
"Apakah kita harus memanggil ambulan?" pertanyaan itu keluar dari mulutku saat para wanita sibuk menenangkan Riana yang panik membayangkan ia akan lahiran.
"Tidak perlu, aku bisa berlari ke rumah sakit!" ungkap Riana dengan nada tinggi. Ia tampak kesal padaku. "Bahkan lebih dari berlari. Kau mau lihat Qret?"
Apa salahku coba? Aku hanya mencoba membantu mereka yang sedang panik. Tugas yang seharusnya dilakukan oleh Deni, calon ayah yang kini diam mematung. Entah apa yang ia pikirkan.
"Den, bicaralah." aku berbisik sambil menyolek lengan Deni sebab khawatir akan menjadi sasaran kemarahan Riana.
"Apa?" ia balik bertanya. Wajahnya benar-benar berubah jadi menyebalkan.
"Anakmu akan lahir. Kita harus ke rumah sakit." kataku.
"Sudah, tenang saja. Aku yakin ini masih lama." ungkap Jack.
Aku menganggukkan kepala, percaya pada Jack yang sudah dua kali mengalami hal seperti ini. Ia sudah berpengalaman.
"Bagaimana caranya kita keluar dari mall ini. Lihat Riana sudah basah seperti itu." kataku.
"Gendong aku!" ungkap Riana pada Deni.
"Kenapa aku?" tanya Deni dengan polosnya.
Aku tidak tahu apakah pertanyaan itu sungguh-sungguh atau hanya candaan. Tetapi dari ekspresi Deni yang begitu datar, aku semakin yakin ia memang benar-benar tidak menyadari bahwa ialah suami Riana. Mungkin saking groginya jadi bisa membuta Deni sampai bingung segala-galanya.
"Karena kau suamiku!" jawab Riana sambil menahan emosi.
"Ya Den, kau suaminya sedangkan aku adalah tetangga rumah kalian yang besar diasuh paman Rudi." kataku.
"Siapa yang bertanya tentang kau?" Riana kini menudingku.
"Riana, kau akan melahirkan, harus sabar dan baik pada Deni." Lisa menasihati.
"Padaku juga." kataku.
"Kenapa?" tanya Riana dan Lisa bersamaan.
"Aku kan calon pamannya." jawabku.
"Qret!" sebuah pukulan melayang ke perutku sehingga membuatku meringis menahan sakit. Dia masih saja kuat menyerang ku di saat seperti ini.
Sebelum menjadi sasaran kemarahan Riana lagi, Deni segera menggendong istrinya dan berjalan cepat menuju pintu keluar mall. Kami mengikuti mereka dari belakang. Sementara pengunjung lain melihat dengan berbagai ekspresi. Ada yang bingung, ada yang paham bahwa kami sedang dalam kondisi gawat darurat sehingga memberi jalan, tetapi ada juga yang tidak punya hati nurani, malah memvidiokan Riana sehingga membuatnya semakin jengkel.
__ADS_1
"Kenapa mereka memvidiokan aku? Mereka kira aku ini artis. Aku hanya mau keluar dari sini secepat mungkin. Aku tidak mau mereka mengambil gambarku. Qret, kau bertanggung jawab atas semua ini!" Riana menunjukku.
"Kenapa aku?" aku bingung, kenapa masih jadi sasaran kemarahan Riana, padahal sudah diam.
"Lakukan sesuatu supaya mereka tidak mengambil Vidio atau foto Riana." kata Yasmin.
"Kau ini merepotkan saja Riana." aku mendengus kesal.
"Lakukan sekarang Qret!" perintah Riana.
Aku dan Jack segera bergerak. Jejak sebagai seorang gengster masih tersisa dalam diri kami. Hanya dalam satu kali gertakan, orang-orang yang mengambil foto dan video Riana langsung menyembunyikan gadget mereka.
"Awas saja kalau ada foto atau video miliknya yang beredar, akan aku cari kalian sampai lubang semut. Paham!" kataku dengan tampang cool tetapi mematikan.
Mereka tampak membuka gadget masing-masing, lalu menghapusnya sesuai apa yang sudah kuperintahkan. Setelah itu aku dan Jack segera mengejar Deni yang mulai terengah-engah, keberatan menggendong Riana dari lantai tiga menuju lantai dasar.
"Cepat, aku tidak mau melahirkan di mall." ungkap Riana sambil menarik rambut Deni.
"Iya iya. Sabar dulu." ucap Deni sambil meringis menahan sakit dan beban tubuh Riana yang sudah tidak ringan lagi sebab sudah terhitung dua orang.
Sampai di lobi mall, kami semua terengah-engah. Tentunya Deni yang paling kewalahan menggendong beban yang tidak ringan.
"Ih ya. Ma ... na Qret?" tanya Deni dengan nafas ngos-ngosan.
"Ada, di parkiran." jawabku dengan santai.
"Ambil sekarang Qret atau rambutmu akan kucabut hingga botak. Cepat!" perintah Riana.
Ia terlihat benar-benar menakutkan sehingga aku tidak berani berkutik. Langsung berlari menuju parkiran. Menerobos apapun rintangan yang ada di hadapanku. Entah sudah berapa orang yang terjungkal sebab ku tabrak.
"Mana kuncinya?" aku menggerutu saat sampai di depan mobil, tetapi tidak menemukan kunci di saku celanaku. "Astagfirullah. Riana pasti akan membunuhku." aku meringis ketakutan.
"Qret!" Jack melambaikan tangannya, ia berlari ke arahku. "Ini kuncinya!" ucap Jack.
"Alhamdulillah, untung kau datang. Ayo segera naik." kataku.
"Siapa yang nyetir?" tanya Jack lagi.
"Tadi Deni, sekarang kau saja." aku segera meloncat duduk di kursi penumpang, sementara Jack duduk di kursi supir.
Jack segera melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Bahkan menyalip semua kendaraan yang ada di depannya. Aku sampai harus memegang kursi sebab takut dengan kecepatan tinggi. Mobil seperti melayang-layang.
__ADS_1
Hanya butuh waktu sepuluh menit mobil sudah sampai di lobi rumah sakit. Aku dan Jack serentak mengucapkan hamdalah.
"Akhirnya kita sampai juga " Kata Jack.
"Kau benar-benar hebat Jack. Tidak menyangka, lima tahun berpisah ternyata kau sudah seperti pembalap saja. Entah sudah berapa banyak mobil yang kau salip. Kau dengar tadi ada banyak yang mengklakson kita. Mereka pasti kesal sebab disalib dadakan, bahkan ada yang banting setir. Untung tidak kecelakaan." kataku sambil terkekeh.
"Qret, apa kau merasakan sesuatu yang aneh?" Jack melihat ke arahku.
"Hm, iya Jack. Aku merasakan kita akan mati dicekik oleh Riana." perlahan aku dan Jack melihat ke bangku belakang.
"Oh tidak!" seru Jack sambil menepuk keningnya. "Habislah aku Qret."
"Yah semoga saja hanya kau. Jangan sampai aku lagi yang jadi sasaran kemarahan nenek sihir itu."
"Lalu sekarang bagaimana?"
"Kau masih bertanya? Ya kembali segera ke mall. Jemput mereka, atau kau akan dicincang oleh Riana."
"Baiklah!"
Jack segera memacu kembali mobil menuju mall untuk menjemput Riana, Deni, Yasmin dan Lisa. Tadi saking gugupnya kami meninggalkan mereka di lobby. Setelah berhasil masuk ke dalam mobil kami berdua langsung tancap gas ke rumah sakit, padahal yang mau melahirkan adalah Riana, bukan aku ataupun Jack.
Hanya beberapa meter dari lobby mall, aku dan Jack saling pandang. Kami bisa melihat tatapan angker tidak hanya dari wajah Riana, tapi juga Deni, Yasmin dan Lisa. Tamatlah riwayat kami, maksudku Jack. Aku tidak tahu apa-apa, kan bukan aku yang nyetir.
"Kau yang bertanggung jawab Jack." kataku pada Jack. Menegaskan kembali bahwa di sini aku hanya penonton.
"Kenapa aku Qret?" Jack balik tanya.
"Kau yang mengemudikan mobil. Aku hanya penumpang."
"Tapi kenapa kau tidak mengingatkan aku? Tadi aku benar-benar grogi sehingga tidak bisa berpikir."
"Kenapa kau yang grogi? Ayahnya kan Deni, bukan kau! Lagipula kau yang mengatakan pada kami supaya tenang sebab waktunya masih lama "
"Ya benar, waktunya masih lama Qret, jadi tidak ada salahnya kalau kita jalan-jalan sebentar kan?"
"Iya, kau benar Jack. Hahaha. Tapi tetap saja aku takut. Rasanya ingin menghilang untuk sementara dari empat orang itu."
"Qret, apapun yang terjadi kau harus maju di depan, kau kan bosku."
"Enak saja. Tanggung sendiri-sendiri!"
__ADS_1