GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
68. Perjalanan Pulang


__ADS_3

Tangis Riana masih belum reda. Aku mengajaknya menepi, mencari tempat yang jauh dari pandangan orang-orang sebab sejak tadi perhatian pejalan kaki tertuju pada kamu, bahkan ada yang sampai berhenti sambil berbisik-bisik, mempertanyakan apa yang sedang terjadi.


"Riana ... Riana," kataku, sambil mendekatkan jari telunjuk ke bibir, memberinya isyarat agar diam.


"Kau jahat Qret!" serunya, dengan tangis makin kencang.


"Baiklah baik. Kau boleh menangis. Aku memang jahat, jadi menangislah sepuasmu!" aku benar-benar sudah kehabisan kata-kata untuk membujuknya, makanya kubiarkan saja gadis itu menangis. Biar dia puas sekalian.


"Hei mas, ada apa ini? Kenapa mbak itu menangis? Kamu mengganggunya, ya?" tiba-tiba seorang bapak-bapak yang mengendarai motor berhenti tepat di hadapan kami.


"Siapa yang mengganggu?" aku menggelengkan kepala. Tadi aku cuma lewat dan melihat Riana marah-marah, saat ku sapa, ia malah menangis padaku. Apa itu salahku? Masa menyapa saja dianggap sebuah kesalahan?


"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa mbak ini menangis?" bapak tersebut sepertinya serius ingin tahu apa yang terjadi pada kami, sebab ia sampai turun dari motornya. "Ayo jawab mas!" ia malah semakin mendesak.


"Benar pak, saya tidak mengganggunya. Saya juga bingung kenapa ia menangis." aku jadi serba salah. Kalau tahu begini, tadi tidak akan kudapatkan ia, lebih baik langsung pulang, mungkin masalahnya tidak akan seribet ini.


"Kalau mas tidak ngaku juga, saya panggil kak RT, pak RW atau kapan perlu saya bawa ke kantor polisi!" kata bapak tersebut tegas.


"Apa, kantor polisi?" aku langsung geleng-geleng kepala.


"Ayo cepat, kita ke rumah pak RT!" bapak itu langsung menarik tanganku. "Jangan khawatir mbak, laki-laki iseng seperti mas ini harus diberi pelajaran, biar bisa jaga adab!"


"Apa-apaan ini? Lepaskan, pak!"


aku meronta. "Riana, katakan sesuatu!" pintaku.


Sepasang mata Riana menatapku bingung, ia lalu berteriak, kini malah marah-marah pada bapak yang mencoba menengahi kami. "Bapak itu siapa, enak saja mau bawa-bawa Qret ke rumah pak RT, apalagi ke kantor polisi. Bapak yang akan saya penjarakan karena julid, mau tahu urusan orang lain!" bentak Riana. Ia kalau marah memang menyeramkan.


"Lho, kenapa jadi saya?" tanya bapak itu bingung.


"Karena bapak sok tahu!" tambah Riana. "Ini Qret, saudara saya, dia tidak mengganggu saya, tapi bapak terus menuduhnya. Mau bapak apa, sih?" tanya Riana.


"Saya kan," bapak itu malah kebingungan. "Tadi kan mbak nangis."


"Kalau saya menangis apa urusannya dengan bapak? Apa saya merugikan bapak? Atau bapak ngerasa terganggu. Kalau iya, dimana saya mengganggu bapak? Ayo jelaskan!" tantang Riana.


"Enggak keganggu, sih. Tapi ...," bapak tersebut malah kebingungan.


"Dasar kepo! Sana pergi!" Riana mengusirnya.


"Dasar mbak-mbak aneh. Tadi nangis, sekarang marah-marah. Sekarang saya tahu, mbak yang aneh, bukan masnya!" bapak itu jadi ikutan kesal.


"Kalau saya aneh memang apa urusannya sama bapak? Dasar bapak-bapak kepo. Ingin tahu saja urusan orang!" balas Riana.


Melihat pertengkaran Riana dan bapak tersebut, justru aku yang tertawa terbahak-bahak sebab tidak dapat menahan rasa geli. Tadi aku yang diserang, disuruh mengakui kesalahan yang tidak kipernya, sekarang malah bapak tersebut yang jadi pelakunya. Sungguh aneh dunia ini. Tawaku semakin pecah dibuatnya.


"Lucu?" tanya Riana, melihatku dengan tatapan kesal.

__ADS_1


"Dikit," kataku.


Sesaat kami terdiam, lalu sama-sama tertawa. Seperti the javu, kejadian seperti ini rasanya pernah terjadi saat kami masih kecil. Ketika mencandai pengendara yang lalu-lalang di hadapan kami. Lalu saat kami berhasil menarik perhatian mereka, maka kami tinggalkan begitu saja.


Puas tertawa bersama, aku dan Riana kembali diam. Bingung harus mengatakan apa. Ada perasaan sungkan juga. Seperti sudah lama sekali tidak pernah berkomunikasi. Semua terasa canggung.


"Riana, ayo kita pulang!" aku mengajak gadis itu kembali, tapi ia memilih tetap duduk diam. "Kau tidak mau pulang?" tanyaku.


"Qret," tiba-tiba mata gadis itu kembali berkaca-kaca. "Bolehkah aku memelukmu?" tanyanya, sambil menundukkan kepala.


"Tidak boleh Riana, haram!" kataku.


"Iya, aku mengerti. Aku menyesal sudah bertanya. Sudahlah."


"Kau tidak ingin pulang?"


"Aku ingin bicara sebentar, boleh?"


"Bicaralah!"


"Apa kau membenciku? Setelah apa yang kulakukan padamu?"


"Tidak Riana," entah mengapa mataku pun terasa berembun.


"Aku tahu, kau tak akan bisa membenciku. Aku adikmu, kan?"


"Qret, apa aku masih boleh jadi adikmu? Entahlah, aku juga tidak mengerti. Ayah mengatakan seharusnya kita tidak jadi saudara. Harusnya ayah tidak membiarkanmu terlalu dekat denganku hingga ...,"


"Riana, dalam darahku memang tidak mengalir darah yang sama denganmu. Tapi kita akan mencari cara agar kau benar-benar bisa jadi adikku!"


"Benarkah, Qret?"


"Ya Riana. Asal dengan satu syarat!"


"Apa Qret?"


"Jangan mencintaiku sebagai pria. Cukup sayangi aku sebagai saudaramu. Ingat Riana, saudara! Hatiku sudah dimiliki orang lain dan tidak bisa kubagi pada siapapun, jadi kau tidak boleh berharap. Paham?"


"Iya, aku mengerti. Yasmin, kan?"


"Ya Riana."


"Aku juga setuju kau dengannya,"


"Kenapa?"


"Ia gadis yang baik. Kau mendapatkan cahaya itu dijembatani olehnya, kan? Ia memang pantas untukmu!"

__ADS_1


"Dan kau pantas mendapatkan yang lebih baik dariku!".


"Aku tidak tahu, Qret. Apakah aku bisa mencintai orang lain."


"Kau harus bisa jika masih mau menjadi adikku. Kalau kau masih menyimpan perasaan cinta itu, tahu sendiri akibatnya. Aku akan menghajarmu!"


"Tapi kau tak pernah menyakiti perempuan!"


"Beda, kau adikku!"


"Kenapa takdir hidupku begini, ya Qret?"


"Karena Tuhan sangat menyayangimu. Jadi pulanglah!"


Tangis Riana pecah, aku membiarkannya terisak-isak. Mungkin ia butuh sedikit meluapkan emosinya agar ia bisa memulai semuanya lagi dari awal.


"Aku sudah lega, Qret." seutas senyum terukir di bibir Riana. Menyaksikan senyum itu, kini aku menyadari bahwa adikku yang bawel telah kembali. "Kau menangis, Qret?"


"Tidak," ucapku, sambil menyeka butiran bening yang coba-coba menetes tanpa permisi.


"Lalu itu apa?"


"Mungkin air hujan,"


"Kau ini. Mana ada air hujan saat matahari mulai tersenyum cerah."


"Atau mungkin itu adalah embun?"


"Qret!"


"Apa?"


"Kau memang benar-benar!" tawaku dan Riana lepas, kami sama-sama menyeka sisa air mata di pipi masing-masing. "Ingat Qret, jangan terlalu dekat denganku karena aku belum terlalu yakin bahwa perasaan itu sudah hilang seluruhnya atau masih ada sisa."


"Ingat juga Riana, aku tidak akan memaafkanmu kalau berani jatuh cinta lagi padaku. Lagipula setampan apa sih aku sampai kau bisa suka?"


"Qret?"


"Hm,"


"Ayo pulang. Sepertinya pagi ini aku dan ayah harus numpang sarapan di rumahmu karena makanan yang kubelikan sudah jatuh berserakan gara-gara anak-anak nakal itu."


"Mereka tidak nakal,"


"Lalu apa?"


"Hanya sedikit usil! lagi-lagi tawa kami lepas. Lalu kembali pulang dengan jalan berjarak. Aku di depan, Riana mengekor di belakang.

__ADS_1


__ADS_2