
Sudah hampir pukul dua dini hari, ketika pintu ruangan di sebelah kamar yang kusukai jadi kantor dadakan di ketuk oleh ibu. Dari balik kaca aku memberi isyarat agar ibu langsung masuk saja.
"Kamu belum tidur, Qret?" tanya ibu, sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan mejaku.
"Belum Bu, masih ada yang harus Qret kerjakan." kataku, menghentikan sebentar pekerjaan, lalu menghadap ke arah ibu.
Dari dulu nenek Aini selalu mengajariku agar menjaga adab pada siapapun, terutama orang yang lebih tua dariku. Jika ada yang mengajakmu bicara, maka berhentilah sejenak untuk mendengarkan mereka.
Makanya aku kurang suka melihat anak-anak muda yang sibuk dengan gadget saat ada yang mengajaknya bicara. Itu sangat tidak sopan sekali.
"Istirahatlah dulu Qret, ini sudah dini hari. Nanti kamu malah jatuh sakit,"
"Sebentar lagi ya bu. Ibu sendiri belum tidur?" aku balik bertanya.
"Ibu baru saja bangun. Mau salat. Tapi melihat ruangan ini menyala, langsung ke sini dulu. Ibu kira tadi lupa mematikan lampu, ternyata kamu belum tidur." ungkap ibu.
"Iya Bu. Maaf kalau Qret mengganggu ibu."
"Memang kamu sedang mengerjakan apa, Qret?" tanya ibu.
"Ini Bu, Qret rencananya mau membuat usaha. Sekarang kan Qret sudah tidak bekerja lagi di bengkel. Maunya buat usaha sendiri saja. Siapa tahu ini jadi jalan rezeki, Qret. Makanya lagi ngitungin fiksasi keuangan supaya besok bisa mulai."
"Memang kamu mau buka usaha apa, Qret?"
"Qret mau buka warung atau sejenisnya bu. Jualan makanan pokok siap saji. Menunya sesuai makanan rumahan saja, mungkin nanti Qret nyontek resep ibu juga. Usahanya akan dibuka di tanah tempat rumah lama kita yang dulu terbakar. Lokasinya menurut Qret cukup strategis. Ada kampus swasta dan beberapa perkantoran di sekitar situ. Semoga saja warungnya laris manis."
Ibu mengaminkan rencananya tersebut. Sebelum keluar untuk salat, tidak lupa ibu mengingatkan agar segera istirahat setelah pekerja selesai.
***
Namanya kedai hijrah. Alasan pemilihan nama tersebut karena owner-nya sedang dalam proses hijrah dan berharap usaha ini menjadi sumber rezeki yang berkah. Banyak harapan yang aku letakkan di sana.
Kini, aku sudah berdiri di depan tanah tempat dulunya rumah milikku berdiri, tapi hangus terbakar api tanpa tahu siapa pelakunya hingga sekarang.
Keterbatasan dana membuatku harus memutar otak agar kedai ini bisa segera berdiri. Makanya kuputuskan untuk membangun sendiri kedai impian ini. Rencananya akan dibangun tiga ruangan; ruang utama tempat para tamu menikmati hidangan, ruangan kedua adalah dapur bersih dan dapur kotor, sedangkan ruangan ketiga yaitu tempat penyimpanan barang-barang juga sebuah kamar ibadah untuk melaksanakan salat atau sekedar mengaji.
__ADS_1
Kembali kertas kutuliskan, menghitung berapa jarak bangunan yang akan kubangun, lalu menulis bahan-bahan yang aku butuhkan.
Aku cukup mengerti banyak tentang pertukangan sebab duku di usia remaja pernah menjadi asisten paman Rudi saat bekerja sebagai pemborong bangunan.
Selesai. Semua kebutuhan untuk membangun sudah kucatat. Dengan mobil milik ayah, aku bergegas menuju toko bangunan, membeli semua kebutuhanku. Lalu segera pulang agar bisa segera bekerja.
"Qret, kau mau bertukang sendirian saja?" tiba-tiba paman Rudi sudah ada di sampingku.
"Eh, paman. Maaf tadi aku tidak tahu kalau Paman datang." kataku.
"Wajar, kau terlihat sangat serius sekali."
"Itu karena aku sudah tidak sabar ingin mendirikan kedainya sekarang juga, paman."
"Boleh paman membantumu?"
"Paman?"
"Iya. Kenapa kau melihatku dengan tatapan ragu seperti itu? Oh jangan kira aku tidak sanggup lagi bertukang. Usiaku masih terlalu muda untuk pensiun dari pertukangan sekarang, Qret!"
"Ahh kau ini Qret. Seperti tidak tahu pamanmu saja. Aku dibayar segelas kopi dan sekotak nasi ayam untuk kedua anakku saja sudah cukup."
"Ahh paman!" aku langsung merangkul erat paman. Tidak ada alasan untuk menolak bantuan seorang kepala tukang profesional seperti paman.
***
Baru beberapa menit aku dan paman Rudi bekerja, tiba-tiba ada serombongan pemuda sepantaran ku datang menghampiri. Siapa lagi kalau bukan Deni, Jack dan beberapa orang anak-anak rules. Sama seperti paman Rudi, kedatangan mereka untuk membantuku.
Rasanya sangat bersyukur sekali punya teman-teman sebaik mereka. Setia kawannya tidak diragukan lagi. Selalu ringan tangan untuk menolong.
Ruang utama telah jadi. Deni sengaja memberikan sentuhan warna putih dan abu-abu untuk memberikan kesan klasik. Untuk urusan desain, Deni memang jagonya. Ia tidak kalah dibanding mahasiswa lulusan desain, meskipun Deni belajar secara otodidak.
Matahari sudah berada di atas kepala. Aku dan teman-teman menghentikan pekerjaan. Kami istirahat sebentar. Ibu dengan dibantu oleh ayah dan Riana sudah menyiapkan makan siang.
Sebelum makan; aku, paman Rudi dan Deni salat terlebih dahulu, sedangkan yang lainnya langsung makan.
__ADS_1
Ada banyak doa yang ku panjatkan pada pemilik semesta ini, terutama untuk orang-orang yang disekelilingku.
Doa untuk ayah dan ibu. Doa untuk paman Rudi dan Riana. Dia untuk Deni dan Jack. Juga doa untuk teman-teman rules. Entah mengapa, besar sekali harapanku agar kelak bisa salat sama-sama dalam satu barisan bersama mereka. Masa lalu bisa saja buruk, tapi masa ini dan seterusnya haruslah lebih baik lagi.
***
Tiga hari lamanya kami bekerja sungguh-sungguh menyelesaikan pembangunan untuk kedaiku. Kini aku bisa tersenyum bangga melihat kedai hijrah sudah berdiri dengan gagah. Ada plang kedai juga yang dibuat langsung oleh Deni. Anak itu memang juara soal membuat yang seperti itu.
"Jadi bagaimana, Qret. Apa kau masih membutuhkan aku?" canda Deni kepadaku.
"Aku tidak akan meragukan kemampuan serta kesetiaanmu Den. Yang jadi masalah, aku tidak sanggup membayarnya sebanyak dulu." jawabku.
"Tidak masalah Qret. Kau hanya perlu memberiku bonus ilmu yang aku harapkan."
"Kalau begitu kau jadi pegawai ku, Den!"
"Sungguh?"
"Tentu saja! Tapi kau harus tetap memanggilku Qret, bukan lagi tuan!" aku dan Deni langsung bersalaman sebagai pertanda bahwa kami akan bekerja sama.
"Kenapa hanya Deni yang diterima. Bagaimana dengan aku?" Tanya Riana, sambil menyesap teh hangat yang dibuatkan ibu.
"Kau mau bekerja denganku juga?" Tanyaku.
"Tentu saja. Aku juga ingin merasakan punya gaji." ungkap Riana.
"Tapi maaf saja Riana. Aku sepertinya belum bisa menerimamu." kataku.
"Lho, kenapa?" Riana memandangku dengan tatapan heran.
"Kau masih belum sadar juga Riana, aku mencari orang yang siap bekerja keras. Kalau aku mempekerjakanmu, bisa-bisa kedaiku hancur. Kau tidak bisa apa-apa. Bahkan mencuci piring mu saja kau belum mampu." sifat iseng mulai keluar untuk mencandai Riana.
"Dasar tidak adil. Aku bisa belajar kok. Katakan saja kalau kau itu pilih kasih. Memang seberapa berharga Deni untukmu?" tanya Riana.
"Kalau urusan pekerjaan, aku lebih percaya dia!" kataku.
__ADS_1