GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
138. Tangis Penyesalan Yasmin


__ADS_3

"Assalamualaikum." ucap seseorang dari pintu depan. Lalu ia masuk ke dalam, meski tidak mendengarkan menjawab salamnya.


Sebenarnya aku menjawab salam dengan suara pelan bahkan nyaris tidak terdengar tanpa melirik sedikitpun pada sumber suaranya. Masih berpura-pura sibuk dengan gadget yang ku pegang padahal sudah selesai berbalas pesan dengan Deni.


"Mas sedang apa?" tanya Yasmin, setelah ia meletakkan tasnya. "Aku bawain batagor. Makan sama-sama yuk. Ini batagor yang mas suka, di depan kantorku."


Saat Yasmin hendak bangkit mengambil piring, aku segera berlalu menuju kamar. Lalu berbaring di kasur tanpa mempedulikan dia.


"Mas ... masih marah ya?" tanyanya lagi. Yasmin menyusulku ke kamar.


Aku masih tutup mulut. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Yasmin tidak kurespon sedikitpun. Biarkan saja supaya ia sadar.


"Mas, kalau mas masih marah silakan marah saja. Jangan diam seperti ini. Aku benar-benar merasa bersalah!" ungkap Yasmin. "Tolong maafkan aku." kini terdengar sedu sedan. Tetapi aku masih tetap tidak mempedulikan dia, kedua mataku tetap kupejamkan.


"Aku mohon maafkan aku mas!" ia kini menyentuh kakiku. Sesekali terasa air matanya menetes di kaki.


Tidak usah peduli Qret, biarkan ia berpikir bahwa aku benar-benar marah dan tidak suka dengan apa yang dilakukannya. Yasmin harus menyadari bahwa perbuatannya salah. Meski gaji yang diberikan kantornya besar tetap saja yang paling utama adalah Ridha dari suami. Tidak akan masuk surga seorang istri jika suaminya tidak Ridha padanya selagi tidak bertentangan dengan syariat.


Apa yang aku perintahkan bukanlah sesuatu hal yang salah. Aku mengkhawatirkan kondisi Yasmin yang belum pulih betul. Lagipula kondisi ekonomi kami masih baik-baik saja, kami masih bisa mencukupi kebutuhan pokok meskipun keuangannya tidak berlimpah-limpah. Jadi Yasmin belum wajib untuk keluar, kecuali memang kondisinya urgen.


"Mas!" Yasmin masih menangis.


Sebenarnya aku merasa terganggu jika ia terus memohon di kakiku. Tetapi kemarahanku lebih besar sehingga membuatku memutuskan untuk tidak peduli.


"Baiklah, kalau mas tetap diam saja, berarti mas sangat marah padaku. Aku menyadari bahwa kesalahanku sangat besar sebab tidak mendengarkan mas. Tetapi aku punya alasan melakukan semuanya. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga kecil kita sebelum akhirnya nanti kita punya bayi.


Maafkan aku mas. Aku benar-benar menyesal sudah membuat mas marah. Tetapi aku tidak bisa.mundue sekarang sebab tanggung jawab dan juga tujuan yang ingin aku capai.


Kalau mas memang sudah tidak ingin bicara denganku lagu, tidak apa-apa mas. Aku sadar tidak pantas berada di sisi mas saat ini. Jadi biar aku pergi saja. Setidaknya sampai marah mas reda. Aku akan pulang ke rumah supaya mas nyaman tidak perlu melihatku lagu lalu-lalang di hadapan mas. Maafkan aku mas." Yasmin bangkit dari tempat tidur, lalu ia beranjak pergi.


Untuk sesaat aku terdiam. Mencoba menelaah semua kejadian ini hingga akhirnya aku menyadari bahwa Yasmin akan pergi dari rumah. Segera saja aku bangkit dan menyusulnya. Untung saja Yasmin masih ada di bawah, ia sedang membereskan pakaiannya.

__ADS_1


"Yas, kau mau kemana?" tanyaku.


"Aku akan pulang mas. Untuk sementara tinggal di rumah supaya mas nyaman di sini tanpa ada aku." jawab Yasmin.


Aku dan Yasmin berdiri berhadap-hadapan. Air matanya berlinang. Mungkin ia sedih dengan perpisahan ini.


"Jangan pergi!" kataku. "Ini perintah!"


"Tapi mas ...." Yasmin menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada tapi-tapi. Kau tidak boleh pergi. Kalau kau masih melanggar kata-kataku maka aku tidak akan memaafkan kamu selamanya!"


"Mas!" Yasmin langsung menghambur dalam pelukanku.


"Ya,"


"Maaf."


"Tapi mas,"


"Ini demi keluarga kita. Aku tidak mau kau bekerja di luar. Kau tahu, aku sangat berusaha keras agar perekonomian kita membaik. Sekarang aku sudah bekerja dengan Deni dan penghasilanku tiap hari bertambah dua hingga tiga kali lipat. Jadi kau tidak perlu memikirkan perekonomian lagi."


"Tapi ini demi kedai mas."


"Termasuk kedai. Kau tahu, Allah maha kaya, kau tinggal minta padaNya. Lakukan yang terbaik yaitu mematuhi suamimu."


"Bolehkah menunggu sampai proyek ini aku selesaikan?"


"Ya Allah ... Yasmin." aku menarik hidungnya yang mancung hingga ia menjerit sambil tertawa kecil. "Kau harus ingat, hanya sampai proyekmu selesai. Mengerti!" kataku dengan tegas.


"Siap!" Yasmin memberikan hormat padaku. "Mas kerjasama dengan Deni ya?"

__ADS_1


"Ya. Aku merasa dengab adanya kerja sama ini penghasilan jadi lebih meningkat."


"Baguslah kalau begitu. Kalau Deni ikut bekerja dengan mas, berarti bisa membantu perekonomian Riana juga."


"Ya, itu juga tujuanku yang lainnya. Aku juga merasa bersalah padanya sebab uang tabungannya yang diberikan pada paman Rudi diberikan padaku."


"Sepertinya PR kita banyak."


"Tapi itu bukan alasan untuk memaksakan diri bekerja di luar, Yas. Mencari nafkah bukanlah kewajibanmu!"


"Aku hanya ingin membantu."


"Ya aku mengerti."


"Juga ... tentang mimpiku." Yasmin menghembuskan nafas. Ia menerawang jauh ke depan. Bisa kulihat ada sebuah kekecewaan terpancang dari kedua mata itu.


"Apa ada yang belum aku tahu darimu?" tanyaku, sambil menyentuh pekan pundaknya.


"Mas, dulu ibuku adalah seorang desainer ternama. Meskipun berasal dari pelosok desa. Desainnya yang indah membuat ibu diundang ke Jakarta, ditawari pekerjaan yang baik. Itulah awal mulanya ayah dan ibu bisa sampai ke Jakarta ini.


Ayah sangat mendukung karir ibu. Semua hal yang membuat ibu bahagia selalu ia wujudkan. Sampai ibu berada di puncak karirnya dan kala itu sedang hamil aku. Ibu sebenarnya sudah lelah, tetapi memaksakan diri hingga terjadilah pendarahan.


Saat melahirkan aku, kondisi ibu turun drastis. Hingga akhirnya ibu meninggal dunia setelah melahirkan aku.


Ibuku adalah seorang desainer dengan bakat alaminya. Ia memang tidak pernah punya pendidikan khusus di bidang desain, tapi ibu mendapatkan dari hobinya. Mungkin inilah yang dinamakan passion. Kemudian, diusia SMA aku menyadari bakat ibu menurun padaku. Aku bisa mendesain dan membuat jahitan yang indah tanpa pernah belajar sebelumnya.


Aku mulai menggeluti dunia tersebut. Harapanku, suatu hari ayah akan melihat bahwa aku punya bakat yang sama seperti ibu, jadi ayah bisa menyayangiku sebab diri ibu ada pada diriku juga. Tapi sebelum itu terjadi ternyata Tuhan sudah membuka hati ayah, ia menerima dan bisa menyayangiku seperti seorang ayah pada putrinya sendiri.


Aku memaksakan diri pertama memang ingin mengembalikan kedai mas. Aku merasa berhutang banyak pada mas. Aku tahu betapa berartinya kedai itu untuk mas, makanya aku ingin semua kembali lagi pada mas.


Lalu tentang mimpiku untuk mewujudkan apa yang pernah dicita-citakan oleh ibu, jadi desainer ternama di ibu kota." Yasmin menuturkan kembali kisah tentang ibunya.

__ADS_1


__ADS_2