sengkal.
Entah kenapa ada harapan begitu besar agar suatu hari kami bisa sama-sama menerima.
"Qret, masih lama?" panggil ibu, saat mengampiriku di dalam sel. "Ada apa Qret, bukannya beres-beres malah termenung?"
"Tadi Qret bicara dengan Jimmi, Bu." kataku.
"Jimmi?"
"Qret cuma mengucapkan terima kasih sebab sudah membantu memberikan bukti-bukti."
"Qret, apa Jimmi sudah bisa menerima kehadiran kita?"
"Sepertinya belum, Bu. Semua mungkin karena kata-kata Qret. Terlalu cepat memintanya menerima kita setelah semua yang terjadi pada keluarganya."
"Ini semua salah ibu. Jimmi dan Jamm adalah korban. Kalau ibu tidak masuk ke dalam rumah mereka mungkin ...,"
"Bu, jangan mendahului Tuhan. Ibu tahu, meskipun ibu tidak hadir, rumah tangga ayah dan Bu Rani juga sudah berantakan. Ayah juga sudah bersikeras ingin berpisah dengan istrinya. Jadi jangan menyalahkan diri terus. Toh tidak bisa merubah apa yang sudah terjadi."
"Tapi tidak dengan menambah kehancurannya. Sekarang ibu benar-benar menyesal. Jimmi itu anak yang baik, tapi mereka ikutan hancur karena ibu "
"Semua sudah terjadi, Bu. Tidak ada gunanya berandai-andai. Sekarang bagaimana caranya agar kita bisa memperbaikinya."
"Anak-anak itu sudah terluka, Qret. Ibu tidak tahu apakah lukanya bisa disembuhkan? Mereka sangat membenci ibu!"
"Yang penting jangan dipaksakan, Bu. Biar waktu yang membantu kita, atas izin Allah, nanti mungkin mereka bisa menerima..sama seperti Qret yang akhirnya bisa menerima ayah dan ibu. Iya, kan?"
__ADS_1
"Ibu sungguh beruntung ya Qret. Begitu banyak dosa ibu, tapi Tuhan masih mengasihi ibu."