GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
56. Hasil Penyelidikan Alifa


__ADS_3

"Qret, kau tenanglah. Ayahku sudah mengutus orang-orang pilihannya langsung untuk mengawal ayah dan ibumu. InsyaAllah mereka aman sekarang." kata Alifa, membuka kembali pembicaraan kami usai perbincangannya dengan pak Bagus via telepon.


"Terimakasih banyak Alifa. Aku tidak tahu lagi harus bilang apa. Aku sungguh berhutang budi padamu dan pak Bagus." aku menautkan kedua tangan di depan dada, sambil menundukkan kepala berulang kali.


Baik sekali Allah padaku. Memberikan orang-orang baik di sekeliling, begitu loyal padaku. Ini rezeki yang patut aku syukuri sebab tidak semua orang seberuntung aku mendapatkan ini semua.


Saat ini keselamatan ayah dan ibu juga sangat penting bagiku. Tetapi, dalam kondisi terkurung di penjara, aku tidak berdaya untuk melindungi mereka. Sebab itu hanya bisa pasrah pada Allah.


"Qret, sebenarnya aku datang ke sini ingin menyampaikan hasil penyelidikanku," Alifa mengeluarkan sebuah benda pilih yang ternyata adalah tablet dari dalam tasnya. "Aku melakukan penyelidikan dibantu oleh beberapa orang temanku dari Australia. Kau beruntung Qret, mereka mau membantumu cuma-cuma hanya karena ayahku menceritakan bagaimana penilaiannya terhadapmu dan temanku langsung terhipnotis karena itu."


"Pak Bagus terlalu berlebih. Aku tidak sebaik itu," aku tersenyum malu, mengingat bagaimana luar biasanya aku di mata kak Bagus.


"Yang menilai diri kita orang lain, Qret. Mungkin menurutmu kau biasa saja, tapi menurut ayah ataupun orang lain kau luar biasa. Tetapi bisa juga orang yang lain lagi menyukaimu sangat jelek. Bisa karena itu atau dengki. Penilaian itu bisa datang karena kejujuran, bisa juga karena objektif. Kau tahu, kan?"


"Baiklah. Aku tidak akan menang mendebatmu, Alifa. Kau yang terbaik!"


Alifa langsung tertawa. Di pertemuan sebelumnya, Alifa memang sudah mengingatkanku bahwa ia tidak mudah di debat. Alifa langganan juara debat dan publik speaking-nya sangat bagus.


"Lalu bagaimana hasil penyelidikanmu?" aku cukup penasaran dengan informasi yang sudah didapatkan oleh Alifa.


"Qret, seberapa berharga pak Rudi dan putrinya untukmu?" tanya Alifa, hati-hati.


"Sangat berharga. Mereka seperti keluargaku sendiri. Kau bisa bayangkan, saat kau tidak punya siapa-siapa lagi, tiba-tiba ada seseorang yang baik hati mengangkatmu sebagai anggota keluarganya. Ia menyayangimu layaknya putra sendiri. Memberikan apa yang kau butuhkan, seperti cinta, kasih sayang, rasa percaya diri, padahal mereka sendiri juga sedang kesusahan." aku membayangkan kembali kenangan masa kecil kami.


"Lalu putrinya?"


"Riana. Ia baik, sangat baik. Meski bawel seperti emak-emak. Tapi Riana seperti adik kandung sendiri meski kami tidak punya ikatan darah. Kau tahu, ia pernah bergulat dengan lima orang anak laki-laki karena anak-anak nakal itu terus-menerus mengejekku. Riana sampai luka patah, ia nyaris kehilangan nyawanya karena kehikangan banyak darah akibat pukulan benda tumpul di kepalanya. Itu semua gara-gara aku!"

__ADS_1


"Qret, tapi kau harus berbesar hati. Terkadang, kita harus mengalami rasa kecewa yang begitu besar karena kesalahan orang-orang yang amat kita percayai."


"Maksudnya apa, Alifa?"


"Riana lah dalang di balik semua ini!"


"Tidak!" aku langsung berdiri begitu mendengar namanya disebut.


Bagaimana mungkin nama itu disebut oleh Alifa. Ia begitu berarti untukku, dan aku yakin Riana juga sangat menyayangiku. Kami sama-sama tidak punya saudara. Itulah sebabnya mengapa aku memposisikan diri sebagai kakaknya, dan ia adikku.


Aku dan Riana memang pernah beberapa kali terlibat perkelahian. Aku sangat jengkel olehnya. Misalnya ketika ia memakai baju kaos milikku tanpa izin, atau menggunakan sandalku, hingga putus. Tetapi tidak sampai membuatku benci padanya.


Kami bertengkar paling lama hanya beberapa jam. Tidak akan sampai seharian sebab kami selalu saling jaga. Biasanya, kalau bukan aku yang minta maaf, Riana yang minta maaf duluan. Tidak ada ego ataupun kesalahan yang membuat kami saling membenci.


Lalu kenapa harus Riana?


"Ini pasti salah. Tidak mungkin!" kataku, tegas.


"Tapi itulah kenyataannya, Qret. Aku bisa memberimu bukti." Alifa menunjukkan hasil sidik jari Riana dan sidik jari yang ada pada bungkus benda haram itu. Hasilnya sama. "Pak Rudi dan Riana bisa keluar masuk dengan bebas ke rumah kalian sebab itu adalah rumahnya. Saat kejadian itu, Riana lah yang masuk ke dalam. Pak Rudi terlibat ataupun tidak, aku belum bisa memastikan sebab saat aku menemuinya, ia menolak bicara apapun."


"Kau bertemu dengan paman Rudi?"


"Ya Qret."


"Lalu bagaimana kabarnya? Apa ia baik-baik saja? Kau lihat wajahnya, apa terlihat sedang sakit? Tolong jawab aku Alifa!"


"Qret, berhentilah untuk peduli dengan orang yang sudah membuatmu masuk penjara. Kau tahu Qret, masalahmu ini adalah masalah besar. Kau bisa diganjar hukuman mati jika tidak menemukan pelaku sebenarnya!"

__ADS_1


"Tidak Alifa, Tidak. Bukan Riana. Ini pasti salah."


"Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi itulah kenyataannya!"


"Alifa diamlah!"


"Aku pengacaramu, aku akan membeberkan semua kebenarannya agar kau bebas!"


"Tidak, aku tidak ingin bebas. Biarkan aku di sini!"


"Qret, jangan konyol. Aku tahu kau kecewa berat pada Riana, tapi itulah kenyataannya. Kau harus bisa menerima, Qret."


"Ahhhh!" kupukul angin sekuat tenaga, untuk melepaskan segala rasa tidak enak di hati. Kenapa harus Riana? Ini pasti salah, gadis itu sangat baik sekali, ia tidak akan pernah mencelakai ku. "Alifa, aku tidak ingin kau jadi pengacaraku lagi!"


"Apa maksudmu, Qret?"


"Aku menyerah!"


"Qret, aku mengerti kau kecewa. Tapi jangan seperti ini. Lagipula siapa yang peduli dengan kontrak kerja sama kita. Aku tetap akan membela sampai kau dibebaskan!" Kalau kau tidak yakin ini murni perbuatan Riana, maka ayo kita cari tahu siapa dalang di balik ini semua.


Aku berusaha menemuinya, Qret. Memang agak susah, sebab ayahnya, pak Rudi menyembunyikan Riana dariku. Tapi berkat bantuan orang-orangku, Riana bisa kutemui. Sikapnya sungguh aneh, ini memang tidak bisa dijadikan bukti di pengadilan, tapi cukup menambah keyakinan ku bahwa ia terlibat!"


"Tidak ... itu tidak mungkin! Ya Allah ...." aku menuntut wajah dengan kedua tangan, pikiranku kacau, kepalaku sampai berdenyut memikirkan ini semua.


"Kalau memang Riana tidak terlibat, harusnya ayahnya tidak memberhentikan pengacara secara sepihak tanpa sepengetahuan kamu, Qret. Ia menyediakan di awal hanya untuk mengakalimu, setelah itu ia membiarkanmu terjerumus. Kau paham kan, Qret!"


"Tapi ...." tetap saja hatiku menolak. Orang yang kuanggap pelindungku, bagaimana mungkin melakukan ini semua. Apa tujuannya? Kenapa Riana melakukannya.

__ADS_1


"Qret, belajarlah menerima kenyataan, meski ini menyakitkan. Aku tidak bermaksud mengajarimu membenci, tapi beginilah kenyataannya yang harus dihadapi." Alifa berjanji akan menyerahkan bukti lebih banyak lagi untuk meyakinkanku. Tetapi entah mengapa, aku menjadi takut, bagaimana jika bukti itu benar? Aku tidak siap jika harus berhadapan di persidangan dengan dua orang yang amat kukasihi.


__ADS_2