GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
149. Permintaan Yasmin


__ADS_3

Sejak kehamilan keduanya ini, Yasmin benar-benar berubah. Ia jadi lebih manja dan begitu banyak permintaan. Aku sebenarnya tidak masalah, tetapi ketika ia mulai posesif, bahkan kadang menunjukkan kecuekannya yang begitu nyata pada calon bayi kami, maka aku akan mulai angkat bicara.


Tetapi Yasmin akan menanggapi sinis. Ia dan calon anak kami seperti dua orang yang bermusuhan, saling bersaingan mendapatkan perhatianku. Tentu saja tidak akan sebanding sebab bayi itu dibawah kekuasaan Yasmin.


Semula aku sangat takut sekali menghadapi sikap aneh Yasmin tersebut, tetapi menurut dokter, itulah yang dinamakan ngidam, semua ibu hamil akan mengalaminya, tetapi dengan berbagai reaksi yang berbeda-beda.


Ada yang jadi lebih sendu, ceriwis, memusuhi suaminya, tetapi baru kali ini ku dengar memusuhi calon anaknya sendiri. Aku bahkan harus menemui beberapa dokter kandungan berbeda untuk konsultasi, khawatir Yasmin sudah melewati ambang batas. Tetapi sejauh ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan, begitu menurut petunjuk dokter sehingga aku bisa bernafas lega.


"Yas, tolong jangan minum teh atau kopi terlalu banyak, nanti bisa bahaya pada bayimu." pintaku, saat Yasmin kembali menyeduh kopi. Ia ini untuk ketiga kalinya dalam sepagi ini ia minum kopi. Meski begitu ia tetap saja ingin minum lagi. Membuatku jadi kesal sendiri sebab Yasmin anemia.


Tiga kali. Iya, aku tak salah menghitung. Ia benar-benar berubah ganas terhadap semua makanan yang dikarang oleh dokter. Seperti sedang mencari gara-gara. Tetapi Yasmin akan berlindung di balik bayinya. Padahal kenyataannya, yang aku lihat ia malah membahayakan bayinya sendiri.


"Kenapa mas selalu saja marah-marah. Mas tidak suka aku minum kopi?" tanyanya.


"Ya, aku tidak suka." jawabku, ketus.


"Tapi aku suka."


"Ini demi bayi kita Yas. Bukankah kita sangat mengharapkan kehadirannya."


Tiba-tiba wajah Yasmin berubah jadi sendu. Ia meletakkan gelasnya. Lalu menjauh. Kalau sudah begini, aku yang sedih melihatnya.


"Ya sudah, kalau kamu ingin sekali. Minum saja. Tidak apa-apa. Tapi sekali ini saja ya. Sampai bayinya lahir nanti, jangan minum lagi. Kau juga harus banyak minum air putih " Kataku, sambil menyodorkan gelas yang tadi diletakkannya.


"Tidak usah." jawabnya, sambil mendorong pekan gelas yang aku berikan.


"Kenapa, kau marah?"


"Tidak."


"Lalu kenapa menolak?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Mungkin yang mas katakan benar. Aku terlalu egois sebagai ibu. Hanya memikirkan seleraku saja, tidak berpikir bagaimana kesehatan calon bayi kita."


"Aku tidak berpikir begitu."


"Tapi kenyataannya seperti itu. Aku mungkin akan jadi ibu yang buruk."


"Jangan bilang begitu. Harusnya bertekat jadi ibu yang baik."


"Ya sudah."


"Jadi mau minumnya?"


"Tidak."


"Masih ngambek?"


"Enggak. Aku hanya ingin belajar menjadi ibu yang baik untuk anak ini nantinya."


***


Sedang asyik menyelesaikan laporan keuangan, tiba-tiba pintu depan di ketuk. Aku dan Yasmin saling melihat. Siapa yang datang sepagi ini. Sepertinya bukan Deni sebab hari ini kami libur. Riana juga tidak akan seperti itu. Kalau ia datang, pasti mengetuk pintunya lebih keras lagi, digedor-gedor sampai terasa mau jebol.


"Aku yang buka." kata Yasmin. Ia segera bangkit, sementara aku melihatnya.


"Kejutan!" kata ayah dan ibu saat pintu telah terbuka lebar.


"Ya ampun, ayah, ibu." Yasmin menyalam ayah, lalu memeluk erat ibu. "Kenapa datang tidak mengabari?" tanya Yasmin, ia hendak mengambil oleh-oleh yang dibawa ibu, tapi ibu menolak sebab Yasmin sedang hamil dan ibu tidak mengizinkan Yasmin membawa yang berat-berat.


"Ini kejutan balasan atas kejutan yang kalian berikan pada ayah dan ibu beberapa waktu lalu." kata ibu.


Aku menyambut kedatangan ayah dan ibu. Niatnya mau memasak untuk makan siang ayah dan ibu, tetapi ibu melarang karena ingin makan di luar supaya tidak terlalu merepotkan. Sebelum berangkat ke luar, ibu mengajak Yasmin ke rumah Riana, rupanya ibu sudah menyiapkan kado untuk Riu. Tentu saja Yasmin yang paling senang sebab akan bertemu Riu lagi.

__ADS_1


Benar saja, dari rumah sebelah terdengar suara riuh ibu, Riana dan Yasmin. Mereka bertiga terdengar kompak menggoda Riu.


Tidak berapa lama, ibu dan Yasmin datang. Diikuti Riana yang masih menggendong Riu, laku diambil alih oleh ibu. Riana tampak sudah rapi. Lalu datang juga Deni dan paman Rudi.


"Qret, ayo kita pergi. Ibu mengajak Riana, Deni dan pak Rudi juga." kata ibu.


"Bibi mau mentraktirku." cetus Riana.


"Bukan kau, tapi Riu." kataku, lalu beralih pada Riu.


Kami berangkat dengan dua mobil sebab jumlahnya tidak cukup dalam satu mobil. Riu dipangku oleh ibu. Sepanjang jalan ibu dan Yasmin terus membahas Riu yang dianggap sebagai anak baik sebab tenang meski ibunya ada di mobil yang berbeda.


Kami berhenti di warung steak pilihanku. Aku pernah makan di sini beberapa tahun lalu, saat baru pertama kali buka. Menurutku masakan di sini sangat enak, cocok juga untuk keluarga.


Makan siang kali ini ditraktir ayah dan ibu. Katanya mereka baru panen ikan dan hasil penjualannya sangat banyak sekali. Makanya mau berbagi dengan kami.


"Nanti kalau sudah tua, aku juga ingin tinggal di puncak." kataku.


"Kau pasti ngiler mendengar pendapatan paman dan bibi yang melimpah. Iya, kan?" tanya Riana.


"Tentu saja. Siapa tahu aku bisa berangkat ke Mekkah setelah berjualan ikan." kataku dengan penuh keyakinan.


"Memangnya kau tidak apa-apa kalau harus bersentuhan dengan lumpur?" pertanyaan Riana langsung membuta ku diam. "Kau kan tidak suka kotor-kotoran. Sementara kalau punya kolam itu ya harus bersentuhan dengan lumpur." ia memang hafal betul bahwa aku adalah orang yang tidak suka bersentuhan dengan becekan.


Dari dulu sampai sekarang, aku tidak bermasalah dan termasuk orang yang cepat belajar dalam pekerjaan apapun. Tapi tidak yang berhubungan dengan tanah, lumpur, becek. Semua itu selalu sukses membuatku geli. Aku pasti akan langsung menyerah.


Mendengar apa yang dituturkan oleh Riana, membuat semua orang tertawa. Meskipun begitu aku tidak mau ambil pusing. Toh memang manusia tidak ada yang sempurna, begitu juga aku. Dibalik kelebihan pastilah ada kekurangan. Salah satunya itu tadi, tidak tahan berhadapan dengan lumpur dan becekan.


Menjelang maghrib, ayah dan ibu pamit pulang sebab masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Banyak petuah yang disampaikan ibu pada Yasmin demi kesehatan calon cucunya. Selain menasihati Yasmin, ibu juga menitipkan banyak pesan padaku agar menjaga Yasmin baik-baik.


"Qret, jangan sampai kejadian dulu terulang lagi ya. Ibu minta tolong sekali." pinta ibu, dengan wajah penuh harap.

__ADS_1


"InsyaAllah Bu. Doakan kami ya." pintaku sebelum melepas kepergian ayah dan ibu.


__ADS_2