
Suara alarm dari jam weker berbentuk masjid berbunyi dengan kencangnya. Entah sudah beberapa kalinya. Mungkin karena bosan mendengar weker berbunyi berulang kali karena distel mundur secara otomatis setiap lima belas menit, akhirnya seorang perempuan paruh baya memutuskan menggedor kamar putrinya.
"Jasmin ... Jas, Jasmin. Ayo bangun, sudah pagi. Atau kalau masih ingin tidur, matikan wekernya agar tidak membuat bising. Ibu mau baca buku terganggu dengan suara weker kamu yang nggak berhenti-henti itu!" seru Yasmin, sambil menggedor-gedor pintu kamar putrinya cukup keras.
"Ughhhh," Jasmin yang masih berbaring di atas sajadahnya menggeliat. Ia membuka pelan matanya yang masih mengantuk. Gadis itu sebenarnya sudah bangun sejak Subuh, tapi, selepas salat, ia selalu tidur lagi meski sudah sering diperingati oleh ibunya agar tidak tidur setelah salat. Tapi mau bagaimana lagi, matanya benar-benar mengantuk sebab batu tidur pukul tiga dini hari karena harus lembur mengerjakan tugas kampus. "Jam berapa ini? Kenapa ibu sudah heboh sepagi ini?" ucap Jasmin, ia meraih jam weker, lalu mata yang semula mengantuk langsung berubah jadi melotot melihat angka tujuh yang ditunjukkan jarum jam pendek, dan angka dua belas oleh jarum panjang.
Pukul tujuh pagi. Jasmin langsung melompat dari sajadah, buru-buru diambilnya handuk yang menggantung di depan pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar. Secepat kilat ia mandi, sebab jam delapan ada agenda penting yang tidak boleh dilewatkan.
Setelah selesai mandi kilat khusus, tentunya tanpa pakai sabun apalagi shampo, Jasmin buru-buru keluar, menyambar gamis berwarna merah hatu yang sudah disiapkannya sejak semalam.
Setelah gamis tersebut melekat di tubuhnya, ia semakin cantik sebab warna gamis tersebut sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Lengkap dengan kerudung yang warnanya senada.
Sudah pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Jasmin buru-buru turun setelah kembali memastikan bahwa tampilannya sempurna. Saking buru-burunya, ia hampir terjatuh di tangga, untung saja Jasmin salah satu atlit bela diri sehingga ia dengan sigap menyeimbangkan dirinya sendiri.
"Bu, aku berangkat ya!" seru Jasmin, sambil menyarungkan kaus kaki dan sepatu kets yang buru-buru ditukar dengan highels baru berukuran tujuh sentimeter, agar sepadan dengan pakaiannya.
"Kamu nggak sarapan dulu, Jas? Lalu sepatu itu, yakin mau pakai highels?" tanya ibunya.
"Sarapannya nanti saja. Sudah nggak keburu. Bisa telat nanti. Acaranya jam delapan lewat lima belas menit.
Kalau hels ini kan memang sengaja aku beli untuk acara hari ini. Kalau nggak dipakai sekarang terus kapan lagi?" Jasmin melirik ibunya. Lalu ia menyalami ibunya, pertanda pamit, sembari mengucapkan salam.
__ADS_1
Hari ini begitu penting untuk Jasmin sebab hari ini pelantikan suaminya. Acara pukul delapan lewat lima belas menit, tetapi seluruh tamu undangan harus hadir jam delapan tepat. Sementara jam di tangan Jasmin sudah menunjukkan pukul tujuh lebih tiga puluh lima menit.
Hanya tersisa dua puluh lima menit. Bagaimana caranya ia bisa sampai secepat itu ke gedung sementara normalnya, dengan taksi memakan waktu tiga puluh menit, itupun kalau tidak macet. Jakarta pagi ini bisa dipastikan sangat macet sekali.
"Bagaimana ini?" Jasmin ragu-ragu memencet nomor taksi online. Ia masih sangat ragu akan berangkat dengan taksi, bisa-bisa setelah acara berakhir barulah ia sampai.
Tin. Suara klakson mobil yang berhenti tepat di hadapan Jasmin. Siapa lagi pemiliknya kalau bukan Riu, tetangga sekaligus sahabat kecil Jasmin.
"Ayo naik!" panggil Riu, dari balik kemudi.
Jasmin masih berpikir. Meski ia dan Riu begitu dekat karena hubungan orang tua mereka, tetapi ia tetap menyadari bahwa Riu bukanlah mahramnya dan Jasmin tak mau mengambil resiko berduaan dengan lelaki itu sebab selain dikarang agama, suaminya pun akan komplen bila tahu Jasmin berduaan dengan Riu.
Jasmin kini tak perlu khawatir sebab ia tahu Riu akan bisa mengantarkannya tepat waktu sampai di lokasi sebab Riu selalu bisa diandalkan.
Lelaki yang juga berprofesi sebagai ustadz itu selalu bisa diandalkan oleh Jasmin dalam segala suasana.
"Kenapa kamu telat lagi?" tanya Riu, sambil melaju melewati jalan-jalan kampung yang tentunya lebih cepat sampai di tujuan.
"Biasa, aku ketiduran selepas subuh." jawab Jasmin. "Banyak tugas kuliah yang harus aku kerjakan."
"Suamimu tidak komplen?" pertanyaan dilanjutkan oleh Riu, sebab melihat Jasmin dari kaca spion menggelengkan kepalanya. "Suami yang aneh. Harusnya ia mendidikmu. Ku kira ilmu agamanya tinggi, ternyata sama saja."
__ADS_1
"Aneh bagaimana? Itu tandanya suaminya pengertian. Persis seperti ayahmu " sambung Riana. "Kau tahu Riu, kenapa ibu begitu mencintai ayahmu, karena ia bisa memahami ibu, tidak memaksa ibu harus jadi seperti yang dimau olehnya. Benar-benar jadi diri sendiri dan itu sangat nyaman sekali!"
"Bu, sesuatu yang buruk tidak harus dibenarkan. Membiasakan diri tidur setelah subuh itu tidak baik. Ada hadiahnya juga. Kalau tidak sanggup bangun pagi lebih baik jangan begadang. Kurang-kurangi itu Jasmin. Kau kan calon ibu, harus bisa memberikan contoh terbaik untuk anak-anakmu nanti!" kata Riu dengan tegas.
Jasmin tak menjawab, sebab ia terpikir tentang anak. Bukankah ia dan Ren punya janji, jika Ren sudah selesai sumpah menjadi dokter, maka barulah mereka punya keturunan. Berarti apa yang diharapkannya akan segera terwujud. Punya anak-anak dari Ren. Membayangkan hal tersebut membuat senyum Jasmin terkembang.
"Hei, bu Jasmin. Aku bicara denganmu. Bukannya dijawab malah senyum-senyum sendiri." Riu geleng-geleng kepala, sementara Jasmin tetap tidak peduli. Ia masih sibuk membayangkan wajah calon anak-anaknya nanti.
Pasti akan sangat menggemaskan sekali, mengingat ayahnya adalah turunan bule dengan mata berwarna biru.
"Kita sudah sampai!" teriak Riu. "Jasmin, kamu bisa turun sekarang!"
"Oh ya, terimakasih Riu. Kau memang pahlawanku!" seru Jasmin, ia kembali tersenyum lebar sebab sampai di lokasi tepat jam delapan. Aku harus pergi. Terimakasih banyak Riu, bibi Riana!" kembali Jasmin melambaikan tangannya, lalu ia bergegas turun, menuju pintu masuk para tamu undangan dengan agak kerepotan karena hels tujuh sentimeter ya.
"Mana undangannya?" tanya penerima tamu, kepada Jasmin.
"Itu ... undangan dibawa mertua saya." Jasmin berusaha menghubungi nomor ibu Alifa, tapi nomor tersebut sibuk, sehingga membuatnya kebingungan. "Bagaimana ini, tolong izinkan saya masuk karena salah satu dokter yang disumpah itu adalah suami saya!" pinta Jasmin.
"Mohon maaf kak, kalau tidak ada undangan tidak boleh masuk!" kata penjaga tersebut dengan tegas.
"Duh, bagaimana ini." Jasmin benar-benar gelisah. Tetapi ia tak mau beranjak sebab tak ingin kehilangan momen spesial Ren. "Tolonglah," pinta Jasmin, sambil memelas. Tetapi usahanya sia-sia karena penerima tamu tidak bisa mengabulkan sebab ia hanya petugas yang harus menjalankan peraturan. Sementara nomor ibu Alifa tak kunjung bisa dihubungi.
__ADS_1