GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
46. Kunjungan Rules


__ADS_3

Ughhhhh. Terdengar suara Jimmi menggertak giginya. Sepertinya ia benar-benar kesal karena kusebut saudara kecil. Sedangkan aku tertawa kecil. Jadi begini rasanya punya saudara? Meskipun persaudaraan kami tidak seperti yang lain, tetapi aku mulai menikmati ketika ia marah-marah atau kesal padaku. Entah mengapa juga ada sebuah harapan yang muncul di hati, mungkinkah suatu saat kami bisa layaknya saudara yang sesungguhnya?


Jika tidak bisa, ya tidak apa-apa. Aku juga tidak akan memaksakan. Saudara tiri, apalagi dengan kasus seperti kami memang kadang susah untuk saling menerima. Harus ada keikhlasan antara kedua pihak agar bisa saling menerima.


"Ingat kataku, Qret. Jangan pernah katakan pada siapapun kalau kita bersaudara!" ancam Jimmi lagi.


"Aku tidak mau." jawabku. Asal-asalan.


"Hei!"


"Aku tahu, kau ini terlalu buruk untuk jadi saudaraku. Apa lagi dengan emosimu yang labil serta sikap kekanak-kanakanmu itu. Tetapi percayalah, aku sudah menerimamu sebagai saudara kecilku!"


"Apa maksudmu?"


"Tidak usah berterimakasih Jim, tiap saudara biasa melakukan itu." aku tersenyum ramah. Semakin merasa terhibur kala polisi muda itu semakin mengamuk-ngamuk.


"Kau! Kemari kau Qret. Akan ku Hajar kau!" Jimmi berusaha sekuat tenaga menggapai-gapai, tetapi terhalang oleh jeruji besi. Sementara aku duduk tenang di pojok lain sembari tersenyum melihat ulahnya.


"Kenapa ... kenapa ... kenapa saudara kecil? Kau ingin memelukku?" aku pura-pura mendekatkan telinga, tentunya dengan jarak aman agar ia tak benar-benar bisa menggapainya.


"Aku bersumpah akan menghajarnya, Qret. Kau akan kuhabisi!"


"Oh ... ya ya ya. Aku faham. Kau pasti rindu aku ya?" lagi-lagi aku tergelak melihat Jimmi semakin meledak-ledak. Entah mengapa, di hadapanku, ia terlihat seperti boneka yang menggemaskan.


"Ini tidak lucu, Qret. Kau harus sadar diri, kau bukan orang yang pantas untuk jadi saudaraku!"

__ADS_1


"Tidak mengapa kalau kau merasa tidak pantas, saudara kecil. Aku tahu, kau pasti merasa minder karena pada akhirnya Yasmin memilihku. Memang berat sih sebenarnya mengakui semua saudara kecil, bahwa aku jauh lebih baik darimu. Iya, kan?"


"Kau bunuh saja aku, muak mendengarnya ocehanmu yang terlalu percaya diri!"


"Ya jangan, nanti kalau kau mati, siapa yang akan menjadi saudara kecilku? Oh ya, kau masih punya adik, kan? Siapa namanya? Jam, kan? Aku belum melihatnya, bisakah nanti kau kenalkan ia padaku?"


"Jangan coba-coba mengusik Jam, atau aku akan mematahkan kaki dan tanganmu!" Jimmi yang semula terlihat menggemaskan dengan tingkah emosinya kini berubah dingin.


"Aku tidak akan mengganggu kau ataupun Jam. Aku kakak kalian, tugasku ya menjaga kalian!"


Jimmi tidak menjawab ku. Ia memilih untuk menjatuhkan kembali dirinya ke lantai. Lalu memejamkan mata.


Yah, segitu saja bercandanya? Melihat ekspresi terakhir Jimmi tadi, rasanya ia tidak akan meladeni guyonanku lagi. Makanya aku memutuskan kembali pada buku bacaan. Lagipula tidak baik juga mencandai orang terlalu berlebihan. Apalagi jika ia menunjukkan sikap tidak berkenan.


Sedang asyik membuka lembar demi lembar buku pemberian Yasmin, tiba-tiba polisi penjaga memanggilku. Ada tamu. Aku langsung bangkit, sebelum keluar, sempat kulihat Jimmi mengintip dari balik lengannya. Masih kepo juga ini anak. Aku tersenyum usil.


"Jack, bro ... apa kabar!" sapaku, sambil memeluk mereka satu persatu.


Meskipun dulu kami tergabung dalam kelompok penjahat yang suka membuat masalah, tapi ikatan antara kami dibandingkan grup lainnya sangatlah kuat. Antara satu dengan lainnya sudah seperti saudara. Kami bahkan rela mati demi anggota geng lainnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Qret?" tanya Jack.


"Entahlah, aku juga belum tahu yang sebenarnya!" Kataku. Lalu kuceritakan kejadian penangkapan di malam hari tersebut. Semua terjadi tiba-tiba. Tidak terpikur olehku, akan ada yang menjebak seperti ini.


"Ini semua jebakan!" seru Jack.

__ADS_1


"Aku dan ibu bersih, Jack. Kau tahu kan, aku tidak pernah sudi berurusan dengan barang-barang haram tersebut. Kau tahu bagaimana traumanya aku kala Gion meninggal di hadapanku!" kembali, kuceritakan, bagaimana salah satu anggota rules yang bernama Gion mati karena over dosis.


Sebagai ketua rules yang saat itu bertanggung jawab untuk melindungi anak buah, aku benar-benar merasa gagal.


Gion luput dari pengawasanku. Padahal ia sudah menunjukkan keanehan tiga bulan terakhir, tetapi karena sibuk dengan bisnis lainnya, makanya ia ku abaikan. Sejak itu aku melarang keras siapapun anggota rules berurusan dengan narkoba dan sejenisnya. Bahkan, jika ada yang berani mendekat dan ketahuan maka akan mendapatkan hukuman berat.


Semua itu aku lakukan karena tidak ingin kehilangan Gion lainnya. Aku sangat peduli dengan mereka semua.


"Aku mengerti Qret. Tapi siapa pelakunya? Apa orang yang sama dengan yang membakar rumahmu?" tanya Jack.


"Aku belum tahu, Jack." jawabku.


"Sudah ada informasi dari polisi tentang pembakar rumah?" Jack mulai mengintrogasiku.


"Belum!" aku.menggeleng lemah.


"Kau harus bergerak cepat Qret, kau tahu, apa hukuman untuk pemilik ganja seberat itu? Hukuman mati, Qret!" seru Jack.


Aku menelan air liur yang terasa sangat pahit mendengar kata mati. Apakah ini akhirnya? Nyaliku benar-benar ciut.


"Tapi kau harus tenang, Qret. Kami akan berupaya semaksimal mungkin untuk menolongmu. Kau masih percaya pada kami, kan, Qret? Aku akan mengarahkan semua saudara dan anak buah mereka untuk bekerja dengan cepat. Kau harus tetap semangat dan jangan putus asa. Kau tahu Qret, persaudaraan antara kita tidak akan pernah hilang selamanya. Mengerti!" ucap Jack.


"Aku mengerti. Aku sangat percaya pada kalian yang tidak akan pernah meninggalkanku meski aku sedang kesusahan." perlahan, bulir bening itu mengalir. Aku bukan lelaki yang mellow, hanya terharu dan punya harapan besar agar Allah menyentuh hati mereka.


Jack dan anggota rules lainnya orang-orang baik. Meskipun pernah jadi anggota preman, tapi kami tidak melakukan hal-hal yang sebenarnya mengganggu orang kecil. Kami memang pernah mencopet atau merampok, tapi sasaran kami orang-orang besar.

__ADS_1


Kami punya data-data siapa saja para pejabat, pengusaha yang melakukan kecurangan. Orang-orang itu yang biasanya kami kerjain. Dengan melakukan teror hingga sampai merampok mereka.


Sedangkan di lingkungan sekitar, biasanya karena terganggu dengan ulah kami yang agak berisik, ada yang mabuk, lalu sedikit usil, tetapi tidak sampai membahayakan. Makanya kami sangat dekat sekali karena untuk bergabung dengan rules, persyaratan amatlah ketat. Ada yang bilang, gabung dengan rules seperti preman tanggung. Mungkin karena kami yang bergabung adalah kumpulan orang-orang yang sebenarnya tidak ingin jadi jahat, hanya karena broken atau kecewa dengan keluarga atau orang yang harusnya melindungi kami sehingga suka melakukan hal-hal untuk menarik perhatian orang lain.


__ADS_2