GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
40. Jimmi Bicara Dengan Ayah


__ADS_3

"Sepertinya kami benar-benar harus pamit sekarang." kata pak Bimo, sembari tersenyum sebab tadi sudah pamit tapi tidak juga jadi pergi.


Yasmin langsung mencium punggung tangan ibu, memeluknya sebentar. Ibu juga membisikkan ucapan terima kasih di telinganya Yasmin. Sementara ayah dan pak Bimo berpelukan. Hangat sekali.


"Kami pamit. Assalamualaikum." ucap Yasmin dan ayahnya bersamaan.


"Yasmin cantik sekali ya, Qret." ungkap ibu, setelah ayah dan anak itu benar-benar hilang dari pandangan kami.


"Ibu suka dengannya?" tanyaku.


"Suka sekali. Dia juga pasti bisa jadi istri yang baik untukmu." tambah ibu.


"Berarti pilihan Qret benar dong?" cetusku, penuh dengan kebanggaan.


"Benar sekali. Seleramu tinggi. Seperti ayah!" ayah ikut nimbrung.


"Hem," ibu berdehem, memberi isyarat bahwa tidak nyaman membicarakan ini.


Kami melanjutkan pembicaraan tentang langkah selanjutnya menghadapi kasus ini. Lagi-lagi ibu mengungkapkan ketidak percayaan pada Riana dan paman Rudi. Kali ini aku yang dibuat tidak nyaman.


"Sudahlah Bu, Qret sudah bilang, jangan bahas ini lagi. Qret tidak mau kita berprasangka buruk pada siapapun." pintaku.


"Tuh kan mas, Qret tidak mendengarkan kata-katamu. Mentang-mentang pamannya itu yang membesarkannya, lalu ia mengabaikannya. Aku sadar punya salah padanya di masa lalu, tapi sekarang aku sungguh-sungguh ingin menebusnya, aku ingin ia bahagia!" ungkap ibu, dengan nada suara sendu.


"Ya Allah, Bu ...." aku tidak bermaksud seperti itu. Aku sudah melupakan dan merelakan apapun yang terjadi di masa lalu. Sekarang aku hanya memikirkan bagaimana kedepannya. "Maafkan Qret Bu." pintaku.


"Tidak ... tidak. Kamu tidak salah Qret. Tapi ibu yang salah. Ibu pantas tidak didengarkan. Surga juga tidak ada di bawah telapak kaki seorang ibu yang tega membuang putranya. Tapi asal kamu tahu nak, itu semua ibu lakukan demi kamu. Ibu hanya ingin melindungimu. Bukan bermaksud lain!" ibu mulai menangis.


"Bu," aku langsung buru-buru berlutut di hadapan ibu, lalu meminta ampunan karena berani membuat ibu sedih, bahkan menitikkan air mata. "Qret akan mendengarkan ibu." kataku.

__ADS_1


"Benar?" ibu memastikan.


"Iya ibu sayang!" aku menunjukkan keseriusan agar ibu percaya bahwa ia sangat berarti di hidupku.


Usai kesalah pahaman itu, kami kembali bercerita dengan akrab. Sesekali tertawa kecil mendengar lelucon yang dilontarkan ayah untuk menggoda ibu.


Tibalah giliranku untuk bicara, tetapi tidak bisa kulanjutkan karena melihat sepasang mata yang menatap tajam ke arah kami.


"Jim," panggilku


Ayah dan ibu ikut melihat ke arah Jimmi. Ayah langsung berdiri, sementara ibu menundukkan kepalanya, pertanda tidak nyaman dengan kehadiran Jimmi.


"Bu," aku menggenggam tangan ibu, memberi isyarat bahwa semua akan baik-baik saja. Setidaknya, aku meyakini bahwa Jimmi tidak sebar-bar ibunya.


"Jim, kemarilah nak!" panggil ayah.


Lelaki itu masih berdiri mematung, dengan tatapan Sinis ke arahku dan ibu. Kali ini aku menerima sikapnya yang seperti itu. Tidak ada anak yang akan tenang saja melihat ayahnya bersama perempuan lain.


"Jim, ayo kita bicara baik-baik." pinta ayah.


"Kenapa papa melakukan ini semua? Apa papa pikir, perempuan itu lebih baik dari mama? Papa tahu kan siapa Mama dan apa yang sudah ia lakukan untuk papa? Lalu mengapa papa mengkhianatinya? Kenapa pa? Jawab!" bentak Jimmi lagi.


"Jim, masalahnya tidak sesederhana yang kamu bayangkan!" ayah mulai terpancing emosi.


"Dasar tukang selingkuh! Kau pikir aku bisa percaya? Kau sudah menyakiti aku, Mama dan Jamm, lalu minta kami ngertiin kamu? Jangan harap!" ucap Jimmi dengan sinis. "Kau juga, bukannya kau hanya seorang pembantu? Bagaimana kau bisa menghancurkan keluarga kami? Kau benar-benar kacang lupa kulitnya. Kau mencari makan di rumah kami, setelah kenyang kau malah menusuk kami!"


"Jim, hentikan. Kau tidak berhak memaki istriku!" ayah mulai terpancing.


"Istri? Dia itu babu!" ejek Jimmi.

__ADS_1


"Sejak kapan kau bersikap kurang ajar seperti ini?" kata ayah dengan nada suara bergetar menahan amarah.


"Wah wah wah. Aku baru menyadari betapa buruknya selera papa. Menukar Mama yang lebih segala-galanya dengan seorang pembantu? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa jangan-jangan papa diguna-guna olehnya? Iya. Jawab!" kini Jimmi membentak ibu.


"Hati-hati kalau kau bicara!" aku bangkit dari duduk, hendak memukul Jimmi yang kurang ajar. Tetapi ditahan oleh ibu yang mulai meneteskan air mata. "Bu, jangan menangis. Kumohon. Ibu harus kuat, tidak perlu mendengarnya!" pintaku, sambil mengelus punggung ibu.


"Makanya, jangan cari gara-gara. Sudah bagus diberi makan, malah coba-coba berulah dengan menyolong tuan!" tambah Jimmi.


"Jaga bicaramu, Jim. Rahayu tidak pernah mencuri ayah dari siapapun. Ayah akui, ayah yang menyukainya sejak awal. Ia bahkan sudah menolak, tapi karena paksaanku, makanya ia tidak bisa melakukan apapun. Kau percaya atau tidak, ibumu tidak ada apa-apanya dibandingkan Rahayu. Ia hanya menang kaya. Tetapi tidak bisa menjadi istri yang baik untukku ...." ucap ayah.


"Sudah cukup. Jangan pernah membandingkan ibuku dengannya!" Jimmi menunjuk ibu.


"Tetapi begitulah kenyataan!" kata ayah.


"Papa benar-benar keterlaluan!" Jimmi semakin meledak-ledak. "Kalau mama memang ada kekurangan, kenapa papa tidak mencoba untuk membimbingnya?"


"Kau kira semudah itu untuk menaklukkan ibumu? Kau tahu kan bagaimana wataknya? Aku sudah menyerah Jimmi. Ia menikah denganku hanya untuk menjadikanku boneka hiasannya. Tetapi ia tidak pernah memposisikan diri layaknya seorang istri. Kau tahu, aku mencoba bertahan untuk setia selama beberapa waktu, tetapi ia tidak kunjung berubah!" ayah menjelaskan.


"Lalu mengapa tidak ceraikan Mama dahulu?" tanya Jimmi.


"Sudah beberapa kali kucoba. Tapi ibumu selalu punya cara untuk mengikatku. Ia benar-benar menyiksaku, Jim. Yang ia mau aku bekerja layaknya sapi perah di perusahaannya. Jika saham turun sedikit saja, maka ia akan memberiku pelajaran. Kau tahu, kan? Kau sering mendengarkan bagaimana jika ia sudah marah besar. Jim ...." kini, suara ayah sudah melemah.


Aku benar-benar melihat ada pilu di kedua netra ayah. Entah seperti apa keras istri sahnya, terapi yang jelas di hatiku terbersit niat besar untuk segera membantu ayah mendapatkan kebebasannya.


Rupanya, selain kemarahan verbal, ayah juga sering dipukuli, didorong dari lantai atas hingga pernah patah tulang. Lalu beberapa kali diancam dengan senjata api.


"Ibumu gila!" umpatku.


"Kau tidak perlu ikut campur!" ucap Jimmi.

__ADS_1


"Aku tidak membenarkan perbuatan ayah dan ibuku di awal, tetapi jika ibumu sekeras itu menyiksa ayah, ia berhak menentukan jalan bahagianya sendiri. Kalau kau terus-menerus membenarkan ibumu, jangan menyesal jika suatu hari ayah tidak ada lagi!" aku bicara sambil menatap Jimmi.


__ADS_2